Archive for Bahasa Indonesia

Verba

VERBA

A. Batasan dan Ciri Verba

Secara umum verba dapat diidentifikasi dan dibedakan dari kelas kata yang lain, karena cirri-ciri berikut.

  1. Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain.
  2. Verba mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.
  3. Verba, khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti ‘paling’. Verba seperti mati atau suka, misalnya, tidak dapat diubah menjadi *termati atau *tersuka.
  4. Pada umumnya verba tidak dapay bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan.

B. Verba dari Segi Perilaku Semantisnya

Tiap verba memiliki makna inheren yang terkandung di dalamnya.

  • Verba perbuatan

Adalah verba yang dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan “Apa yang dilakukan oleh subjek?”. Dan dapat dipakai dalam kalimat perintah.

Contoh :

mendekat , mencuri, membelikan, memukuli, mandi, memberhentikan, menakut-nakuti, naik haji.

  • Verba proses

Adalah verba yang dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan “Apa yang terjadi pada subjek?” dan tidak dapat dipakai dalam kalimat perintah.

Contoh :

mati, jatuh, mengering, mengecil, meninggal, kebanjiran, terbakar, terdampar.

  • Verba keadaan

Adalah verba yang mengandung makna keadaan umumnya tidak dapat menjawab kedua pertanyaan di atas dan tidak dapat dipakai untuk membentuk kalimat perintah. Verba keadaan menyatakan bahwa acuan verba berada dalam situasi tertentu.

Verba keadaan sering sulit dibedakan dari adjektiva karena kedua jenis kata itu mempunyai banyak persamaan. Satu ciri yang umumnya dapat membedakan keduanya ialah bahwa prefiks adjektiva ter- yang berarti “paling” dapat ditambahkan pada adjektiva, tetapi tidak pada verba keadaan.

Contoh :

Adjektiva                   : dingin + ter-  = terdingin (paling dingin)

sulit + ter-       = tersulit (paling sulit)

Verba keadaan           : suka               à

mati               à        tidak dapat ditambahkan ( ter- )

berguna         à

  • Verba pengalaman

Adalah verba yang merujuk pada peristiwa yang terjadi begitu saja tanpa kesengajaan.

Contoh :

ü  Dia medengar lagu itu à tidak sengaja

ü  Dia mendengarkan lagu itu à disengaja

Verba yang tergolong dalam verba pengalaman :

  • tahu, lupa, ingat, menyadari, melihat, dan merasa.

C. Verba dari Segi Perilaku Sintaktisnya

Perilaku sintaksis seperti ini berkaitan erat dengan makna dan sifat ketransitifan verba.

Ketransitifan verba ditentukan oleh dua factor:

(1) adanya nomina yang berdiri di belakang verba yang berfungsi sebagai objek dalam kalimat aktif dan,

(2) kemungkinan objek itu berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif.

a. Verba Transitif

Verba transitif adalah verba yang memiliki nomina sebagai objek dalam kalimat aktif, dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Perhatikan contoh berikut.

  • Ibu sedang membersihkan kamar itu.
  • Rakyat pasti mencintai pemimpin yang jujur.

Verba yang dicetak miring dalam contoh (1-2) adalah verba transitif. Masing-masing diikuti oleh nomina atau frasa nominal, yaitu kamar itu dan pemimpin yang jujur. Nomina atau frasa nominal itu berfungsi sebagai objek yang dapat juga dijadikan subjek dalam kalimat pasif seperti

  • Kamar itu sedang dibersihkan oleh ibu.
  • Pemimipin yang jujur pasti dicintai oleh rakyatnya.

1. Verba Ekatransitif

Verba ekatransitif adalah verba transitif yang diikuti oleh satu objek. Objek dalam kalimat yang mengandung verba ekatransitif dapat diubah fungsinya sebagai subjek dalam kalimat pasif. Contoh: membawa, membuktikan, mengerjakan, memperbesar, merestui.

2. Verba Dwitransitif

Verba dwitransitif adalah verba yang dalam kalimat aktif  dapat diikuti oleh dua nomina, satu sebagai objek dan satunya lagi sebagai pelengkap.

Objek dapat saja tidak dinyatakan secara eksplisit, tetapi yang tersirat di dalam kedua kalimat itu tetap menunjukkan adanya objek tadi. Jadi, kalimat Saya sedang mencarikan pekerjaan mengandung arti bahwa pekerjaan itu bukan untuk saya, tetapi untuk orang lain.

Sejumlah verba dwitransitif memiliki cirri semantic yang ‘membedakan fungsi objek dari pelegkap yang berupa nama, julukan, gelar, atau kedudukan’.

Sementara itu, ada pula verba yang dapat berstatus dwitransitif, tetapi dapat juga ekatransitif. Verba seperti memanggil dan menyebut, misalnya, dapat mempunyai satu atau dua nomina di belakangnya. Misalnya, Mereka memanggil kamu si Botak dan Mereka memanggil kamu (bukan saya).

Contoh verba dwitransitif: membawakan, mencarikan, menugasi, menyerahi, menyebut, menuduh.

3. Verba Semitransitif

Verba semitransitif ialah verba yang objeknya boleh ada dan boleh juga tidak. Contoh: makan, menulis menyimak.

b. Verba Taktransitif

Verba taktransitif adalah verba yang tidak memiliki nomina di belakangnya yang dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif.

Pelengkap tidak harus berupa nomina. Dengan demikian, verba taktransitif dapat dibagi atas dua macam, yaitu verba yang berpelengkap dan verba yang tak berpelengkap. Contoh verba taktransitif yang tak berpelengkap: berdiri, berlari, membaik, memburuk, membusuk. Contoh verba taktransitif yang berpelengkap wajib: beratapkan, berdasarkan, berlandaskan, bersendikan.  Jika pelengkap itu tidak selalu hadir, maka verba yang berpelengakap manasuka seperti itu disebut verba taktransitif berpelengkap manasuka. Contoh: beratap, berharga, berhenti, berpakaian, merasa.

c. Verba Berpreposisi

Verba berpreposisi ialah verba taktransitif yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu.

Di antara verba berpreposisi, ada yang sama atau hampir sama artinya dengan verba transitif.

Contoh:

Berbicara tentang = membicarakan

Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian verba berpreposisi. Pertama, orang sering memakai bentuk transitif, tetapi masih mempertahankan preposisinya sehingga terjadi kesalahan.

Kedua, dalam bahasa yang tidak baku, orang sering menghilangkan preposisi pada verba yang taktransitif.

Akan tetapi, jika verba berpreposisi yang bersangkutan diubah menjadi verba berafiks meng-, seperti mengetahui (untuk menggantikan tahu akan), maka bagian kalimat yang mengikutinya berubah fungsinya menjadi objek.

D. Verba dari Segi Bentuknya

Ada dua macam dasar yang dipakai dalam pembentukan verba: (1) dasar bebas ialah dasar yang tanpa afiks apa pun telah memiliki kategori sintaksis dan mempunyai makna yang mandiri, contoh: marah, darat, dan pergi (2) dasar terikat ialah dasar yang kategori sintaksis ataupun maknanya baru dapat ditentukan setelah diberi afiks, contoh: juang, temu, dan selenggara.

Berdasarkan kedua macam dasar di atas, bahasa Indonesia pada dasarnya mempunyai dua macam bentuk verba, yakni: (1) verba asal: verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis, dan (2) verba turunan: verba yang harus atau dapat memakai afiks, bergantung pada tingkat keformalan bahasa dan/atau pada posisi sintaktisnya.

Tidak adanya afiks ber- ataupun meng- dalam kalimat bergantung pada keformalan gaya bahasa yang dipakai. Jika gaya bahasanya formal, afiks ber- dan meng- dipertahankan; tetapi jika informal, afiks itu dapat ditiadakan.

  1. 1. Verba Asal

Seperti telah dinyatakan sebelumnya, verba asal ialah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks. Hal itu berarti bahwa dalam tataran yang lebih tinggi seperti klausa ataupun kalimat, baik dalam bahasa formal, maupun informal, verba macam itu dapat dipakai.

Makna leksikal, yakni makna yang melekat pada kata telah dapat pula diketahui dari verba semacam itu. Dalam bahasa Indonesia jumlah verba asal tidak banyak. Contoh: ada, bangun, cinta.

Ada juga sejumlah kata yang mempunyai cirri verba dan adjektiva sekaligus, misalnya hancur dan pecah.

  1. 2. Verba Turunan

Verba turunan adalah verba yang dibentuk melalui transposisi, pengafiksan, reduplikasi (pengulangan), atau pemajemukan (pemaduan).

Transposisi adalah suatu proses penurunan kata yang memperlihatkan peralihan suatu kata dari kategori sintaktis yang satu ke kategori sintaktis yang lain tanpa mengubah bentuknya. Dari nomina jalan, misalnya, diturunkan verba jalan.

Pengafiksan adalah penambahan afiks pada dasar.

Contoh:

Dasar                          Verba Turunan

beli                  →        membeli

darat                →        mendarat

Reduplikasi adalah pengulangan suatu dasar.

Contoh:

Dasar                          Verba Turunan

Lari                  →        lari-lari

Makan             →        makan-makan

Kata turunan yang dibentuk dengan proses reduplikasi dinamakan kata berulang. Dengan demikian, verba turunan seperti yang digambarkan di atasdapat juga disebut verba berulang. Seperti terlihat pada contoh di atas, pengafiksan dapat juga terjadi pada verba berulang,, misalnya, tembak-menembak dan menerka-nerka.

Pemajemukan adalah penggabungan atau pemaduan dua dasar atau lebih sehingga menjadi satu satuan makna.

Contoh:

Dasar                          Verba Turunan

Jual, beli          →        jual beli

Jatuh, bangun  →        jatuh bangun

Kata turunan yang terbentuk melalui pemajemukan disebut kata majemuk. Dengan demikian, verba turunan seperti digambarkan di atas dapat juga disebut verba majemuk. Pengafiksan dan reduplikasi dapat terjadi pada verba majemuk, misalnya memperjualbelikan, menghancurleburkan, dan jatuh-jatuh bangun.

  1. a. Proses Penurunan Verba

Ada empat macam afiks atau imbuhan yang dipakai untuk menurunkan verba: prefiks, sufiks, konfiks, dan –yang tidak begitu produktif lagi- infiks. Prefiks, yang sering juga dinamakan awalan, adalah afiks yang diletakkan di muka dasar. Sufiks, yang juga disebut akhiran, diletakkan di belakang dasar. Konfiks, adalah gabungan prefiks dan sufiks yang mengapit dasar dan membentuk satu kesatuan. Infiks, yang juga dinamakan sisipan, adalah bentuk afiks yang ditempatkan di tengah dasar.

Prefiks dan sufiks dapat membentuk konfiksjika dua syarat berikut terpenuhi. Pertama, keterpaduan antara prefiks dan sufiks bersifat mutlak, artinya kedua afiks itu secara serentak dilekatkan pada dasar kata.

Syarat kedua adalah bahwa pemisahan salah satu dari afiks itu tidak akan meninggalkan bentuk yang masih berwujud kata dan yang hubungan maknanya masih dapat ditelusuri.

Ada prefiks yang secara waqjib memang diperlukan untuk menurunkan verba. Dasar bebas seperti darat dan layar masing-masing perlu mendapat prefiks meng- dan ber- untuk mengubah statusnya sebagai nomina menjadi verba.

Urutan penurunan verba mengikuti kaidah urutan afiks berikut.

  1. Jika prefiks tertentu mutlak diperlukan untuk mengubah kelas kata dari dasar tertentu menjadi verba, prefiks itu tinggi letaknya dalam hierarki penurunan verba.
  2. Jika prefiks tertentu digunakan bersama-sama dengan sufiks tertentu dan kehadiran kedua afiks itu terpadu dan maknanya pun tak terpisahkan, dalam hierearki penurunan verba kedua afiks yang bersangkutan mempunyai tempat yang sama tingginya.
  3. Jika prefiks tertentu terdapat pada verba dengan dasar nomina yang bersufiks tertentu, prefiks itu lebih tinggi letaknya daripada sufiks.
  4. Jika prefiks tertentu digunakan bersama-sama dengan sufiks tertentu sedangkan hubungan antara sufiks dan dasar telah menumbuhkan makna tersendiri, dan penambahan prefiks itu tidak mengubah makan leksikalnya, maka tempat sufiks dalam hierarki penurunan verba lebih tinggi daripada prefiks.
  5. Jika prefiks tertentu digunakan bersama-sama dengan sufiks tertentu dan gabungan keduanya bukan merupakan konfiks tetapi menentukan makna leksikal, maka maknalah yang kita anggap menentukan hierarki pembentukan verba.
  6. b. Penggabungan Prefiks dan Sufiks

Dalam pembentukan verba bahasa Indonesia (a) prefiks ke- tidak dapat bergabung dengan sufiks –kan atau –i (kecuali dalam dasar verba ketahui); (b) prefiks meng-, per-, ter-, dan di- tidak dapat bergabung dengan sufiks –an; (c) prefiks ber- tidak dapat bergabung dengan sufiks –i; dan (d) prefiks ke- hanya dapat bergabung dengan sufiks –an, dan dengan –i pada  kata ketahui.

  1. c. Urutan Afiks

Di antara prefiks itu sendiri terdapat pula urutan yang harus dipatuhi jika dua prefiks terdapat pada satu dasar yang sama. Urutan yang pertam adalah prefiks meng- yang selalu menduduki posisi paling kiri. Kemudian menyusul prefiks per- atau ber- sehingga terjadi bentuk memper- dan member-.

  1. d. Morfofonemik

Proses berubahnya suatu fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal atau fonem yang mendahuluinya dinamakan proses morfofonemis.

a) Morfofonemik Prefiks meng-

Ada delapan kaidah morfofonemik untuk prefiks meng-.

  • Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /ə/, /k/, /g/, /h/, atau /x/ bentuk meng- tetap meng- /məŋ-/.
    • Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /l/, /m/, /n/, /ň/, /ŋ/, /r/, /y/, atau /w/, bentuk meng- berubah menjadi me-.
    • Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /d/ atau /t/, bentuk meng- berubah menjadi men- /mən-/.
    • Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /b/, /p/, atau /f/, bentuk meng- berubah menjadi mem- /məm-/.
    • Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /c/, /j/, /s/, dan /š/, bentuk meng- berubah menjadi meny- /məň/.
      • Jika ditambahkan pada dasar yang bersuku satu, bentuk meng- berubah menjadi menge- /məŋə/.
      • Kata-kata yang berasal dari bahasa asing diperlakukan berbeda-beda, bergantung pada frekuensi dan lamanya kata tersebut telah kita pakai.
      • Jika verba yang berdasar tunggal direduplikasi, dasarnya diulangi dengan mempertahankan peluluhan konsonan pertamanya.

b) Morfofonemik Prefiks per-

Ada tiga kaidah morfofonemik untuk prefiks per-.

  • Prefiks per- berubah menjadi pe- apabila ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /r/.
  • Prefiks per- berubah menjadi pel- apabila ditambahkan pada bentuk dasar ajar.
  • Prefiks per- tidak mengalami perubahan bentuk bila bergabung dengan dasar lain di luar kaidah 1 dan 2 di atas.

c) Morfofonemik Prefiks ber-

Ada empat kaidah morfofonemik untuk prefiks ber-.

  • Prefiks ber- berubah menjadi be- jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /r/.
  • Prefiks ber- berubah menjadi be- jika ditambahkan pada dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /ər/.
  • Prefiks ber- berubah menjadi bel- jika ditambahkan pada dasar tertentu.
  • Prefiks ber- tidak berubah bentuknya bila digabungkan dengan dasar di luar kaidah 1-3 di atas.

d) Morfofonemik Prefiks ter-

Ada tiga kaidah morfofonemik untuk prefiks ter-.

  • Prefiks ter- berubah menjadi te- jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /r/.
  • Jika suku pertama kata dasar berakhir dengan bunyi /ər/, fonem /r/ pada prefiks ter- ada yang muncul dan ada pula yang tidak.
  • Di luar kedua kaidah di atas, ter- tidak berubah bentuknya.

e) Morfofonemik Prefiks di-

Digabung dengan dasar apa pun, prefiks di- tidak mengalami perubahan bentuk.

f) Morfofonemik Sufiks -kan

Sufiks –kan tidak mengalami perubahan apabila ditambahkan pada dasar kata apa pun.

g) Morfofonemik Sufiks -i

Sufiks –i juga tidak mengalami perubahan jika ditambahkan pada dasar kata apa pun.

h) Morfofoneemik Sufiks -an

Sufiks –an tidak mengalami perubahan bentuk jika digabungkan dengan dasar kata apa pun.

E. Verba Majemuk

Verba majemuk adalah verba yang terbentuk melalui proses penggabungan satu kata dengan kata yang lain.

  1. 1. Verba Majemuk Dasar

Yang dimaksud dengan verba majemuk dasar ialah verba majemuk yang tidak berafiks dan tidak mengandung komponen berulang, serta dapat berdiri sendiri dalam frasa, klausa, ataun kalimat.

  1. 2. Verba Majemuk Berafiks

Verba majemuk berafiks ialah verba majemuk yang mengandung afiks tertentu.

Verba majemuk berafiks dapat dibagi menjadi tiga kelompok.

(a)    Verba majemuk berafiks yang pangkalnya berupa bentuk majemuk yang tidak dapat berdiri sendiri dalam kalimat disebut verba majemuk terikat.

(b)        Verba majemuk berafiks yang pangkalnya berupa bentuk majemuk yang dapat berdiri sendiri disebut verba majemuk bebas.

(c)         Verba majemuk berafiks yang komponennya telah berafiks terlebih dahulu.

  1. 3. Verba Majemuk Berulang

Verba majemuk dalam bahasa Indonesia dapat direduplikasi jika kemajemukannya bertingkat dan jika intinya adalah bentuk verba yang dapat direduplikasi pula.

F. Frasa Verbal dan Fungsinya

Verba dapat diperluas dengan menambahkan unsur-unsur tertentu, tetapi hasil perluasan ini masih tetap ada pada tataran sintakis yang sama.

  1. 1. Pengertian Frasa Verbal

Frasa verbal ialah satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan verba sebagai intinya tetapi bentuk ini tidak merupakan klausa.

  1. 2. Jenis-Jenis Frasa Verbal

Dilihat dari konstruksinya, frasa verbal terdiri atas verba inti dan kata lain yang bertindak sebagai penambah arti verba tersebut. Konstruksi seperti sudah membaik, akan mendarat, tidak harus pergi merupakan jenis frasa verbal yang berbentuk endosentrik atributif. Frasa verbal seperti makan dan minum serta menyanyi dan menari masing-masing mempunyai dua verba inti yang digabungkan dengan kata dan dan atau. Frasa seperti itu disebut frasa endosentrik koordinatif.

a. Frasa Endosentrik Atributif

Frasa verbal yang endosentrik atributif terdiri atas inti verba dan pewatas (modifier) yang ditempatkan di muka atau di belakang verba inti. Yang di muka dinamakan pewatas depan dan yang di belakang dinamakan pewatas belakang.

Wujud frasa endosentrik koordinatif sangatlah sederhana, yakni dua verba yang penghubung dan atau atau.

  1. 3. Fungsi Verba dan Frasa Verbal

Jika ditinjau dari segi fungsinya, verba (maupun frasa verbal) terutama menduduki fungsi predikat.

a. Verba dan Frasa Verbal Sebagai Predikat

Telah dikemukakan bahwa verba berfungsi terutama sebagai predikat atau sebagai inti predikat kalimat.

b. Verba dan Frasa Verbal sebagai Subjek

Pada umumnya verba yang berfungsi sebagai subjek adalah verba inti, tanpa pewatas depan ataupun pewatas belakang.

c. Verba dan Frasa Verbal sebagai Subjek

Dalam kalimat berikut verba dan frasa verbal dengan perluasannya berfungsi sebagai objek.

Dia mencoba tidur lagi tanpa bantal.

Dalam kalimat tersebut, yang berfungsi sebagai objek ialah verba tidur lagi, yang diikuti oleh keterangan tanpa bantal.

d.Verba dan Frasa Verbal sebagai Pelengkap

Verba dan frasa verbal beserta perluasannya dapat berfungsi sebagai pelengkap dalam kalimat.

e. Verba dan Frasa Verbal sebagai Keterangan

Dalam kalimat berikut verba dan perluasannya berfungsi sebagai keterangan.

Ibu sudah pergi berbelanja.

Dari contoh di atas tampak bahwa ada dua verba yang letaknya berurutan: yang pertama merupakan predikat dan yang kedua bertindak sebagai keterangan.

f. Verba yang Bersifat Atributif

Verba (bukan frasa) juga bersifat atributif, yaitu memberikan keterangan tambahan pada nomina.

g. Verba yang Bersifat Apositif

Verba dan perluasannya dapat juga bersifat apositif, yaitu sebagai keterangan yang ditambahkan atau diselipkan

ADJEKTIVA

1. BATASAN DAN CIRI ADJEKTIVA

Adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat.

Adjektiva dicirikan oleh kemungkinannya menyatakan tingkat kualitas dan tingkat bandingan acuan nomina yang diterangkannya.

2. ADJEKTIVA DARI SEGI PERILAKU SEMANTISNYA

Kelas adjektiva menunjukkan adanya dua tipe pokok: adjektiva bertaraf yang mengungkapkan suatu kualitas dan adjektiva tak bertaraf yang mengungkapkan keanggotaan dalam suatu golongan.

a. Adjektiva Bertaraf

Adjektiva bertaraf dapat dibagi atas:

  1. 1. Adjektiva Pemeri Sifat

Adjektiva pemeri sifat jenis ini dapat memerikan kualitas dan intensitas yang bercorak fisik atau mental.

  1. 2. Adjektiva Ukuran

Adjektiva ukuran mengacu ke kualitas yang dapat diukur dengan ukuran yang sifatnya kuantitatif.

  1. 3. Adjektiva Warna

Adjektiva warna mengacu ke berbagai warna.

  1. 4. Adjektiva Waktu

Adjektiva waktu mengacu ke masa proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung sebagai pewatas.

  1. 5. Adjektiva Jarak

Adjektiva jarak mengacu ke ruang antara dua benda, tempat, atau wujud sebagai pewatas nomina.

  1. 6. Adjektiva Sikap Batin

Adjektiva sikap batin bertalian dengan pengacuan suasana hati atau perasaan.

  1. 7. Adjektiva cerapan

Adjektiva cerapan bertalian dengan pancaindera, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman atau penghiduan, perabaan, dan pencitarasaan.

b. Adjektiva Tak Bertaraf

Adjektiva tak bertaraf menempatkan acuan nomina yang diwatasinya di dalam kelompok atau golongan tertentu.

3. ADJEKTIVA DARI SEGI BENTUKNYA

Dari segi bentuknya, adjektiva terdiri atas (a) adjektiva dasar yang selalu monomorfemis dan (b) adjektiva turunan yang selalu polimorfemis.

  1. a. Adjektiva Dasar (Monomorfemis)

Sebagian besar adjektiva dasar merupakan bentuk yang monomorfemis, meskipun ada yang berbentuk perulangan semu.

  1. b. Adjektiva Turunan

Adjektiva turunan polimorfemis dapat merupakan

(1)      hasil pengafiksan dengan prefiks se- dan ter-.

(2)      hasil pengafiksan dengan infiks atau sisipan –em- pada nomina, adjektiva yang jumlahnya sangat terbatas.

(3)      hasil penyerapan adjektiva berafiks dari bahasa lain seperti bahasa Arab, Belanda, dan Inggris.

a. Adjektiva Bersufiks –i, -iah, atau –wi, -wiah

Adjektiva yang bersufiks –i, -iah atau –wi, -wiah memiliki dasar nomina yang berasal dari bahasa Arab.

b. Adjektiva Bersufiks –if, -er, -al, -is

Adjektiva yang bersufiks –if, -er, -al, -is setakat ini diserap dari bahasa Belanda atau bahasa Inggris di samping nomina yang bertalian makna.

c. Adjektiva Bentuk Berulang

Subkategori adjektiva turunan yang berupa bentuk berulang dapat muncul jika berfungsi predikatif atau berfungsi adverbial. Predikat adjectival yang berbentuk ulang menandakan kejamakan, keanekaan, atau keintensifan. Perulangan itu terjadi melalui cara (1) perulangan penuh, (2) perulangan sebagian, dan (3) perulangan salin suara.

d. Adjektiva Gabungan Sinonom atau Antonim

Adjektiva yang mirip dengan bentuk berulang ialah yang merupakan hasil penggabungan sinonim atau antonym.

e. Adjektiva Majemuk

Adjektiva yang merupakan bentuk majemuk ada yang merupakan gabungan morfem terikat dengan morfem bebas dan ada yang merupakan gabungan dua morfem bebas (atau lebih).

  1. 1. Gabungan Morfem Terikat dan Bebas

Contoh adjektiva yang merupakan gabungan morfem terikat dan bebas: adikodrati, anasional, antarbangsa, dan antarkota.

  1. 2. Gabungan Morfem Bebas

Contoh adjektiva yang merupakan gabungan morfem bebas: baik budi, baik hati, bebas bea, bebas tugas, dan berat sebelah.

4. ADJEKTIVA DAN KELAS KATA LAIN

Ada golongan adjektiva yang dihasilkan dari verba dan nomina lewat proses transposisi. Transposisi, yang mengubah kelas kata tanpa pengubahan bentuk, dianggap penurunan dengan afiksasi nol.

  1. a. Adjektiva Deverbal

Ada sekelompok verba dalam bahasa Indonesia yang tanpa perubahan bentuk dapat berfungsi sebagai adjektiva. Verba-verba ini pada mulanya diturunkan dari kata dasar yang dibubuhi dengan afiks-afiks tertentu seperti (i) meng-, (ii) meng-kan, (iii) ter-, (iv) ber-.

  1. b. Adjektiva Denominal

Ada dua proses morfologis yang dapat dikemukakan di sini. Yang pertama ialah nomina yang berprefiks pe(r)- atau peng- seperti pemalas dan yang kedua ialah nomina yabg berkonfiks ke-an yang mengalami reduplikasi.

1. Adjektiva Bentuk pe(r)- atau peng-

Kelompok adjektiva ini berasal dari nomina yang mengandung makna ‘yang ber-…’ atau ‘yang meng-…’.

itu.

2. Adjiktiva Bentuk ke-an dengan Reduplikasi

Adjektiva yang berpola ke-an dengan reduplikasi memerikan sifat ‘mirip dengan’ apa yang diungkapkan oleh nomina yang menjadi dasar bentuk itu.

ADVERBIA

1. BATASAN DAN CIRI ADVERBIA

Dilihat dari tatarannya, Adverbia adalah kata yang menjelaskan verba, adjektiva, atau adverbia lain. Pada contoh berikut adverbial sangat menjelaskan verba mencintai, adverbial selalu menjelaskan adjektiva sedih, dan adverbia hampir menjelaskan adverbial selalu.

  1. Ia sangat mencintai istrinya.
  2. Ia selalu sedih mendengar lagu itu.
  3. Kami hampir selalu dimarahinya setiap pagi

Dalam tataran klausa, adverbia mewatasi atau menjelaskan fungsi-fungsi sintaktis. Umumnya kata atau bagian kalimat yang dijelaskan adverbia itu berfungsi sebagai predikat. Fungsi sebagai predikat ini bukan satu-satunya cirri adverbia karena adverbia juga dapat menerangakan kata atau bagian kalimat yang tidak berfungsi sebagai predikat.

Selain adverbia pada tataran frasa dan klausa, ada pula adverbia yang menerangkan seluruh kalimat. Jenis adverbia ini tidak terikat oleh unsur kalimat tertentu sehingga tempat atau posisinya dalam kalimat pun dapat berpindah-pindah.

Adverbia seperti sebenarnya, sesungguhnya, mestinya, agaknya, dan tentu saja juga mempunyai perilaku sintaktis yang sama. Karena perannya lebih cenderung merupakan penjelas kalimat, adverbia ini disebut juga keterangan kalimat.

2. ADVERBIA DARI SEGI BENTUKNYA

Dari segi bentuknya, perlu dibedakan adverbia tunggal dari adverbia gabungan. Adverbia tunggal dapat diperinci lagi menjadi adverbia yang berupa kata dasar, yang berupa kata berafiks, serta yang berupa kata ulang. Adverbia gabungan dapat pula diperinci menjadi adverbia gabungan yang berdampingan dan yang tidak berdampingan.

a. Adverbia Tunggal

Seperti sudah disebutkan di atas, adverbia tunggal dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu adverbia yang berupa kata dasar dan adverbia yang berupa kata berafiks.

  1. 1. Adverbia yang Berupa Kata Dasar

Adverbia yang berupa kata dasar hanya terdiri atas satu kata dasar. Contohnya : baru         hampir                              segera

  1. 2. Adverbia yang Berupa Kata Berafiks

Adverbia yang berupa kata berafiks diperoleh dengan menambahkan gabungan afiks se—nya atau afiks –nya pada kata dasar.

  1. Yang berupa penambahan gabungan afiks se—nya pada kata dasar:

a. Sebaiknya kita segera membayarkan pajak itu.

b. Mereka sesungguhnya tidak bersalah.

2. Yang berupa penambahan –nya pada kata dasar:

a. Agaknya gurauan itu membuatnya marah.

b. Kamu ini pintar juga rupanya.

3. Adverbia yang Berupa Kata Ulang

Menurut bentuknya, adverbial yang berupa kata ulang dapat diperinci lagi menjadi empat macam.

  1. Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar:

a. Lekas-lekas dia berdiri meninggalkan kami.

b. anak itu pelan-pelan membuka matanya.

2. Adverbia yang berupa penggabungan kata dasar dengan penambahan prefiks se-:

a. Setinggi-tinggi bangau terbang, jatuhnya ke kubangan juga.

b. Sesabar-sabar wanita, kalau marah berbahaya.

3. Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahan sufiks –an:

a. Kami memarahinya habis-habisan kemarin.

b. Gila-gilaan ia memacu motornya.

4. Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahan gabungan afiks se—nya:

a. Burung itu terbang setinggi-tingginya.

b. Saya sudah ikhlas seikhlas-ikhlasnya.

b. Adverbia Gabungan

Adverbia gabungan terdiri atas dua adverbia yang berupa kata dasar. Kedua kata dasar yang merupakan adverbia gabungan itu ada yang berdampingan dan ada pula yang tidak berdampingan.

  1. Adverbia yang berdampingan:

Lagi pula rumahnya baru jadi minggu depan.

  1. Adverbia yang tidak berdampingan:

Kamu hanya membuang-buang waktu saja.

3. ADVERBIA DARI SEGI PERILAKU SINTAKTISNYA

Perilaku sintaktis adverbia dapat dilihat berdasarkan posisinya terhadap kata atau bagian kalimat yang dijelaskan oleh adverbia yang bersangkutan. Atas dasar itu, dapat dibedakan empat macam posisi adverbia, yaitu:

  1. Adverbia yang mendahului kata yang diterangkan:

Ia lebih tinggi daripada adiknya.

  1. Adverbia yang mengikuti kata yang diterangkan:

Tampan nian kekasih barumu

  1. Adverbia yang mendahului atau mengikuti kata yang diterangkan:

Mahal amat harga barang-barang itu.

  1. Adverbia yang mendahului dan mengikuti kata yang diterangkan:

Saya yakin bukan dia saja yang pandai.

Berdasarkan lingkup strukturnya itu, terdapat perbedaan antara bentuk yang mengacu pada tataran frasa dan bentuk yang mengacu pada tataran kalimat. Bentuk yang mengacu pada tataran frasa merupakan adverbia intraklausal, sedangkan bentuk yang mengacu pada tataran klausa merupakan adverbia ekstraklausal.

4. ADVERBIA DARI SEGI PERILAKU SEMANTISNYA

Berdasarkan perilaku semantisnya, dapat dibedakan delapan jenis adverbia, yaitu:

  1. a. Adverbia Kualitatif

Adverbia kualitatif adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan tingkat, derajat, atau mutu. Yang termasuk adverbia ini adalah kata-kata seperti paling, sangat, lebih, dan kurang.

b. Adverbia Kuantitatif

Adverbia kuantitatif menggambarkan makna yang berhubungan dengan jumlah. Yang termasuk adverbial  ini, antara lain, kata banyak, sedikit, kira-kira, dan cukup.

c. Adverbia Limitatif

Adverbia limitatif adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan pembatasan. Kata-kata seperti hanya, saja, dan sekadar.

d. Adverbia Frekuentatif

Adverbia frekuentatif adalah makna yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan tingkat kekerapan terjadinya sesuatu yang diterangkan adverbia itu. Kata yang tergolong adverbia ini, misalnya, selalu, sering, jarang, dan kadang-kadang.

e. Adverbia Kewaktuan

Adverbia kewaktuan adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan saat terjadinya peristiwa yang diterangkan oleh adverbia itu. Yang termasuk adverbia kewaktuan ialah bentuk seperti baru dan segera.

f. Adverbia Kecaraan

Adverbia kecaraan adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan bagaimana peristiwa yang diterangkan oleh adverbia itu berlangsung atau terjadi. Yang termasuk adverbia kecaraan ini adalah bentuk-bentuk seperti diam-diam, secepatnya, dan pelan-pelan.

g. Adverbia Kontrastif

Adverbia kontrastif adalah adverbia yang menggambarkan pertentangan dengan makna kata atau dinyatakan sebelumnya. Yang termasuk dalam adverbia kontrastif adalah bentuk seperti bahkan, malahan, dan justru.

h. Adverbia Keniscayaan

Adverbia keniscayaan adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan kepastian tentang keberlangsungan atau terjadinya hal atau peristiwa yang dijelaskan adverbia itu. Yang termasuk adverbia keniscayaan adalah bentuk seperti niscaya, pasti, dan tentu.

5. ADVERBIA KONJUNGTIF

Adverbia konjungtif adalah adverbia yang menghubungkan satu klausa atau klausa atau kalimat yang lain. Posisinya dalam kalimat boleh dikatakan agak bebas. Akan tetapi, biasanya adverbia konjungtif digunakan pada awal kalimat.

Adverbia konjungtif menghubungkan dua kalimat yang utuh. Karena kedua kalimat itu terpisah, subjek pada kalimat kedua tetap dipertahankan meskipun subjeknya sama dengan kalimat sebelumnya.

6. ADVERBIA PEMBUKA WACANA

Jika adverbia konjungtif menghubungkan dua kalimat dan mengawali suatu kalimat baru, adverbia pembuka wacana pada umumnya mengawali suatu wacana. Hubungannya dengan paragraph sebelumnya didasarkan pada makna yang terkandung pada pada paragraph sebelumya itu.

7. ADVERBIA DAN KELAS KATA LAIN

Dilihat dari segi bentuknya, salah satu jenis adverbia adalah adverbia tunggal. Selain dasar yang berkategori adverbia (misalnya hampir menjadi hampir-hampir), bentuk dasar adverbia tunggal dapat pula berupa verba, adjektiva, nomina, dan numeralia. Berdasarkan kategori bentuk dasarnya itu, adverbia tunggal masing-masing disebut adverbia deverbal, adverbia deadjektival, adverbia denominal, dan adverbia denumeral.

a. Adverbia Deverbal

Adverbia deverbal dibentuk dari dasar yang berkategori verba. Adverbia kira-kira, sekiranya, terlalu, dan tahu-tahu masing-masing diturunkan dari verba tiba, kira, lalu,dan tahu.

b. Adverbia deadjektival

Adverbia deadjektival diturunkan dari adjektiva, baik melalui reduplikasi maupun afiksasi. Adverbia diam-diam, sebaiknya, sebenarnya, dan setinggi-tingginya masing-masing diturunkan dari dasar diam, baik, benar, dan tinggi yang berkategori adjektiva.

c. Adverbia Denominal

Adverbia denominal dibentuk dari dasar yang berkategori nomina. Adverbia rupanya, agaknya, dan malam-malam diturunkan dari kata rupa, agak, naga, dan malam yang berkategori nomina.

d. Adverbia Denumeral

Adverbia denumeral seperti halnya nomina, numeralia juga dapat membentuk adverbia. Adverbia dua-dua, setengah-setengah dan sedikit-sedikit, masing-masing diturunkan dari numeralia dua, setengah, dan sedikit.

Sumber : Buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia

Leave a comment »

Nomina

NOMINA

a.     Batasan dan Ciri Nomina

Nomina, yang sering juga disebut kata benda, dapat dilihat dari tiga segi yakni segi semantik, segi sintaktis, dan segi bentuk. Dari segi semantic, kita dapat mengatakan bahwa nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian. Dengan demikian, kata seperti guru, kucing, meja, dan kebangsaan adalah nomina. Dari segi sintaktisnya nomina mempunyai cirri-ciri tertentu.

  1. Dalam kalimat yang predikatnya verba, nomina cenderung menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap.
  2. Nomina tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak. Kata pengingkarnya ialah bukan.
  3. Nomina umumnya dapat diikuti oleh adjektiva, baik secara langsung maupun dengan diantarai oleh kata yang.
  4. b. Nomina dari segi perilaku semantisnya

Tiap kata mengandung fitur – fitur semantik yang secara universial melekat pada kata tersebut. Misal kata jeruk, mengandung fitur semantik yang mencakup warna , ukuran, berat, dan bentuk yang bundar.

  1. c. Nomina Dari Segi Perilaku Sintaktisnya

Nomina berfungsi sebagai inti atau poros frasa, nomina menduduki bagian utama, bila pewatas frasa nominal itu berada di muka, pewatas ini umumnya berupa numeralia atau kata tugas. Contoh :

lima lembar

seorang guru

beberapa sopir

Nomina juga digunakan dalam frasa preposisional, nomina bertindak sebagai poros yang didahului preposisi tertentu. Contoh :

Di kantor

Ke desa

Dari markas

Nomina tunggal  maupun bentuk frasa, nomina menduduki posisi subyek, obyek, pelengkap, keterangan.

  1. d. Nomina dari Segi Bentuknya

Dilihat dari segi bentuk morfologisnya, nomina terdiri atas dua macam, yakni (1) nomina yang berbentuk kata dasar dan (2) nomina turunan. Penurunan nomina ini dilakukan dengan (a) afiksasi, (b) perulangan, atau (c) pemajemukan. Secara skematis, nomina bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

1. Nomina Dasar

Nomina dasar adalah nomina yang hanya terdiri atas satu morfem. Berikut adalah beberapa contoh nomina dasar yang dibagi menjadi nomina dasar umum dan nomina dasar khusus.

a. Nomina Dasar Umum

gambar                                           tahun

meja                                                pisau

b. Nomina Dasar Khusus

adik                                                bawuk

atas                                                 farida

Dalam kelompok nomina dasar khusus dapat kita temukan bermacam-macam subkategori kata dengan beberapa fitur semantiknya.

1. Nomina yang diwakili oleh atas, dalam, bawah, dan muka mengacu pada tempat seperti di atas, di bawah, di dalam.

2. Nomina yang diwakili oleh Pekalongan dan Pontianak mengacu pada nama geografis.

3.Nomina yang diwakili oleh butir dan batang menyatakan penggolongan kata berdasarkan bentuk rupa acuannya secara idiomatic.

4. Nomina yang diwakili oleh Farida dan Bawuk mengacu pada nama diri orang.

5. Nomina yang diwakili oleh paman dan adik mengacu pada orang yang masih mempunyai hubungan kekerabatan.

6. Nomina yang diwakili oleh Selasa dan Kamis mengacu pada nama hari.

2. Nomina Turunan

Nomina dapat diturunkan melalui afiksasi, perulangan, atau pemajemukan. Afiksasi nomina adalah suatu proses pembentukan nomina dengan menambahkan afiks tertentu pada kata dasar. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam penurunan nomina dengan afiksasi adalah bahwa nomina tersebut memiliki sumber penurunan dan sumber ini belum tentu berupa kata dasar. Nomina turunan seperti kebesaran memang diturunkan dari kata dasar besar sebagai sumbernya, tetapi pembesaran tidak diturunkan dari kata dasar yang sama, besar, tetapi dari verba membesarkan.

3. Afiks dalam Penurunan Nomina

Pada dasarnya ada tiga prefiks dan satu sufiks yang dipakai untuk menurunkan nomina, yaitu prefiks ke-, per-, dan peng- serta sufiks –an. Karena prefiks dan sufiks dapat bergabung, seluruhnya ada tujuh macam afiksasi dalam penurunan nomina:

(1) ke-                  (4) –an

(2) per-               (5) peng–an

(3) peng-             (6) per—an

4. Morfofonemik Afiks Nomina

Morfofonemik afiks nomina sama dengan morfofonemik afiks verba. Misalnya, bila dalam verba prefiks meng- berubah menjadi men- waktu ditempelkanpada suku yang dimulai dengan fonem /d/ (meng- + dapat → mendapat), maka hal yang sama juga terjadi pada nomina: peng- berubah menjadi pen- bila diikuti /d/ (peng- + datang → pendatang).

  1. e. Morfologi dan Semantik Nomina Turunan

Kata dasar tertentu dapat langsung menjadi nomina dengan memakai afiks tertentu, yang menyatakan orang yang atau alat untuk (verba). Berikut adalah penurunan nomina dengan berbagai afiks.

  1. Penurunan Nomina dengan ke –

Yang dapat disebutkan ialah ketua, kehendak, kekasih, dan kerangka.

Ada banyak nama tumbuhan dan binatang yang dimulai dengan  ke- misalnya kelapa,kemiri,dan kepiting.

  1. Penurunan nomina dengan pel-, per-, dan pe-.

Nomina yang di turunkan dengan perl- hanya terbatas dengan satu kata dasar. Contoh: ajar yang menurunkan nomina pelajar.

Nomina yang di turunkan dengan fungsi predikat.per- itu banyak, karena nomina dengan per- berkaitan erat dengan verba yang berafiks ber-. Namun, dalam pertumbuhannya banyak nomina per- yang tidak lagi mempertahankan / r /- nya sehingga hanya muncul dengan pe- saja. Yang masih mempertahankan adalah pertapa                  bertapa

Nomina lain yang berkaitan dengan verba ber- tetapi muncul dengan bentuk pe-. Misalnya petani bertani

  1. PenurunanNomina dengan peng-

Alomorf pem-, pen-, peny-, pe-, peng- dan penge- sangat produktif dalam bahasa kita. Sumber untuk penurunan ini adalah verba atau adjektiva. contoh penyanyi : orang profesinya menyanyi.

Pengawas : orang yang mengawasi

Penakut : orang yang sifatnya mudah takut

Penggali : alat untuk atau oaring yang menggali

  1. Penurunan nomina dengan – an

Umumnya di turunkan dari sumber verba walaupun kata dasarnya adalah kelas kata lain. Arti umum yang dinyatakan oleh nomina dengan – an, ialah ‘ hasil tindakan , atau sesuatau yang dinyatakan oleh verba’. Contoh :

anjuran : hasil menganjurkan atau sesuatu yang di anjurkan

kiriman : hasil mengirim atau sesuatu yang dikirimkan

Disamping makna di atas ada juga nomina dengan –an yang berkaitan dengan makna lokasi. Contoh :

Tepian : tempat menepi

Awalan : yang ditempatkan di awal

  1. Penurunan nomina dengan peng-an

Pada umumnya peng-an diturunkan dari verba dengan meng- yang berstatus transitif. Apabila ada dua verba dengan kata dasar yang sama dan salah satu verba ini berstatus transitif , sedangkan yang lain berstatus taktransitif maka verba transitiflah yang menjadi sumber penurunan nomina dengan peng-an. Misalnya dalam bahasa Indonesia kita menemukan verba bersatu dan menyatukan. Nomina penyatuan tidak di turunkan dari verba taktransitif bersatu tetapi dari verba transitif menyatukan. Kesimpulan ini di ambil Karen 1. Adanya keterkaitan makna antara peyatuan dan menyatukan, yakni bahwa penyatuan adalah suatu perbuatan menyatukan.

2. Nominaliasai ini mempunyai keselarasan sintaksis

Penurunan nomina dengan peng- an sangat produktif, sehingga boleh di katakan setiap ada verba transitif pasti dapat di turunkan menjadi nomina peng-an. Keproduktifan proses ini bisa juga memunculkan nomina yang belum lazim di pakai, tetapi penutur asli dapat menerka dengan tepat apa makna bentukan ini. Misal kita memiliki adjektiva hitam dan verba menghitamkan. Seperti halnya dengan nomina peng-, nomina dengan peng-an juga mempunyai alomorf  : peng-an, pen-an, pem-an, penge-an, meny-an, pe-an.

  1. Penurunan Nomina dengan per-an

Nomina ini diturunkan dari verba, tetapi umumnya dari verba taktransitif dan berawalan ber-. Contoh :

Perjanjian ← Berjanji

Pergerakan← Bergerak

Melihat keajekan korelasi bentuk nomina per-an dengan verba ber-, nomina perlawanan dan permintaan. Mungkin berkaitan dengan verba masa dahulu berlawanan dan berminta, tetapi kini orang lebih menkaitkannya dengan verba melawan dan meminta.

Makna umum nomina dengan per-an adalah

  1. hal, keadaan, atau hasil yang dinyatakan oleh verba ( Contoh : pergerakan – hal atau keadaan bergerak )
  2. perbuatan yang dinyatakan oleh verba ( Contoh : perkelahian – perbuatan berkelahi )
  3. hal yang berkaitan dengan kata dasar ( Contoh : perikanan – yang berkaitan dengan ikan )
  4. tempat yang dirujuk oleh verba atau kata dasar ( Contoh : perkotaan – tempat mendirikan kota / berkota )

Disamping kedua cara ini adapula nomina yang diturunkan dengan pe-an seperti pegunungan dan pedesaan. Dalam kasus lain, bentuk peng-an bersaing dengan bentuk per-an tanpa ada perbedaan makna

g.. Penurunan nomina dengan ke-an

Nomina ini diturunkan dari sumber verba, adjektiva, atau nomina. Makna nomina ini bergantung pada nomina yang di pakai. Contoh :

Kepergian – hal yang berhubungan dengan pergi

Kehadiran – hal yang berhubungan dengan hadir

Sama halnya ke-an dengan verba, ke-an dengan adjektiva juga bermakna “hal atau keadaan yang berhubungan dengan yang dinyatakan adjektiva”.

Contoh : kekosongan – keadaan kosong

Keberanian – keadaan berani

Bila sumbernya adalah nomina, maknanya merujuk pada: (a) keabstrakan atau (b) kantor atau wilayah kekuasaan. Cirri keabstrakan ni sebenarnya terdapat juga pada ke-an dengan adjektiva. Contoh : kebangsaan – hal mengenai bangsa

h.. Kontras antarnomina

Karena kata dasar dapat diberi afiks yang berbeda-beda, banyak nomina perlu benar-benar mempertimbangkan perbedaan bentuk dan maknanya. Contoh : Penyerahan – perbuatan menyerahkan

Dari contoh di atas tampak bahwa beberapa nomina dengan dasar yang sama dalam bahasa kita menimbulkan makna yang berbeda-beda. Karena makna sufiks –an adalah hasil yang dinyatakan verba (lukisan, “hasil lukisan” ) maka hasil menyerahkan harusnya adalah serahan. Tidak muncuknya suatu bentuk yang potensial dpat juga karena adanya bentuk lain yang kebetulan telah dipakai di dalam masyarakat.

  1. i.      Nomina dengan dasar Polimorfemis

Ada dua kelompok kata turunan yang waktu diturunkan menjadi nomina tidak menanggalkan prefiksnya, tetapi menjadi sumber bagi pengimbuhan yang lebih lanjut. Contoh :

berangkat        keberangkatan                        pemberangkatan       -

  1. Penurunan nomina dengan –el-, -er-, -em-, dan -in-.

Penurunan nomina dengan memakai infiks, yakni imbuhan yang disisipkan, tidaklah produktif lagi. Contoh : tunjuk – telunjuk, sambut – serambut, kuning – kemuning, kerja – kinerja.

  1. Penurunan nomina dengan –wan/-wati

Nomina dengan afiks –wan/–wait mengacu kepada (a) orang yang ahli dalam bidang tertentu, (b) orang yang mata pencaharian atau pekerjaannya  dalam bidang tertentu. Pada masa lampau alomorf –wan diletakkanpada dasar yang  berakhir dengan fonem /i/, seperti terlihat pada kata budiman dan seniman.

Alomorf –wati dipaki untuk mengacu pada perempuan. Misalnya : karyawati, karyawan . kaidah untuk menentukan bentuk mana yang dipakai bersifat idiomatis.

  1. Penurunan nomina dengan –at/ -in dan –a/ -i

Nomina ini diturunkan sufiks –at/ -in yang maknanya berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin atau jumlah. Contoh :

Muslim         muslimat         muslimin

  1. Penurunan nomina dengan –isme, -(is)asi, -logi, dan –tas

Nomina ini dipungut dari bahasa asing, ;ambat laun menjadi produktif sehingga dianggap layak. Contoh :

Komunisme             sukuisme

NUMERALIA

Numeralia atau kata bilangan adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya wujud (orang, binatang, atau barang) dan konsep. Frasa seperti lima hari, setengah abad, orang ketiga, dan beberapa masalah mengandung numeralia, yakni masing-masing, lima, setengah,ketiga, dan beberapa.

Ada dua macam numeralia: (1) numeralia pokok, yang memberi jawab atas pertanyaan “Berapa?” dan (2) numeralia tingkat yang memberi jawab atas pertanyaan “Yang keberapa?”. Numeralia pokok juga disebut numeralia cardinal, sedangkan numeralia tingkat disebut pula numeralia ordinal.

a. Numeralia Pokok

Numeralia pokok adalah bilangan dasar yang menjadi sumber dari bilangan-bilangan yang lain. Numeralia pokok terbagi menjadi numeralia:

  1. 1. Numeralia Pokok Tentu

Numeralia pokok tentu mengacu pada bilangan pokok, yakni:

0         -         nol                 5          -           lima

1         -         satu                6          -           enam

2         -         dua                7          -           tujuh

3         -         tiga                8          -           delapan

4         -         empat                        9          -           sembilan

Di samping numeralia di atas, ada pula numeralia lain yang merupakan gugus. Untuk bilangan di antara sepuluh dan dua puluh dipakai gugus yang berkomponen belas.

  1. 2. Numeralia Pokok Kolektif

Numeralia pokok kolektif dibentuk dengan prefiks ke- yang ditempatkan di muka nomina yang diterangkan.

Jika tidak diikuti oleh nomina, biasanya bentuk itu diulang dan dilengkapi dengan –nya.

Numeralia kolektif dapat dibentuk juga dengan cara berikut.

a. Penambahan prefiks ber- atau kadang-kadang se- pada nomina tertentu setelah numeralia.

b. Penambahan prefiks ber- pada numeralia pokok dan hasilnya diletakkan sesudah pronomina persona kamu, kami, kita, atau mereka.

c. Pemakaian numeralia yang berafiks ber- dan yang diulang.

d. Pemakaian gugus numeralia yang bersufiks –an.

3. Numeralia Pokok Distributif

Numeralia pokok distributive dapat dibentuk dengan cara mengulang kata bilangan. Artinya ialah (1) ‘…demi…’, (2) ‘masing-masing’.

Kata (se)tiap, tiap-tiap, dan masing-masing termasuk numeralia distributive juga. (se)tiap atau tiap-tiap mempunyai arti yang sangat mirip dengan masing-masing, tetapi kata masing-masing dapat berdiri sendiri tanpa nomina, sedangkan (se)tiap dan tiap-tiap tidak.

4. Numeralia Pokok Tertentu

Numeralia pokok tertentu mengacu pada jumlah yang tidak pasti dan sebagian besar numeralia ini tidak dapat  menjadi jawaban atas pertanyaan yang memakai kata tanya berapa. Yang termasuk ke dalam numeralia tertentu adalah banyak, berbagai, pelbagai, semua, seluruh, segala, dan segenap. Numeralia pokok tertentu ditempatkan di muka nomina yang diterangkannya.

5. Numeralia Pokok Klitika

Di samping numeralia pokok yang telah disebutkan, ada pula numeralia lain yang dipungut dari bahasa Jawa Kuna, tetapi numeralia itu umumnya berbentuk proklitika. Jadi, numeralia macam itu dilekatkan di muka nomina yang bersangkutan.

6. Numeralia Ukuran

Bahasa Indonesia mengenal pula beberapa nomina yang menyatakan ukuran, baik yang berkaitan dengan berat, panjang-pendek, maupun jumlah. Misalnya, lusin, kode, meter, liter, atau gram. Nomina ini dapat didahului oleh numeralia sehingga terciptalah numeralia gabungan.

b. Numeralia Tingkat

Numeralia pokok dapat diubah menjadi numeralia tingkat. Cara mengubahnya adalah dengan menambahkan ke- di muka bilangan yang bersangkutan. Khusus untuk bilangan satu dipakai pula istilah pertama.

c. Numeralia Pecahan

Tiap bilangan pokok dapat dipecah menjadi bagian yang lebih kecil yang dinamakan numeralia pecahan. Cara membentuk numeralia itu ialah dengan memakai kata per- di antara bilangan pembagi dan penyebut. Dalam bentuk huruf, per- ditempelkan pada bilangan yang mengikutinya. Dalam bentuk angka, dipakai garis yang memisahkan kedua bilangan itu.

d. Frasa Numeralia

Umumnya, frasa numeralia dibentuk dengan menambahkan kata penggolong. Contoh:

Dua ekor (kerbau)

Lima orang (penjahat)

Tiga buah (rumah)

Sumber : Buku Tata Bahasa Baku Indonesia

Leave a comment »

Analisis Lagu Laskar Pelangi- Nidji

Dilihat dari segi penafsiran semiotik, pembacaan Heuristik lagu ini adalah sebagai berikut.

Mimpi (angan-angan yang dicita-citakan) adalah kunci (alat untuk membuka) untuk (membuka harapan) menaklukan dunia. (demi mencapai mimpi itu) berlarilah (terus) tanpa (menghiraukan rasa) lelah, (dan jangan berhenti) sampai engkau (mampu) meraihnya (mimpi). Laskar (kelompok pejuang) pelangi (yanh kuat) tak kan (pernah) terikat (terkalahkan oleh ) waktu. Bebaskan mimpimu di angkasa (yang luas, maka kau akan dapat) me-warnai bintang di jiwa.

Menarilah dan terus tertawa (agar hidup selalu bahagia) walau (keadaan) dunia (tempat kita menjalani hidup) tak seindah surga. (tapi kita telah diberi kesempatan hidup di dunia ini, maka) bersyukurlah pada (Tuhan Yang Maha) Kuasa (atas kasih saying dan cinta yang diberikan kepada) kita di dunia (hingga) selamanya. Cinta kepada hidup (dan kehidupan), (akan) memberikan senyuman abadi. Walau hidup (yang kita jalani) kadang tak adil. Tapi (perasaan) cinta (dapat) me-lengkapi kita. Jangan (pernah) berhenti mewarnai (membuat) jutaan mimpi di bumi.

Jika teks tersebut dibuat secara wajar dengan dihilangkan tanda kurung nya, maka pembacaan lagu tersebut adalah sebagai berikut :

Mimpi, angan-angan yang dicita-citakan adalah kunci, alat untuk membuka harapan menaklukan dunia. Demi mencapai mimpi itu  berlarilah terus tanpa menghiraukan rasa lelah, dan jangan berhenti sampai engkau mampu meraihnya. Laskar, kelompok pejuang pelangi yang kuat tak kan pernah terikat, terkalahkan oleh waktu. Bebaskan mimpimu di angkasa yang luas, maka kau akan dapat me-warnai bintang di jiwa.

Menarilah dan terus tertawa agar hidup selalu bahagia walau keadaan dunia tempat kita menjalani hidup tak seindah surga. Tapi kita telah diberi kesempatan hidup di dunia ini, maka bersyukurlah pada Tuhan Yang Maha Kuasa atas kasih sayang dan cinta yang diberikan kepada kita di dunia hingga selamanya. Cinta kepada hidup dan kehidupan, akan memberikan senyuman abadi. Walau hidup yang kita jalani kadang tak adil. Tapi perasaan cinta dapat me-lengkapi kita. Jangan pernah berhenti mewarnai dan membuat jutaan mimpi di bumi.

Sedangkan dari segi penafsiran Hermeneutik dapat diperoleh parafrasa sebagai berikut :

Lagu ini memotivasi dan memberi semangat. Melalui lagu ini pengarang berusaha menginspirasi dan menunjukkan bahwa ”mimpi” bisa menjadi ”kunci” yang bisa digunakan untuk membuka harapan-harapan kita untuk ”menaklukan dunia” yang kemudian menjadi penyemangat untuk meraih cita-cita  yang diinginkan. Maka, di sini pengarang memberi inspirasi agar setiap kita harus punya mimpi. Gantungkan mimpi dan cita-citamu setinggi langit. Mimpi itu dapat memberi semangat dan harapan unttuk dapat hidup lebih baik (bebaskan mimpimu di angkasa, warnai bintang di jiwa). Betapa pun sulitnya hidup yang dijalani, dengan punya mimpi kita akan selalu merasa bahagia dan dengan penuh tawa menikmati hidup ini, walau dunia tak seindah surga. Dengan tidak lupa selalu bersyukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas apa yang telah Ia beri. Cintailah hidup walaupun hidup itu tidak sesuai dengan yang diharapkan. Jangan pernah berputus asa untuk meraih mimpi itu.

Dari keseluruhan lagu dapat diambil kata kunci/matriksnya yaitu ”mimpi”. Karena kata ”mimpi” ini berhubungan dengan kata/kalimat-kalimat yang lain dan menjadi pusatnya. Kata ”mimpi” menjadi ”kunci” (alat yang digunakan untuk membuka sesuatu) selanjutnya menjadi patokan untuk kita ”berlari tanpa lelah” serta ”menari dan tertawa.

Rasa ”syukur” terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa atas anugrah, cinta dan kekuatan yang diberikan sehingga ”dunia” yang tak seindah ”surga” ini akan terasa indah dan menyenangkan jika kita punya semangat hidup untuk mengejar mimpi itu. Akhirnya ”mimpi” itu pula yang menjadi ”tujuan utama” karena mimpi memberi kekuatan dan harapan hingga kita kita tidak akan berputus asa untuk mencapai mimpi itu. Di tengah ”hidup” yang kadang ”tak adil” kita harus tetap punya mimpi bahkan ”jutaan mimpi”.

Dilihat dari makna yang terkandung lagu ”laskar pelangi” ini memiliki hubungan intertekstual dengan lagu ”Aku dan Bintang” Peterpan. Berikut lirik lagu tersebut :

Aku dan Bintang

Lihat ke langit luas

Bersama musim terus berganti

Tetap bermain awan merangkai mimpi dengan khayalku

Selalu bermimpi dengan hariku

Pernah kau lihat bintang

Bersinar putih penuh harapan

Tangan halusnya terbuka

Coba temani dekati aku

Selalu terangi gelap malamku

Dan rasakan semua bintang

Memanggil tawamu

Terbang ke atas

Tinggalkan semua hanya aku dan bintang

Yang terindah mesti terlupa

Dan yang selalu terangi dunia

Mereka-reka

Hanya aku dan bintang

By: Peterpan

Makna pada bait pertama lagu ini senada dengan bait pertama lagu laskar pelangi. Dalam laskar pelangi disampaikan bahwa kekuatan mimpi itu dapat menaklukan dunia dan dengan semangat kita harus meraihnya. Sedangkan dalam lagu ini desampaikan bahwa apapu yang terjadi dan bagaimana pun keadaanya kita harus tetap punya mimpi. Keduanya menyatakan pentingnya mempunyai mimpi.

Namun ada sedikit perbedaan, karena dalam lagu ”Aku dan Bintang” peterpan dengan jelas mengungkapkan bahwa mimpi itu memberikan harapan (pernah kau lihat bintang, bersinar putih penuh harapan) dan harapan itu selalu menemani dan menyemangati hidup kita (tangan halusnya terbuka, coba temani dekati aku, selalu terangi gelap malamku) di sini mimpi diibaratkan dengan ”bintang”.

Pada dasarnya makna kedua lagu ini sama. Kalau laskar pelangi temanya lebih menekankan pada perjuangan, kerja keras, dan semangat yang harus ditunjukkan untuk mencapai mimpi. Sedangkan ”Aku dan Bintang” peterpan temanya lebihi pada keharusan seseorang (aku) memiliki mimpi, karena mimpi itu akan memberi harapan dan menerangi dunia kita. Bahkan dengan bermimpi sejenak kita bisa melupakan beban hidup yang berat.

Namun tema keduanya tidak terlepas dari kata ”mimpi” yang dalam lagu peterpan dikiaskan dengan bintang. Kedua lagu tersebut memiliki gagasan yang sama yaitu bahwa mimpi adalah harapan yang membuat hidup kita bersemangat dan tak berputus asa.

***

Lagu Laskar Pelangi  merupakan salah satu original soundtrack film berjudul sama “Laskar Pelangi” yang diangkat dari sebuah novel best seller karya Andrea Hirata. Lagu ini diciptakan oleh Giring Nidji.

Secara struktural pemilihan kata/diksi pada lagu ini cukup tepat dan sesuai. Ditambah dengan penggunaan sarana-sarana kepuitisan seperti citraan dan majas.

Dalam lagu ini pengarang menggunakan citraan gerak ”berlarilah tanpa lelah”, ”menarilah dan terus tertawa” membuat maknanya lebih ekspresif dan melalui citraan tersebut pengarang ingin agar pendengar merasakan semangat/spirit lagu ini. Lalu beberapa majas perbandingan juga digunakan pengarang, seperti: majas metafora dalam kalimat mimpi adalah kunci untuk menaklukan dunia. Kata mimpi disini diibaratkan sebuah benda yang bisa dijadikan kunci untuk membuka sesuatu, dan ”sesuatu” di sini dapat diartikan harapan. Selain itu juga terdapat majas personifikasi dalam kalimat ”laskar pelangi tak kan terikat waktu”, ”warnai bintang di jiwa”. Kemudian majas hiperbola ditunjukkan melalui kata menaklukan dunia (hanya dengan sebuah mimpip), juga dalam frasa bebaskan mimpimu di angkasa. Lalu kalimat walau dunia tak seindah surga merupakan majas perbandingan simile, dimana pengarang membandingkan keadaan dunia dengan keadaan surga yang tidak ada yang pernah mengetahuinya.

Sarana retorika berupa penggunaan rima juga terdapat dalam lagu ini, sehingga memperkuat dan mempertegas kelirisan lagu karena iramanya mengalun oleh pengulangan bunyi yang teratur, rima tersebut terdapat dalam bait:

Menarilah dan terus tertawa

Walau dunia tak seindah surga

Bersyukurlah pada yang Kuasa

Cinta kita di dunia

Selamanya….

Gaya bahasa pengarang lebih bersifat mengajak, menasehati, dan mengintruksi. Misal penggunaan –lah dalam kata ”menarilah” dan ”bersyukurlah” yang jugs berarti mengingatkan kita. Sedangkan bahasa yang digunakan cukup sederhana dengan penggunaan kata-kata konkret yang tidak terlalu sulit dipahami maknanya sehingga cukup memudahkan pendengar menangkap pesan dari lagu ini. Beberapa kata konkret dalam lagu ini anatara lain:

- Kunci            – Engkau          – Waktu           – Bintang         – Bumi

- Dunia            – Pelangi          – Angkasa        – Surga

Dengan demikian dapat diungkapkan tema dari lagu Laskar Pelangi ini adalah perjuangan hidup dan semangat untuk meraih mimpi dan cita-cita. Melalui tema dan lirik yang mudah dimaknai amanat positif pun dapat tersampaikan dan mudah ditangkap pendengar.

Nada lagu/musik yang mudah dihafal dan diikuti tercipta dengan harmonis hingga suasana yang terbangun pun sangat mempengaruhi psikologi pendengar, terutama menimbulkan semangat (seperti yang disampaikan dalam kutipan komentar). Ditambah lagi musiknya dipadukan dengan suara mandolin semakin membuat lagu ini unik.

Keberhasilan lagu tidak terlepas dari penciptanya yang memang telah berpengalaman dan memiiki nama di blantika musik tanah air. Lagu-lagunya yang lain pun berkualitas, membuatnya (Nidji) menjadi band papan atas dan mempunyai banyak penggemar. Selain dari segi tema, isi, dan musik yang berkualitas, popularitas band/penyanyinya juga turut mempengaruhi naiknya lagu ini di pasaran.

Leave a comment »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.