<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dynee's Weblog</title>
	<atom:link href="http://dynee.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dynee.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 29 Jun 2009 13:43:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dynee.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dynee's Weblog</title>
		<link>http://dynee.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dynee.wordpress.com/osd.xml" title="Dynee&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dynee.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Laskar Pelangi&#8230;on commented!</title>
		<link>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/laskar-pelangi-on-commented/</link>
		<comments>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/laskar-pelangi-on-commented/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 13:43:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dynee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dynee.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Laskar Pelangi Laskar pelangi menceritakan kisah hidup Ikal, seorang anak asli Belitong, serta teman-teman juga kehidupan masa kecilnya. Ikal anak asli Belitong yang sudah besar kembali ke kampung halamannya, dalam perjalanan ia mengenang kembali kehidupan masa kecilnya. Belitong adalah pulau yang indah dan merupakan salah satu pulau terkaya berkat timah yang melimpah di sana. Namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=52&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Laskar Pelangi<br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Laskar pelangi menceritakan kisah hidup Ikal, seorang anak asli Belitong, serta teman-teman juga kehidupan masa kecilnya. Ikal anak asli Belitong yang sudah besar kembali ke kampung halamannya, dalam perjalanan ia mengenang kembali kehidupan masa kecilnya.</p>
<p>Belitong adalah pulau yang indah dan merupakan salah satu pulau terkaya berkat timah yang melimpah di sana. Namun meskipun negeri ini telah merdeka warga Belitong sendiri belum dapat menikmati kekayaan tanahnya. Saat itu di sana berdiri sebuah perusahaan tambang terbesar yaitu PN Timah yang karenanya terdapat sekat-sekat yang mengkotak-kotakkan dan harapan dan semangat, tapi tidak bagi kami, terutama semangat seorang anak pesisir yang berusaha memperoleh pendidikan.</p>
<p>Angka 10 menjadi angka keramat bagi kami semua, pagi itu. Karena SD Muhamadiyah Gantong membutuhkan 10 orang murid untuk membuka kelas baru. Murid nomor satu yang datang menghampiri bu Muslimah bernama Lintang anak pesisir dari Tanjung Pelumpang yang datang sendiri karena ayahnya pergi melaut.</p>
<p>Di sekolah itu terdapat 2 guru luar biasa yaitu Pak Harfan dan Bu Muslimah yang juga menaruh harapan murid-muridnya genap 10 orang. Tidak hanya bagi mereka, hari ini merupakan penentuan bagi kami anak-anak miskin yang bisa sekolah dengan murah apakah akan mendapat pendidikan atau menjadi buruh timah dan kuli kopra. Sedangkan di bagian lain di balik tembok pemisah itu SD PN Timah banyak menerima murid baru.</p>
<p>Kami harus menunggu sampai pukul 11. kalau tidak ada 10 orang murid maka kami tidak jadi sekolah begitulah isi surat keputusan penilik sekolah pusat. Ketika tepat pukul 11 murid ke-10 tak kunjung datang, Pak Harfan sebagai kepala sekolah SD Muhammadiyah Gantong dengan berat hati mulai memberikan sambutan duka. Namun ia tetap berterima kasih kepada para orang tua yang telah mengantar anaknya untuk sekolah di SD tersebut, karena dengan begitu mereka telah membantu menyelamatkan pendidikan di SD Islam tertua dan satu-satunya itu. Sekolah yang tidak hanya menjadikan pelajaran budi pekerti sebagai tuntutan kurikulum tetapi menjadi pedoman hidup yang nantinya akan menjadi ahlakul karimah. Namun karena mengetahui murid tak memenuhi syarat dengan berat hati kelas baru tidak jadi dibuka.</p>
<p>Walau begitu bu Muslimah bersikeras menunggu dan mengatakan akan mencari satu murid lagi, karena ini adalah hari pertama ia jadi guru. Lalu akhirnya murid ke sepuluh datang, anak itu adalah Harun seorang anak istimewa yang menjadi penyelamat kami dan memberi senyuman bahagia bagi bu Mus dan terus menemani hari-hari kami tahun-tahun berikutnya.</p>
<p>(5 tahun kemudian) Siang itu ketika anak-anak lain sedang asyik bermain perosotan dengan pelepah pisang, Ikal berada di tempat lain bersama Borek. Borek memberi tahu Ikal cara untuk membesarkan otot badannya dengan bola tenis, supaya menjadi laki-laki idaman kaum hawa dan ia juga minta dipanggil Samson. Akhirnya Ikal dipaksa Samson dengan menekankan bola tenis itu ke dada Ikal, tapi karena kesakitan Ikal pun berontak dan kabur, lari menghampiri teman-temannya yang pada saat itu sedang berebut giliran bermain. Ketika mengetahui murid-muridnya tidak ada di kelas Bu Mus pun memanggil mereka. Tapi karena panggilannya tidak dihiraukan ia pun meminta pertanggungjawaban Kucai sebagai ketua kelas. Ketika ditegur Kucai mengeluhkan kelakuan teman-temannya yang ia anggap seperti anak setan karena susah diatur. Ia pun mengatakan ingin mengundurkan diri jadi ketua kelas. Namun dengan nasehat bu Mus yang mengatakan menjadi pemimpin merupakan tugas yang mulia, serta peringatan dari Sahara yang mengatakan kepemimpinannya akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat, kekesalan Kucai pun mereda. Akhirnya anak-anak itu pun masuk kelas dengan iming-iming cerita nabi Nuh dari pak Harfan. Saat cerita berlangsung Ikal mendapat kesempatan untuk membalas Samson dengan ejekan ”<em>nda de gunanya otot gede kau Son, kalau kau tak pandai berenang!”</em></p>
<p>Semalam hujan, karena bocor kelas jadi becek dan dijadikan kandang kambing, anak-anak sibuk membersihkan kelas mereka. Tapi kemudian pak Harfan menyruh bu Mus untuk mengajak mereka belajar di luar, biar yang membersihkan kelas pak Harfan dan pak Bakri. Tapi akhirnya pak Harfan membersihkan kelas itu seorang diri, ia menutupi dinding yang bolong dengan poster Rhoma Irama, menjemur kapur yang basah, menopang sekolah yang sudah mulai doyong dengan 2 batang pohon besar, serta membetulakan kursi/meja yang rusak. Sampai akhirnya datang pak Zulkarnaen, orang yang ikut peduli dengan sekolah itu. Beliau khawatir sekolah yang selama 5 tahun bertahan dengan 10 orang murid itu akan ditutup, karena tidak ada legi murid. Tapi pak Harfan mengatakan tidak usah khawatir, ia akan mempertahankan sekolah ini. Karena di sekolah ini diajarkan agama dan budi pekerti, dan penilaian bukan semata-mata kecerdasan akademik tapi dari kepedulian (hati). Pak Zul pun memiliki rasa kepedulian itu, yang ia dapat dari sekolah sejenis di Yogya. Masalah biaya dan gaji tidak perlu dikhawatirkan, karena itu pak Zul mengatakan akan berusaha membantu dengan memberikan beras untuk guru di sana.</p>
<p>Sementara itu burid-nurid bersama bu Mus bermain di sebuah danau, lalu mereka melihat pelangi yang indah. Lintang dengan kepintarannya menjelaskan pada teman-temannya bagaimana terjadinya pelangi itu hingga menghasilkan cahaya mejikuhibiniu. Ketika itulah bu Mus memanggil kesepuluh murid itu ”Laskar Pelangi”.</p>
<p>Bu Mus menyambung hidupnya dari hasil menjahit, karena tidak ada gaji. Tapi ia tetap mempertahankan sekolah itu. Begitu pula dengan Lintang, ia begitu semangat pergi ke sekolah walaupun setiap hari ia harus mengurus ketiga adik perempuannya ketika sang ayah melaut. Sering pula perjalanannya ke sekolah termbat oleh buaya.</p>
<p>Dalam kelas berhitung hari ini bu Mus mengajari muridnya menghitung menggunakan lidi, sedangkan di SD PN, pak Mahmud mengajari murid-muridnya menghitung dengan kalkulator. Saat itu pula bu Mus menyadari kecerdasan Lintang. Ketika bu Mus mengajukan pertanyaan Lintang menjawab pertanyaan itu dengan cepat dan benar tanpa menggunakan lidi. Dalam hal pergaulan anak-anak itu tidak membeda-bedakan, semuanya sama. Karena itu mereka pun memaklumi keadaan Harun, bahkan Sahara dengan setia selalu mendengarkan cerita Harun tentang kucing belang tiganya. Lain lagi dengan Mahar, anak yang memiliki bakat di bidang seni, ia tidak pernah lepas dari radionya, yang baterainya di carger dengan dijemur di bawah terik matahari.</p>
<p>Kali ini lain dengan tahun-tahun sebelumnya, ulangan SD Muhamadiyah diatukan dengan SD PN sesuai keputusan dati pusat, itulah yang disampaikan pak Harfan. Bu Mus yang mendengarnya kurang setuju, tapi tidak ada yang bisa dilakukan. Pada saat itu pak Hrfan juga berkata agar bu Mus jangan terbebani tanggung jawab terhadap sekolah Muhamadiyah itu karena ayahnya terlihat di foto bersma pak Harfan. Tapi bu Mus sama sekali tidak merasa terbebani, ia mengatakan mimpinya adalah jadi guru bukan menjadi istri saudagar. Tak hanya bu Mus murid-muridnya pun protes, mereak mempersoalkan sendal dan pakaian mereka yang jelek jika dibandingkan dengan anak-anak SD PN yang berseragam. Namun mereka hanya sebatas bisa mengeluh.</p>
<p>Saat ulangan pun tba di sana mereka terasa terasing. Tapi semua berjalan lancar, hanya saja ada guru yan mengejek Harus karena ia hanya menggambar kucing di kertas ulangannya. Bu Mus pun khawatir dengan ulangan Harun, jadi dia akan membuatkan Harun rapot khusus.</p>
<p>Pada suatu siang, seorang murid bernama Flo tanpa ragu menceritakan kisah suku asmat pada beberapa orang anak SD Muhamadiyah. Salah satunya Mahar, karena mereka tertarik akhirnya Flo memberikan majalah tersebut.</p>
<p>Hari ini pak Harfan memberikan pelajaran sejarah islam tentang 313 tentara islam yang mengalahkan ribuan tentara Quraisy bersenjata lengkap. Tentara islam menang karena kekuatan iman, keyakinan serta keberanian. Karena itu kita harus punya keyakinan dan keberanian untuk bercita-cita. Ingat hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya. Begitulah yang disampaikan pak Harfan. Hari ini juga Ikal mendapat tugas membeli kapur ke manggar bersama Lintang. Di sana di toko Sinar Harapan Ikal melihat kuku yang menurutnya paling indah sedunia. Kuku itu milik seorang gadis yang oleh Koko penjual kapur dipanggil Aling. Perjalanan jauh ke manggar tak terasa melelahkan lagi, karena kuku-kuku indah itu. Hingga selanjutnya Ikal akan senang hati jika disuruh membeli kapur.</p>
<p>Sementara itu di ruang kepala sekolah SD Muhamadiyah, pak Bakri menyatakan pengunduran dirinya karena a mendapat tawaran mengajar dari SD N 1 Bangka. Bu Mus kesal pada keputusan pak Bakri, hingga ada sedikit perdebatan di sana. ”<em>Bakri, tuga kite memanglah berat, walaupun dengan muri siki tapi kite punya kewajiban memberi pendidikan pada anak-anak tak mampu ini.”</em> Namun pak Bakri tidak mengubah keputusannya malah mengatakan SD Muhamadiyah sudah tidak dipedulikan orang lagi dan tidak ada yang dapat dibanggakan dari SD yang tidak punya prestasi apa-apa. Orang –orang lebih senang anaknya menjadi kuli mencari nafkah untuk keluarganya ketimbang sekolah. Setelah mendengar perkataan pak Bakri bu Mus langsung pergi tapi kemudian dikejar oleh pak Harfan. Pak Harfan meyakinkan bu Mus, walaupun mereka hanya berdua mereka bisa mempertahankan sekolah itu. Justru mereka harus lebih kerja keras jangan putus asa untuk membuktikan bahwa sekolah islam ini ada dan menunjukkan bahwa anak-anak miskin pun berhak untuk belajar.</p>
<p>Ikal baru tahu kalau ternyata Akiong adalah sepupu Aling. Lalu dia meminta bantuan Akiong untuk bertemu dengan Aling. Mahar bilang Ikal sedang jatuh cinta, dan ia pun menyanyikan sebuah lagu berjudul bunga seroja untuk Ikal. Namun percuma Lintang yang tahu perasaan Ikal mengatakan lagu Mahar tak mempan karena Ikal sedang keracunan kuku. Akhirnya malam minggu Ikal bertemu Aling, ia memberikan puisi-puisi untuk Aling. Alinh menyukai pisinya dan menyalinnya di buku hariannya, maka tambah berbunga-bungalah hati Ikal.</p>
<p>Karnaval 17-an hampir tiba, kali ini SD Muhamadiyah Gantong memutuskan untuk mengikuti karnaval tersebut. Bu Muslimah dan pak Harfan menunjuk Mahar sebagai ketua kelompok, tapi mengingatkan kalau mereka tidak punya dana. Dengan kepercayaan diri yang tinggi Mahar berkata kepada gurunya itu. ”<em>Tenang saja Pak. Serahkan semua pada Mahar dan alam!”</em></p>
<p>Berhari-hari Mahar mencari ide untuk karnaval itu, ia menabuh gendang dan kadang menari-nari sendiri, berteriak bahkan sering bertengger di pohon. Sampai anak-anak yang lain mengatakan ia sudah gila dan Mus telah salah pilih orang. Sedangkan SD PN sebagai juara bertahan tengah melakukan persiapan dan latihan drumband. Akhirnya siang itu Mahar masuk ke kelas dengan memakai hiasan kepala dari daun dan membawa gendang, lalu menyuruh Ikal buka baju. Tiba hari karnaval murid-murid SD Muhamadiyah berkostum suku Asmat san menampilkan tarian khas sana. Tanpa sepengetahuan yang lain diam-diam Mahar telah menyiapkan senjata rahasia berupa kalung buah aren yang membuat gatal. Sehingga anak-anak yang lain akan menari dengan hebat karena kegatalan. Di luar dugaan penampilan mereka disukai, sampai akhirnya mereka menjadi juara karnaval tahun ini.</p>
<p>Tiba-tiba muncul sekelompok orang yang mencari-cari dan memanggil-manggl Flo. Esoknya Flo pindah ke SD Muhamadiyah. Pembawaannya yang mistis mulai mempengaruhi anak yang lain. Karena itu pula bu Mus merasa khawatir Flo membawa perubahan pada murid-muridnya. Kekhawatirannya terbukti dengan menurunnya nilai mereka terutama Mahar dan Flo, padahal sebentar lagi mereka ujian. Sementara itu Ikal tengah patah hati karena Aling pergi ke Jakarta dengan hanya meninggalkan sebuah kotak untuknya. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut Flo dan Mahar mengajak teman-temannya mengunjungi dukun Tuk Bayan Tula di Pulau Lanun. Tapi hasil yang mereka dapat hanya berupa nasihat, kalau ingin sukses harus berusaha sendri dan rajin belajar.</p>
<p>Hari ini Belitung dan SD Muhamadiyah berduka karena Pak Harfan meninggal dunia. Bunga-bunga berjatuhan dan cuaca mendung hingga akhirnya hujan turun seakan ikut mengantar kepergian kepala sekolah SD Muhamadiyah itu. Setelah Pak Harfan pergi bu Mus tidak mengajar lagi. Namun, laskar pelangi tetap bersekolah dan mereka belajar sendiri. Setelah beberapa hari berkat nasihat pak Zul, bu Mus akhgirnya kembali mengajar dengan semangat baru mereka bangkit kembali.</p>
<p>SD Muhamadiyah akan mengikuti lomba cerdas cermat yang akan menjadi wakil adalah Ikal, Lintang dan Mahar. Mereka berhasil menjadi juara walaupun awalnya Lintang yang datang terlambat telah membuat semua tegang.</p>
<p>Namun setelah peristiwa bersejarah itu Lintang tidak kunjung muncul di sekolah. Setelah berhari-hari tidak ada kabar, akhirnya ada surat dari Lintang yang isinya mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal dan ia akan datang ke sekolah untuk berpamitan dengan teman-teman. Dan hari ini Lintang datang ke sekolah untuk berpamitan Bu Mus dan laskar pelangi yang lain merasa sedih dan kehilangan. Anak secerdas Lintang terpaksa harus berhenti sekolah karena mengemban tanggung jawab terhadap adik-adiknya yang telah yatim piatu.</p>
<p>Beberapa tahun kemudian (Belitung 1999), suasana Belitung sudah berubah, pabrik-pabrik dan penambangan milik PN Timah nampak sudah tidak terawat karena perusahaan tersebut telah bangkrut. Lalu nampaklah Ikal dewasa yang kemudian bertemu kembali dengan Lintang. Mereka bercerita dan mengenang masa kecil, Lintang pun memperlihatkan putrinya kepada Ikal, dan Ikal pun memberi tahu kalau ia mendapat beasiswa ke Prancis. Tak lama setelah itu kartu pos Ikal bergambar menara Eifel sampai ke Lintang dan ia pajang bersama piagam cerdas cermatnya.</p>
<p><strong>Sutradara,</strong> tim pendukung produksi yang dipilih cukup kompak dan kompeten di bidangnya. Karena sebelumnya mereka juga pernah bekerja sama dalam film tentang anak-anak seperti ”Petualangan Sherina” dan ”Untuk Rena” dan terlepas dari berbagai kekurangannya film ini cukup sukses di pasaran. Namun pengungkapan ide/gagasan masih terasa ragu-ragu, walaupun mungkin inti cerita tersampaikan tapi gagasan-gagasan pendukung inti cerita tersebut terasa dipaksakan seperti adegan kepergian Aling, Samson yang memberitahu Ikal untuk membesarkan badannya dengan menggunakan bola tenis, atau adegan mereka ketika berkunjung ke Tuk Bayan Tula terasa dipaksakan masuk dalam cerita tapi seperti dikejar durasi untuk meringkasnya. Lalu gambaran bu Mus yang seorang guru SD kurang kuat karena dalam film Bu Mus tidak mengenalkan pelajaran yang rasional, tidak ada tulisan di papan tulis layaknya guru SD hanya ada gambar kapal nabi Nuh ketika Pak Harfan bercerita. Namun sutradara cukup kreatif dalam mengemas ide-ide barat bersamaan dengan dangdutan serta nuansa India ketika Ikal jatuh cinta yang disertai dengan tarian aneh anak-anak laskar pelangi telah membuat tawa penonton terurai. Perbedaan budaya modern dan tradisional juga disisipkan melalui penggunaan kalkulator di SD PN timah sementara di Muhamadiyah hanya menggunakan lidi. Bagaimana pun itu, penyutradaraan telah menghasilkan sesuatu yang segar dengan tema keprihatinan pendidikan di Indonesia. Cerita dan adegan dibuat serelistis mungkin walaupun ada yang terkesan berlebihan dalam bagian Ikal yang masih SD mengalami patah hati yang begitu dan adegan Lintang yang di halau buaya sampai 4x cukup membosankan.</p>
<p><strong>Penulis sekenario,</strong> film ini mengusung tema semangat dan keprihatinan pendidikan di Indonesia yang tidak jauh berbeda dengan novelnya. Cerita dimulai dari alur mundur (Ikal dewasa tengah mengenang masa kecilnya di atas sebuah bus). Alurnya lemah dan terlihat tidak fokus, jika temanya ironi pendidikan seharusnya tokoh Lintang lebih disorot. Alur yang lemah ini terlihat dari keragu-raguan sutradara dalam usahanya meringkas cerita tapi malah membuat penonton bingung (adegan Flo hilang di hutan). Karena keraguan itu alhasil adalah cerita yang penuh kebahagiaan setengahnya dan setengahnya lagi (bag akhir) menjadi dramatis. Namun di samping itu sutradar cukup cerdas dalam membeberkan data dalam novel dalam alur yang tidak runut. Kronologis peristiwa di acak tapi tetap menampilkan data dalam novel. Contoh adegan ketika Pak Harfan menempelkan poster Rhoma Irama sebagai tambahan dinding sekolah yang jebol, adegan yang menunjukkan Kucai sebagai ketua kelas, dan permainan perosotan dengan pelepah pisang, tidak runut memang tapi tetap meramaikan cerita.</p>
<p>Dari segi penokohan hanya beberapa tokoh yang kebagian peran yang lainnya figuran sepanjang film. Tentunya Ikal mendapat porsi paling besar lalu disusul porsi Lintang dan Mahar. Akiong, Samson, Kucai, Sahara dan Syahdan hanya pelengkap. Bahkan nama Trapani tidak terdengar sama sekali. Karakterisasi tokoh awalnya kurang meyakinkan terutama 10 anak Belitung ketika masuk SD akting mereka datar, dialognya wajar tapi agak aneh di dengar karena menggunakan dialek dan intonasi melayu. Tapi hal itu justru menjadi ketelitian sutradara untuk membuat cerita seautentik mungkin. Namun laskar pelangi yang sudah besar sudah lumayan. Karena tema yang diambil semangan dan ironi pendidikan konflik utama cerita sebenarnya adalah Lintang.</p>
<p><strong>Penata fotografi, </strong>gambar yang dhasilkan benilai artistik dan berteknik seperti bahasa cinta Ikal yang divisualisasikan dengan gaya india modern melalui bunga-bunga yang berjatuhan dan nyanyian Mahar, menjadi sebuah ornamentik. pencahayaan gambar Belitung yang mendung saat Pak Harfan meninggal merupakan salah satu gambar yang sesuai dengan tuntutan cerita, sama juga ketika laskar pelangi hujan-hujanan yang menunjukkan keceriaan mereka. Namun sumbangan tata cahaya belum mampu membangun emosi film secara keseluruhan contohnya saat adegan laskar pelangi mengunjungi Tuk Bayan Tula suasan seram dan angkernya kurang terasa.</p>
<p><strong>Penyuntingan, </strong> kelancaran penuturan cerita cukup terjaga dengan tanpa mengurangi esensi cerita. Tapi beberapa bagian tidak tersaji dengan baik misalnya kegigihan Lintang (jauh rumah dan perjuangannya tidak sehebat di novel) dan kayanya pulau Belitung serta kondisi SD Muhamadiyah. Lalu bagian adegan saat Lintang bertemu dengan buaya terlalu berkepanjangan sampai 4x denganadegan dan suasana gambar yang sama sehingga terasa membosankan, karena itu lambat laun  ketegangannya berkurang. Tetpai dinamika adegan melalui susunan gambar dan suara sudah baik, terutama di situasi dramatis ketika meninggalnya Pka Harfan dan suara genderang yang mengiringi semangat Lintang untuk tetap pergi ke sekolah walau tanpa bu Mus ikut menghanyutkan emosi penonton. Transisi adegan secara keseluruhan terasa mulus seperti keterpotongan adegan melalui Harun (laskar pelangi tiba-tiba dewasa melalui Harun.</p>
<p><strong>Penata Artstik, </strong> setting yang dihasilkan cukup meyakinkan dan memegang peranan penting dalam membangun emosi dan cerita film. Setting film terasa lebih simbolis, walau keadaan alamnya realistis. Tapi keberadaan SD yang mengkhawatirkan itu terkesan simbolik karena secara gambar hanya ditampilkn satu SD itu saja di tengah lahan yang luas. Lalu keberadaan klenteng dan toko sinar harapan secara tidak langsung menyimbolkan akulturasi kebudayaan melayu-tioghoan yang ada di sana. Setting yang ditampilkan terlihat sederhana (murah malah) tapi setting tersebut dibuat khusus untuk mendukung cerita tentu dengan biaya tambahan. Dalam hal tata artistik seperti kostum dan make up tidak ada yang terlalu menonjol semua sesuai dengan tuntutan cerita dimana mereka hidup dalam kemiskinan.</p>
<p><strong>Penata suara, </strong>kualitas suara dak jelas karena menggunakan dialek dan intonasi melayu. Banyak suara yang terpendam sehingga mengurangi pemahaman penonton. Namun tata suara telah ikut memperkuat emosi cerita. Misal suara-suara di luar bingkai gambar seperti suara gagak ikut memeprkuat suasana. Jadi tata suara yang dihasilkan mempengaruhi ritme film secara keseluruhan.</p>
<p><strong>Penata musik, </strong>peran dari musik sangat baik. Musiknya tidak terlalu kuat sehingga konsentrasi penonton tidak berpindah kepada musik. Musiknya telah berhasil memperkuat suasan adegan, maupun tokoh. Contoh suara tabuhan genderang selalu mengiringi ketika Lintang berangkat sekolah untuk mencerminkan semangatnya. Hal tersebut juga dilakukan untuk menutupi kelemahan adegan karena penceritaan kegigihan Lintang kurang terangkat dalam cerita. Musik dalam film terasa menyatu terutama dalam suasana dramatis saat meninggalnya Pak Harfan dan saat Lintang harus putus sekolah.</p>
<p><strong>Pemeran, </strong>flm ini berisikan aktor-aktris kawakan seperti Slamet Raharo, Ikranegara, Cut Mini, Mathias Muchus, Tora Sudiro, Alex Komang dll yang disandingkan dengan 12 anak asli Belitung. Sutradar cukup pintar dqalam memilih pemeran yang profesional dan anak asli Belitung supaya lebih autentik. Walaupun aktor berpengalaman ada yang berakting kurang meyakinkan seperti Robi Tumewu yang berperan sebagai orang keturunan China tapi pernah terlontar dialek betawinya, lalu Mathias mauchus kurang cocok berperan sebagai ayah Ikal yang bersahaja. Namun ada pemeran yang cukup menjiwai seperti Cut Mini dengan dialek dan intonasi melayunya yang meyakinkan, serta Mahar dengan gaya seniman serta suara nyanyiannya. Pemeran Akiong juga kurang menjiwai, ekspresinya datar sekali (ketika dialog dengan Ikal). Tidak biasanya di sini Tora Sudiro berperan berbeda dari film-film sebelumnya.</p>
<p>Terlepas dari itu semua film ini dpat dikatakan berhasil, karena telah menarik jutaan pnonton dalam waktu yang singkat dan banyak di terima masyarakat luas. Laskar pelangi dapat disebut film pendidikan berjenis melodrama setengah senang (bagian awal) dan setengah sedih (bagian tengah-akhir). Dengan latar asli Belitong serta pemeran asli anak-anak Belitung merupakan salah satu upaya sutradara untuk membuat film yang seautentik munkin. Laskar pelangi adalah film yang jujur tentang kondisi sosial, terutama nasib pendidikan dasar di daerah terpencil. Film ini menyampaikan pada kita bahwa setelah berpuluh-puluh tahun Indonesia merdeka, negeri ini masih menderita.</p>
<p align="center"><strong>R4 (REFLECT)</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Riri Riza adalah sutradara Indonesia yang menaruh minat pada pembuatan film anak-anak seperti Petualangan Sherina (2000) Untuk Rena (2005) dan Laskar Pelangi yang menampilkan keriangan dan kepolosan jiwa anak denga latar belakang dunia pendidikan dalam lingkungan yang sederhana. Tema film ini mengenai ironi pendidikan, persahabatan dan semangat hidup. Film ini di dukung artis-artis papan atas dan 12 anak asli Belitung. Namun sepertinya walaupun mereka artis-artis besar tapi ada beberapa peran yang kurang meyakinkan seperti Mathias Muchus dengan perangai wajah yang seperti itu rasanya kurang cocok berperan sebagai ayah Ikal yang bersahaja dan pendiam. Robi Tumewu sebagai kokoh malah terasa berdialek kebetawi-betawian. Alex Komang berhasil denga perannya sebagai ayah Lintang yang seorang nelayan dengan karakter tidak banyak bicara. Dan sebagai pemain amatir anak-anak Belitung cukup berhasil Ikal sebagai representasi Andrea, Lintang yang jenius dan Mahar yang seniman. Tapi Flo yang dalam novel berkarakter tomboy dalam film tidak ditemukan sama sekali malah dia menjadi anak yang feminin, mistisnya seh dapet.</p>
<p>Film ini juga mengungkapkan gagasan toleransi dan menghargai perbedaab dimana dalam ke 10 laskar pelangi itu ada Harun yang keterbelakang mentak dan Akiong yang anak keturunan tionghoa tapi mereka tetap rukun. Selain tiu  diperlihatkan juga akulturasi budaya melayu- china dengan adanya klenteng dan ilustrasi musik yang menguatkan budaya china. Terdapat juga perbedaan budaya modern dan tradisional dalam cara belajar melalui penggunaan Kalkulator dan lidi untuk menghitung.</p>
<p>Banyak hal yang tidak terungkap dalam film ini, walau pun sebenarnya tidak apa-apa dihilangkan seperti mengenai ketakutan Ikal menjadi pegawai kantor pos atau mengenai kelompok mistis Societet de Limpai. Hal lain yang patut di puji dalam film ini adalah ketelitiannya terhadap hal-hal yang detail seperti dialek melayu, properti yang sesuai dengan waktu terjadinya cerita (mobil kuno, sepedemotor kuno, plang di PN Timah dengan ejaan lama), kostum, latar, dan pemilihan lokasi syuting sudah mendekati apa yang ada di novel.</p>
<p>Bagaimana pun novel sebagai media tulis dan film sebagai media visual memiliki perbedaan dalam penuangan ekspresi, maka tidak semua bagian film harus dan bisa diterjemahkan ke dalam film. Dalam film ini kita juga diperlihatkan kembali tentang tujuan pendidikan dasar yang tanpa pamrih, tidak seperti sekarang yang semua banyak dinilai oleh materi. Kritim pedas terhapap pemerintah juga disampaikan melalui cerita dimana terlihat pendidikan yang kurang diperhatikan sehingga patut dipertanyakan bagaimana pemerintah membangunrakyatnya?</p>
<p>Film ini bagus ditonton semua kalangan, terutama anak-anak karena mereka akan lebih termotivasi dan memicu gairah belajar mereka dalam menggapai cita-cita. Ini adalah film yang mengingatkan kita akan pentingnya ketulusan hati dan kepedulian terhadap sesama.</p>
<p><strong> </strong></p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dynee.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dynee.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dynee.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dynee.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dynee.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dynee.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dynee.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dynee.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dynee.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dynee.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dynee.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dynee.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dynee.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dynee.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=52&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/laskar-pelangi-on-commented/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/269cd53d5a9e2fc8fa43fc1c2c91aae5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dynee</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Verba</title>
		<link>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/verba/</link>
		<comments>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/verba/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 13:24:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dynee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dynee.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[VERBA A. Batasan dan Ciri Verba Secara umum verba dapat diidentifikasi dan dibedakan dari kelas kata yang lain, karena cirri-ciri berikut. Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain. Verba mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas. Verba, khususnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=47&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>VERBA</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>A. Batasan dan Ciri Verba</strong></p>
<p>Secara umum verba dapat diidentifikasi dan dibedakan dari kelas kata yang lain, karena cirri-ciri berikut.</p>
<ol>
<li>Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain.</li>
<li>Verba mengandung makna inheren <strong>perbuatan </strong>(aksi), <strong>proses, </strong>atau <strong>keadaan </strong>yang bukan sifat atau kualitas.</li>
<li>Verba, khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks <em>ter- </em>yang berarti ‘paling’. Verba seperti <em>mati </em>atau <em>suka, </em>misalnya, tidak dapat diubah menjadi <em>*termati </em>atau <em>*tersuka.</em></li>
<li>Pada umumnya verba tidak dapay bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan.</li>
</ol>
<p><strong>B. Verba dari Segi Perilaku Semantisnya</strong></p>
<p>Tiap verba memiliki makna inheren yang terkandung di dalamnya.<em> </em></p>
<ul>
<li>Verba perbuatan</li>
</ul>
<p>Adalah verba yang dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan “Apa yang dilakukan oleh subjek?”. Dan dapat dipakai dalam kalimat perintah.</p>
<p>Contoh :</p>
<p>mendekat , mencuri, membelikan, memukuli, mandi, memberhentikan, menakut-nakuti, naik haji.</p>
<ul>
<li>Verba proses</li>
</ul>
<p>Adalah verba yang dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan “Apa yang terjadi pada subjek?” dan tidak dapat dipakai dalam kalimat perintah.</p>
<p>Contoh :</p>
<p>mati, jatuh, mengering, mengecil, meninggal, kebanjiran, terbakar, terdampar.</p>
<ul>
<li>Verba keadaan</li>
</ul>
<p>Adalah verba yang mengandung makna keadaan umumnya tidak dapat menjawab kedua pertanyaan di atas dan tidak dapat dipakai untuk membentuk kalimat perintah. Verba keadaan menyatakan bahwa acuan verba berada dalam situasi tertentu.</p>
<p>Verba keadaan sering sulit dibedakan dari adjektiva karena kedua jenis kata itu mempunyai banyak persamaan. Satu ciri yang umumnya dapat membedakan keduanya ialah bahwa prefiks adjektiva <strong><em>ter-</em></strong> yang berarti “paling” dapat ditambahkan pada adjektiva, tetapi tidak pada verba keadaan.</p>
<p>Contoh :</p>
<p>Adjektiva                   : dingin + ter-   = terdingin (paling dingin)</p>
<p>sulit + ter-       = tersulit (paling sulit)</p>
<p>Verba keadaan           : suka               à</p>
<p>mati               à        tidak dapat ditambahkan ( <strong><em>ter-</em></strong> )</p>
<p>berguna         à</p>
<ul>
<li>Verba pengalaman</li>
</ul>
<p>Adalah verba yang merujuk pada peristiwa yang terjadi begitu saja tanpa kesengajaan.</p>
<p>Contoh :</p>
<p>ü  Dia medengar lagu itu à tidak sengaja</p>
<p>ü  Dia mendengarkan lagu itu à disengaja</p>
<p>Verba yang tergolong dalam verba pengalaman :</p>
<ul>
<li>tahu, lupa, ingat, menyadari, melihat, dan merasa.</li>
</ul>
<p><strong>C. Verba dari Segi Perilaku Sintaktisnya</strong></p>
<p>Perilaku sintaksis seperti ini berkaitan erat dengan makna dan sifat ketransitifan verba.</p>
<p><strong>Ketransitifan verba </strong>ditentukan oleh dua factor:</p>
<p>(1) adanya nomina yang berdiri di belakang verba yang berfungsi sebagai objek dalam kalimat aktif dan,</p>
<p>(2) kemungkinan objek itu berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif.</p>
<p><strong><em>a</em>. <em>Verba Transitif</em></strong></p>
<p><strong>Verba transitif </strong>adalah verba yang memiliki nomina sebagai objek dalam kalimat aktif, dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Perhatikan contoh berikut.</p>
<ul>
<li>Ibu sedang <em>membersihkan </em>kamar itu.</li>
<li>Rakyat pasti <em>mencintai </em>pemimpin yang jujur.</li>
</ul>
<p>Verba yang dicetak miring dalam contoh (1-2) adalah verba transitif. Masing-masing diikuti oleh nomina atau frasa nominal, yaitu <em>kamar itu </em>dan <em>pemimpin yang jujur. </em>Nomina atau frasa nominal itu berfungsi sebagai objek yang dapat juga dijadikan subjek dalam kalimat pasif seperti</p>
<ul>
<li>Kamar itu sedang <em>dibersihkan </em>oleh ibu.</li>
<li>Pemimipin yang jujur pasti <em>dicintai </em>oleh rakyatnya.</li>
</ul>
<p><em>1. Verba Ekatransitif</em></p>
<p><strong>Verba ekatransitif</strong> adalah verba transitif yang diikuti oleh satu objek. Objek dalam kalimat yang mengandung verba ekatransitif dapat diubah fungsinya sebagai subjek dalam kalimat pasif. Contoh: membawa, membuktikan, mengerjakan, memperbesar, merestui.</p>
<p><em>2. Verba Dwitransitif</em></p>
<p><em> </em><strong>Verba dwitransitif </strong>adalah verba yang dalam kalimat aktif  dapat diikuti oleh dua nomina, satu sebagai objek dan satunya lagi sebagai pelengkap.</p>
<p><strong> </strong>Objek dapat saja tidak dinyatakan secara eksplisit, tetapi yang tersirat di dalam kedua kalimat itu tetap menunjukkan adanya objek tadi. Jadi, kalimat <em>Saya sedang mencarikan pekerjaan </em>mengandung arti bahwa pekerjaan itu bukan untuk <em>saya, </em>tetapi untuk orang lain.</p>
<p>Sejumlah verba dwitransitif memiliki cirri semantic yang ‘membedakan fungsi objek dari pelegkap yang berupa nama, julukan, gelar, atau kedudukan’.</p>
<p>Sementara itu, ada pula verba yang dapat berstatus dwitransitif, tetapi dapat juga ekatransitif. Verba seperti <em>memanggil </em>dan <em>menyebut,</em> misalnya, dapat mempunyai satu atau dua nomina di belakangnya. Misalnya, <em>Mereka memanggil kamu si Botak </em>dan <em>Mereka memanggil kamu </em>(bukan saya).</p>
<p>Contoh verba dwitransitif: membawakan, mencarikan, menugasi, menyerahi, menyebut, menuduh.</p>
<p><em>3. Verba Semitransitif</em></p>
<p><em> </em><strong>Verba semitransitif </strong>ialah verba yang objeknya boleh ada dan boleh juga tidak. Contoh: makan, menulis menyimak.</p>
<p><strong><em>b. Verba Taktransitif</em></strong></p>
<p><strong>Verba taktransitif </strong>adalah verba yang tidak memiliki nomina di belakangnya yang dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif.</p>
<p>Pelengkap tidak harus berupa nomina. Dengan demikian, verba taktransitif dapat dibagi atas dua macam, yaitu verba yang berpelengkap dan verba yang tak berpelengkap. Contoh verba taktransitif yang tak berpelengkap: berdiri, berlari, membaik, memburuk, membusuk. Contoh verba taktransitif yang berpelengkap wajib: beratapkan, berdasarkan, berlandaskan, bersendikan.  Jika pelengkap itu tidak selalu hadir, maka verba yang berpelengakap manasuka seperti itu disebut <strong>verba taktransitif berpelengkap manasuka. </strong>Contoh: beratap, berharga, berhenti, berpakaian, merasa.</p>
<p><strong><em>c. Verba Berpreposisi</em></strong></p>
<p><em> </em><strong>Verba berpreposisi </strong>ialah verba taktransitif yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu.</p>
<p><strong> </strong>Di antara verba berpreposisi, ada yang sama atau hampir sama artinya dengan verba transitif.</p>
<p>Contoh:</p>
<p>Berbicara tentang = membicarakan</p>
<p>Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian verba berpreposisi. Pertama, orang sering memakai bentuk transitif, tetapi masih mempertahankan preposisinya sehingga terjadi kesalahan.</p>
<p>Kedua, dalam bahasa yang tidak baku, orang sering menghilangkan preposisi pada verba yang taktransitif.</p>
<p>Akan tetapi, jika verba berpreposisi yang bersangkutan diubah menjadi verba berafiks <em>meng-, </em>seperti <em>mengetahui </em>(untuk menggantikan <em>tahu akan), </em>maka bagian kalimat yang mengikutinya berubah fungsinya menjadi objek.</p>
<p><strong>D. Verba dari Segi Bentuknya</strong></p>
<p>Ada dua macam dasar yang dipakai dalam pembentukan verba: (1) <strong>dasar bebas </strong>ialah dasar yang tanpa afiks apa pun telah memiliki kategori sintaksis dan mempunyai makna yang mandiri, contoh: <em>marah, darat, </em>dan <em>pergi </em>(2) <strong>dasar terikat </strong>ialah dasar yang kategori sintaksis ataupun maknanya baru dapat ditentukan setelah diberi afiks, contoh: <em>juang, temu, </em>dan <em>selenggara.</em></p>
<p><em> </em>Berdasarkan kedua macam dasar di atas, bahasa Indonesia pada dasarnya mempunyai dua macam bentuk verba, yakni: (1) <strong>verba asal: </strong>verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaksis, dan (2) <strong>verba turunan: </strong>verba yang harus atau dapat memakai afiks, bergantung pada tingkat keformalan bahasa dan/atau pada posisi sintaktisnya.</p>
<p>Tidak adanya afiks <em>ber- </em>ataupun <em>meng- </em>dalam kalimat bergantung pada keformalan gaya bahasa yang dipakai. Jika gaya bahasanya formal, afiks <em>ber- </em>dan <em>meng- </em>dipertahankan; tetapi jika informal, afiks itu dapat ditiadakan.</p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Verba Asal</strong></li>
</ol>
<p>Seperti telah dinyatakan sebelumnya, <strong>verba asal </strong>ialah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks. Hal itu berarti bahwa dalam tataran yang lebih tinggi seperti klausa ataupun kalimat, baik dalam bahasa formal, maupun informal, verba macam itu dapat dipakai.</p>
<p>Makna leksikal, yakni makna yang melekat pada kata telah dapat pula diketahui dari verba semacam itu. Dalam bahasa Indonesia jumlah verba asal tidak banyak. Contoh: ada, bangun, cinta.</p>
<p>Ada juga sejumlah kata yang mempunyai cirri verba dan adjektiva sekaligus, misalnya <em>hancur </em>dan <em>pecah.</em></p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Verba Turunan</strong></li>
</ol>
<p><strong> Verba turunan </strong>adalah verba yang dibentuk melalui transposisi, pengafiksan, reduplikasi (pengulangan), atau pemajemukan (pemaduan).</p>
<p><strong> Transposisi </strong>adalah suatu proses penurunan kata yang memperlihatkan peralihan suatu kata dari kategori sintaktis yang satu ke kategori sintaktis yang lain tanpa mengubah bentuknya. Dari nomina <em>jalan, </em>misalnya, diturunkan verba <em>jalan.</em></p>
<p><strong> Pengafiksan </strong>adalah penambahan afiks pada dasar.</p>
<p><strong> </strong>Contoh:</p>
<p><strong>Dasar                          Verba Turunan</strong></p>
<p><strong> </strong>beli                  →        membeli</p>
<p>darat                →        mendarat</p>
<p><strong>Reduplikasi </strong>adalah pengulangan suatu dasar.</p>
<p><strong> </strong>Contoh:</p>
<p><strong>Dasar                          Verba Turunan </strong></p>
<p><strong> </strong>Lari                  →        lari-lari</p>
<p>Makan             →        makan-makan</p>
<p>Kata turunan yang dibentuk dengan proses reduplikasi dinamakan <strong>kata berulang. </strong>Dengan demikian, verba turunan seperti yang digambarkan di atasdapat juga disebut <strong>verba berulang. </strong>Seperti terlihat pada contoh di atas, pengafiksan dapat juga terjadi pada verba berulang,, misalnya, <em>tembak-menembak </em>dan <em>menerka-nerka.</em></p>
<p><em> </em><strong>Pemajemukan </strong>adalah penggabungan atau pemaduan dua dasar atau lebih sehingga menjadi satu satuan makna.</p>
<p><strong> </strong>Contoh:</p>
<p><strong>Dasar                          Verba Turunan</strong></p>
<p><strong> </strong>Jual, beli          →        jual beli</p>
<p>Jatuh, bangun  →        jatuh bangun</p>
<p>Kata turunan yang terbentuk melalui pemajemukan disebut kata majemuk. Dengan demikian, verba turunan seperti digambarkan di atas dapat juga disebut <strong>verba majemuk. </strong>Pengafiksan dan reduplikasi dapat terjadi pada verba majemuk, misalnya <em>memperjualbelikan, menghancurleburkan, </em>dan <em>jatuh-jatuh bangun.</em></p>
<ol>
<li><strong><em>a. </em></strong><strong><em>Proses Penurunan Verba</em></strong></li>
</ol>
<p><em> </em>Ada empat macam <strong>afiks </strong>atau <strong>imbuhan </strong>yang dipakai untuk menurunkan verba: prefiks, sufiks, konfiks, dan –yang tidak begitu produktif lagi- infiks. <strong>Prefiks, </strong>yang sering juga dinamakan <strong>awalan, </strong>adalah afiks yang diletakkan di muka dasar. <strong>Sufiks, </strong>yang juga disebut <strong>akhiran, </strong>diletakkan di belakang dasar. <strong>Konfiks, </strong>adalah gabungan prefiks dan sufiks yang mengapit dasar dan membentuk satu kesatuan. <strong>Infiks, </strong>yang juga dinamakan <strong>sisipan, </strong>adalah bentuk afiks yang ditempatkan di tengah dasar.</p>
<p>Prefiks dan sufiks dapat membentuk konfiksjika dua syarat berikut terpenuhi. Pertama, keterpaduan antara prefiks dan sufiks bersifat mutlak, artinya kedua afiks itu secara serentak dilekatkan pada dasar kata.</p>
<p>Syarat kedua adalah bahwa pemisahan salah satu dari afiks itu tidak akan meninggalkan bentuk yang masih berwujud kata dan yang hubungan maknanya masih dapat ditelusuri.</p>
<p>Ada prefiks yang secara waqjib memang diperlukan untuk menurunkan verba. Dasar bebas seperti <em>darat </em>dan <em>layar </em>masing-masing perlu mendapat prefiks <em>meng- </em>dan <em>ber- </em>untuk mengubah statusnya sebagai nomina menjadi verba.</p>
<p>Urutan penurunan verba mengikuti kaidah <strong>urutan afiks </strong>berikut.</p>
<ol>
<li>Jika prefiks tertentu mutlak diperlukan untuk mengubah kelas kata dari dasar tertentu menjadi verba, prefiks itu tinggi letaknya dalam hierarki penurunan verba.</li>
<li>Jika prefiks tertentu digunakan bersama-sama dengan sufiks tertentu dan kehadiran kedua afiks itu terpadu dan maknanya pun tak terpisahkan, dalam hierearki penurunan verba kedua afiks yang bersangkutan mempunyai tempat yang sama tingginya.</li>
<li>Jika prefiks tertentu terdapat pada verba dengan dasar nomina yang bersufiks tertentu, prefiks itu lebih tinggi letaknya daripada sufiks.</li>
<li>Jika prefiks tertentu digunakan bersama-sama dengan sufiks tertentu sedangkan hubungan antara sufiks dan dasar telah menumbuhkan makna tersendiri, dan penambahan prefiks itu tidak mengubah makan leksikalnya, maka tempat sufiks dalam hierarki penurunan verba lebih tinggi daripada prefiks.</li>
<li>Jika prefiks tertentu digunakan bersama-sama dengan sufiks tertentu dan gabungan keduanya bukan merupakan konfiks tetapi menentukan makna leksikal, maka maknalah yang kita anggap menentukan hierarki pembentukan verba.</li>
<li><strong><em>b. </em></strong><strong><em>Penggabungan Prefiks dan Sufiks</em></strong></li>
</ol>
<p><em> </em>Dalam pembentukan verba bahasa Indonesia (a) prefiks <em>ke- </em>tidak dapat bergabung dengan sufiks <em>–kan </em>atau <em>–i </em>(kecuali dalam dasar verba <em>ketahui); </em>(b) prefiks <em>meng-, per-, ter-, </em>dan <em>di- </em>tidak dapat bergabung dengan sufiks <em>–an; </em>(c) prefiks <em>ber- </em>tidak dapat bergabung dengan sufiks <em>–i; </em>dan (d) prefiks <em>ke- </em>hanya dapat bergabung dengan sufiks <em>–an, </em>dan dengan <em>–i </em>pada  kata <em>ketahui.</em></p>
<ol>
<li><strong><em>c. </em></strong><strong><em>Urutan Afiks</em></strong></li>
</ol>
<p><em> </em>Di antara prefiks itu sendiri terdapat pula urutan yang harus dipatuhi jika dua prefiks terdapat pada satu dasar yang sama. Urutan yang pertam adalah prefiks <em>meng- </em>yang selalu menduduki posisi paling kiri. Kemudian menyusul prefiks <em>per- </em>atau <em>ber- </em>sehingga terjadi bentuk <em>memper- </em>dan <em>member-.</em></p>
<p><em> </em></p>
<ol>
<li><strong><em>d. </em></strong><strong><em>Morfofonemik</em></strong></li>
</ol>
<p><em> </em>Proses berubahnya suatu fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal atau fonem yang mendahuluinya dinamakan <strong>proses morfofonemis.</strong></p>
<p><em>a) Morfofonemik Prefiks <strong>meng-</strong></em></p>
<p><em> </em>Ada delapan kaidah morfofonemik untuk prefiks <em>meng-.</em></p>
<ul>
<li>Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /ə/, /k/, /g/, /h/, atau /x/ bentuk <em>meng- </em>tetap <em>meng- </em>/məŋ-/.
<ul>
<li>Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /l/, /m/, /n/, /ň/, /ŋ/, /r/, /y/, atau /w/, bentuk <em>meng- </em>berubah menjadi <em>me-.</em></li>
<li>Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /d/ atau /t/, bentuk <em>meng- </em>berubah menjadi <em>men- </em>/mən-/.</li>
<li>Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /b/, /p/, atau /f/, bentuk <em>meng- </em>berubah menjadi <em>mem- </em>/məm-/.</li>
<li>Ø Jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /c/, /j/, /s/, dan /š/, bentuk <em>meng- </em>berubah menjadi <em>meny- </em>/məň/.
<ul>
<li>Jika ditambahkan pada dasar yang bersuku satu, bentuk <em>meng- </em>berubah menjadi <em>menge- </em>/məŋə/.</li>
<li>Kata-kata yang berasal dari bahasa asing diperlakukan berbeda-beda, bergantung pada frekuensi dan lamanya kata tersebut telah kita pakai.</li>
<li>Jika verba yang berdasar tunggal direduplikasi, dasarnya diulangi dengan mempertahankan peluluhan konsonan pertamanya.</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p><em>b) Morfofonemik Prefiks <strong>per-</strong></em></p>
<p><em> </em>Ada tiga kaidah morfofonemik untuk prefiks <em>per-.</em></p>
<ul>
<li>Prefiks <em>per- </em>berubah menjadi <em>pe- </em>apabila ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /r/.</li>
<li>Prefiks <em>per- </em>berubah menjadi <em>pel- </em>apabila ditambahkan pada bentuk dasar <em>ajar.</em></li>
<li>Prefiks <em>per- </em>tidak mengalami perubahan bentuk bila bergabung dengan dasar lain di luar kaidah 1 dan 2 di atas.</li>
</ul>
<p><em>c) Morfofonemik Prefiks <strong>ber-</strong></em></p>
<p><em> </em>Ada empat kaidah morfofonemik untuk prefiks <em>ber-.</em></p>
<ul>
<li>Prefiks <em>ber- </em>berubah menjadi <em>be- </em>jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /r/.</li>
<li>Prefiks <em>ber- </em>berubah menjadi <em>be- </em>jika ditambahkan pada dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /ər/.</li>
<li>Prefiks <em>ber- </em>berubah menjadi <em>bel- </em>jika ditambahkan pada dasar tertentu.</li>
<li>Prefiks <em>ber- </em>tidak berubah bentuknya bila digabungkan dengan dasar di luar kaidah 1-3 di atas.</li>
</ul>
<p><em>d) Morfofonemik Prefiks <strong>ter-</strong></em></p>
<p><em> </em>Ada tiga kaidah morfofonemik untuk prefiks <em>ter-.</em></p>
<ul>
<li>Prefiks <em>ter- </em>berubah menjadi <em>te- </em>jika ditambahkan pada dasar yang dimulai dengan fonem /r/.</li>
<li>Jika suku pertama kata dasar berakhir dengan bunyi /ər/, fonem /r/ pada prefiks <em>ter- </em>ada yang muncul dan ada pula yang tidak.</li>
<li>Di luar kedua kaidah di atas, <em>ter- </em>tidak berubah bentuknya.</li>
</ul>
<p><em>e) Morfofonemik Prefiks <strong>di-</strong></em></p>
<p><em> </em>Digabung dengan dasar apa pun, prefiks <em>di- </em>tidak mengalami perubahan bentuk.</p>
<p><em>f) Morfofonemik Sufiks <strong>-kan</strong></em></p>
<p><em> </em>Sufiks –<em>kan</em> tidak mengalami perubahan apabila ditambahkan pada dasar kata apa pun.</p>
<p><em>g) Morfofonemik Sufiks <strong>-i</strong></em></p>
<p><em> </em>Sufiks <em>–i </em>juga tidak mengalami perubahan jika ditambahkan pada dasar kata apa pun.</p>
<p><em>h) Morfofoneemik Sufiks <strong>-an</strong></em></p>
<p><em> </em>Sufiks –<em>an </em>tidak mengalami perubahan bentuk jika digabungkan dengan dasar kata apa pun.</p>
<p><strong>E. Verba Majemuk</strong></p>
<p>Verba majemuk adalah verba yang terbentuk melalui proses penggabungan satu kata dengan kata yang lain.</p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Verba Majemuk Dasar</strong></li>
</ol>
<p>Yang dimaksud dengan <strong>verba majemuk dasar </strong>ialah verba majemuk yang tidak berafiks dan tidak mengandung komponen berulang, serta dapat berdiri sendiri dalam frasa, klausa, ataun kalimat.</p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Verba Majemuk Berafiks </strong></li>
</ol>
<p><strong> Verba majemuk berafiks </strong>ialah verba majemuk yang mengandung afiks tertentu.</p>
<p><strong> </strong>Verba majemuk berafiks dapat dibagi menjadi tiga kelompok.</p>
<p>(a)    Verba majemuk berafiks yang pangkalnya berupa bentuk majemuk yang tidak dapat berdiri sendiri dalam kalimat disebut <strong>verba majemuk terikat.</strong></p>
<p>(b)        Verba majemuk berafiks yang pangkalnya berupa bentuk majemuk yang dapat berdiri sendiri disebut <strong>verba majemuk bebas.</strong></p>
<p>(c)         Verba majemuk berafiks yang komponennya telah berafiks terlebih dahulu.</p>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>Verba Majemuk Berulang</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong>Verba majemuk dalam bahasa Indonesia dapat direduplikasi jika kemajemukannya bertingkat dan jika intinya adalah bentuk verba yang dapat direduplikasi pula.</p>
<p><strong>F. Frasa Verbal dan Fungsinya </strong></p>
<p>Verba dapat diperluas dengan menambahkan unsur-unsur tertentu, tetapi hasil perluasan ini masih tetap ada pada tataran sintakis yang sama.</p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Pengertian Frasa Verbal</strong></li>
</ol>
<p><strong> Frasa verbal </strong>ialah satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan verba sebagai intinya tetapi bentuk ini tidak merupakan klausa.</p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Jenis-Jenis Frasa Verbal</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong>Dilihat dari konstruksinya, frasa verbal terdiri atas verba inti dan kata lain yang bertindak sebagai penambah arti verba tersebut. Konstruksi seperti <em>sudah membaik, akan mendarat, tidak harus pergi </em>merupakan jenis frasa verbal yang berbentuk <strong>endosentrik atributif. </strong>Frasa verbal seperti <em>makan dan minum </em>serta <em>menyanyi dan menari </em>masing-masing mempunyai dua verba inti yang digabungkan dengan kata <em>dan </em>dan <em>atau. </em>Frasa seperti itu disebut frasa <strong>endosentrik koordinatif.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong><em>a. Frasa Endosentrik Atributif</em></p>
<p><em> </em>Frasa verbal yang endosentrik atributif terdiri atas inti verba dan pewatas <em>(modifier) </em>yang ditempatkan di muka atau di belakang verba inti. Yang di muka dinamakan <strong>pewatas depan </strong>dan yang di belakang dinamakan <strong>pewatas belakang.</strong></p>
<p><em> </em>Wujud frasa endosentrik koordinatif sangatlah sederhana, yakni dua verba yang penghubung <em>dan </em>atau <em>atau.</em></p>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>Fungsi Verba dan Frasa Verbal</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong>Jika ditinjau dari segi fungsinya, verba (maupun frasa verbal) terutama menduduki fungsi predikat.</p>
<p><em>a. Verba dan Frasa Verbal Sebagai Predikat</em></p>
<p><em> </em>Telah dikemukakan bahwa verba berfungsi terutama sebagai predikat atau sebagai inti predikat kalimat.</p>
<p><em>b. Verba dan Frasa Verbal sebagai Subjek</em></p>
<p><em> </em>Pada umumnya verba yang berfungsi sebagai subjek adalah verba inti, tanpa pewatas depan ataupun pewatas belakang.</p>
<p><em>c. Verba dan Frasa Verbal sebagai Subjek</em></p>
<p><em> </em>Dalam kalimat berikut verba dan frasa verbal dengan perluasannya berfungsi sebagai objek.</p>
<p>Dia mencoba <em>tidur lagi</em> tanpa bantal.</p>
<p>Dalam kalimat tersebut, yang berfungsi sebagai objek ialah verba <em>tidur lagi, </em>yang diikuti oleh keterangan <em>tanpa bantal.</em></p>
<p><em>d.Verba dan Frasa Verbal sebagai Pelengkap</em></p>
<p><em> </em>Verba dan frasa verbal beserta perluasannya dapat berfungsi sebagai pelengkap dalam kalimat.</p>
<p><em>e. Verba dan Frasa Verbal sebagai Keterangan</em></p>
<p><em> </em>Dalam kalimat berikut verba dan perluasannya berfungsi sebagai keterangan.</p>
<p>Ibu sudah pergi <em>berbelanja.</em></p>
<p>Dari contoh di atas tampak bahwa ada dua verba yang letaknya berurutan: yang pertama merupakan predikat dan yang kedua bertindak sebagai keterangan.</p>
<p><em>f. Verba yang Bersifat Atributif</em></p>
<p><em> </em>Verba (bukan frasa) juga bersifat atributif, yaitu memberikan keterangan tambahan pada nomina.</p>
<p><em>g. Verba yang Bersifat Apositif</em></p>
<p><em> </em>Verba dan perluasannya dapat juga bersifat apositif, yaitu sebagai keterangan yang ditambahkan atau diselipkan</p>
<p align="center"><strong>ADJEKTIVA</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>1.</strong> <strong>BATASAN DAN CIRI ADJEKTIVA</strong></p>
<p>Adjektiva<strong> </strong>adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat.</p>
<p><strong> </strong>Adjektiva dicirikan oleh kemungkinannya menyatakan tingkat kualitas dan tingkat bandingan acuan nomina yang diterangkannya.</p>
<p><strong>2.</strong> <strong>ADJEKTIVA DARI SEGI PERILAKU SEMANTISNYA</strong></p>
<p>Kelas adjektiva menunjukkan adanya dua tipe pokok: <strong><em>adjektiva bertaraf</em> </strong>yang mengungkapkan suatu kualitas dan <strong><em>adjektiva tak bertaraf </em></strong>yang mengungkapkan keanggotaan dalam suatu golongan.</p>
<p><strong>a. Adjektiva Bertaraf</strong></p>
<p><strong> </strong>Adjektiva bertaraf dapat dibagi atas:</p>
<ol>
<li><strong><em>1. </em></strong><strong><em>Adjektiva Pemeri Sifat</em></strong></li>
</ol>
<p><em> </em><strong>Adjektiva pemeri sifat </strong>jenis ini dapat memerikan kualitas dan intensitas yang bercorak fisik atau mental.</p>
<ol>
<li><strong><em>2. </em></strong><strong><em>Adjektiva Ukuran</em></strong></li>
</ol>
<p><em> </em><strong>Adjektiva ukuran </strong>mengacu ke kualitas yang dapat diukur dengan ukuran yang sifatnya kuantitatif.</p>
<ol>
<li><strong><em>3. </em></strong><strong><em>Adjektiva Warna</em></strong></li>
</ol>
<p><em> </em><strong>Adjektiva warna </strong>mengacu ke berbagai warna.</p>
<ol>
<li><strong><em>4. </em></strong><strong><em>Adjektiva Waktu</em></strong></li>
</ol>
<p><em> </em><strong>Adjektiva waktu</strong> mengacu ke masa proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung sebagai pewatas.</p>
<ol>
<li><strong><em>5. </em></strong><strong><em>Adjektiva Jarak</em></strong></li>
</ol>
<p><em> </em><strong>Adjektiva jarak </strong>mengacu ke ruang antara dua benda, tempat, atau wujud sebagai pewatas nomina.</p>
<ol>
<li><strong><em>6. </em></strong><strong><em>Adjektiva Sikap Batin</em></strong></li>
</ol>
<p><em> </em><strong>Adjektiva sikap batin </strong>bertalian dengan pengacuan suasana hati atau perasaan.</p>
<ol>
<li><strong><em>7. </em></strong><strong><em>Adjektiva cerapan</em></strong></li>
</ol>
<p><em> </em><strong>Adjektiva cerapan </strong>bertalian dengan pancaindera, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman atau penghiduan, perabaan, dan pencitarasaan.</p>
<p><strong>b. Adjektiva Tak Bertaraf</strong></p>
<p><strong> Adjektiva tak bertaraf</strong> menempatkan acuan nomina yang diwatasinya di dalam kelompok atau golongan tertentu.</p>
<p><strong>3. ADJEKTIVA DARI SEGI BENTUKNYA</strong></p>
<p>Dari segi bentuknya, adjektiva terdiri atas <em>(a) adjektiva dasar yang selalu monomorfemis dan (b) adjektiva turunan yang selalu polimorfemis.</em></p>
<ol>
<li><strong><em>a. </em></strong><strong><em>Adjektiva Dasar (Monomorfemis)</em></strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong>Sebagian besar adjektiva dasar merupakan bentuk yang monomorfemis, meskipun ada yang berbentuk perulangan semu.</p>
<ol>
<li><strong><em>b. </em></strong><strong><em>Adjektiva Turunan</em></strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong>Adjektiva turunan polimorfemis dapat merupakan</p>
<p>(1)      hasil pengafiksan dengan prefiks <strong><em>se-</em></strong><em> </em>dan <strong><em>ter-.</em></strong><em> </em></p>
<p>(2)      hasil pengafiksan dengan infiks atau sisipan <strong><em>–em-</em></strong><em> </em>pada nomina, adjektiva yang jumlahnya sangat terbatas.<em> </em></p>
<p>(3)      hasil penyerapan adjektiva berafiks dari bahasa lain seperti bahasa Arab, Belanda, dan Inggris.<em> </em></p>
<p><strong>a</strong><em>. </em><strong>Adjektiva Bersufiks</strong><em> <strong>–i, -iah</strong></em><strong>, </strong><em>atau <strong>–wi, -wiah</strong></em></p>
<p><strong> </strong>Adjektiva yang bersufiks <strong><em>–i, -iah</em></strong><em> </em>atau <strong><em>–wi, -wiah</em></strong><em> </em>memiliki dasar nomina yang berasal dari bahasa Arab.</p>
<p><strong>b<em>.</em></strong><em> </em><strong>Adjektiva Bersufiks</strong><em> <strong>–if, -er, -al, -is</strong></em></p>
<p><strong> </strong>Adjektiva yang bersufiks <strong><em>–if, -er, -al, -is</em></strong><em> </em>setakat ini diserap dari bahasa Belanda atau bahasa Inggris di samping nomina yang bertalian makna.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>c</strong><em>. </em><strong>Adjektiva Bentuk Berulang</strong><em> </em></p>
<p><em> </em>Subkategori adjektiva turunan yang berupa bentuk berulang dapat muncul jika berfungsi predikatif atau berfungsi adverbial. Predikat adjectival yang berbentuk ulang menandakan kejamakan, keanekaan, atau keintensifan. Perulangan itu terjadi melalui cara <em>(1) perulangan penuh, (2) perulangan sebagian, dan (3) perulangan salin suara.</em></p>
<p><strong>d</strong><em>. </em><strong>Adjektiva Gabungan Sinonom atau Antonim</strong></p>
<p><em> </em>Adjektiva yang mirip dengan bentuk berulang ialah yang merupakan hasil penggabungan sinonim atau antonym.</p>
<p><strong>e.</strong><em> </em><strong>Adjektiva Majemuk</strong><em> </em></p>
<p><em> </em>Adjektiva yang merupakan bentuk majemuk ada yang merupakan gabungan morfem terikat dengan morfem bebas dan ada yang merupakan gabungan dua morfem bebas (atau lebih).</p>
<ol>
<li><strong><em>1. </em></strong><strong><em>Gabungan Morfem Terikat dan Bebas</em></strong></li>
</ol>
<p><em> </em>Contoh adjektiva yang merupakan gabungan morfem terikat dan bebas: adikodrati, anasional, antarbangsa, dan antarkota.</p>
<ol>
<li><strong><em>2. </em></strong><strong><em>Gabungan Morfem Bebas</em></strong></li>
</ol>
<p><em> </em>Contoh adjektiva yang merupakan gabungan morfem bebas: baik budi, baik hati, bebas bea, bebas tugas, dan berat sebelah.</p>
<p><strong>4. ADJEKTIVA DAN KELAS KATA LAIN</strong></p>
<p>Ada golongan adjektiva yang dihasilkan dari verba dan nomina lewat proses transposisi. <strong>Transposisi, </strong>yang mengubah kelas kata tanpa pengubahan bentuk, dianggap penurunan dengan afiksasi nol.</p>
<ol>
<li><strong>a. </strong><strong>Adjektiva Deverbal</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong>Ada sekelompok verba dalam bahasa Indonesia yang tanpa perubahan bentuk dapat berfungsi sebagai adjektiva. Verba-verba ini pada mulanya diturunkan dari kata dasar yang dibubuhi dengan afiks-afiks tertentu seperti <strong>(i) <em>meng-, </em>(ii) <em>meng-kan, </em>(iii) <em>ter-, </em>(iv) <em>ber-.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<ol>
<li><strong>b. </strong><strong>Adjektiva Denominal</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong>Ada dua proses morfologis yang dapat dikemukakan di sini. Yang pertama ialah nomina yang berprefiks <strong><em>pe(r)-</em></strong><em> </em>atau <strong><em>peng-</em></strong><em> </em>seperti <strong><em>pemalas</em></strong><em> </em>dan yang kedua ialah nomina yabg berkonfiks <strong><em>ke-an</em></strong><em> </em>yang mengalami reduplikasi.</p>
<p><strong><em>1. Adjektiva Bentuk </em>pe(r)- <em>atau </em>peng-</strong></p>
<p>Kelompok adjektiva ini berasal dari nomina yang mengandung makna <strong>‘yang ber-…’</strong> atau <strong>‘yang meng-…’.</strong></p>
<p>itu.</p>
<p><strong><em>2. Adjiktiva Bentuk </em>ke-an <em>dengan Reduplikasi</em></strong></p>
<p><em> </em>Adjektiva yang berpola <strong><em>ke-an</em></strong><em> </em>dengan reduplikasi memerikan sifat ‘mirip dengan’ apa yang diungkapkan oleh nomina yang menjadi dasar bentuk itu.</p>
<p align="center"><strong>ADVERBIA</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>1. BATASAN DAN CIRI ADVERBIA</p>
<p>Dilihat dari tatarannya, <strong>Adverbia </strong>adalah kata yang menjelaskan verba, adjektiva, atau adverbia lain. Pada contoh berikut adverbial <em>sangat </em>menjelaskan verba <em>mencintai,</em> adverbial <em>selalu </em>menjelaskan adjektiva <em>sedih</em>, dan adverbia hampir menjelaskan adverbial <em>selalu.</em></p>
<ol>
<li>Ia <em>sangat </em>mencintai istrinya.</li>
<li>Ia <em>selalu </em>sedih mendengar lagu itu.</li>
<li>Kami <em>hampir</em> selalu dimarahinya setiap pagi</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dalam tataran klausa, adverbia mewatasi atau menjelaskan fungsi-fungsi sintaktis. Umumnya kata atau bagian kalimat yang dijelaskan adverbia itu berfungsi sebagai predikat. Fungsi sebagai predikat ini bukan satu-satunya cirri adverbia karena adverbia juga dapat menerangakan kata atau bagian kalimat yang tidak berfungsi sebagai predikat.</p>
<p>Selain adverbia pada tataran frasa dan klausa, ada pula adverbia yang menerangkan seluruh kalimat. Jenis adverbia ini tidak terikat oleh unsur kalimat tertentu sehingga tempat atau posisinya dalam kalimat pun dapat berpindah-pindah.</p>
<p>Adverbia seperti <em>sebenarnya, sesungguhnya, mestinya, agaknya, </em>dan <em>tentu saja </em>juga mempunyai perilaku sintaktis yang sama. Karena perannya lebih cenderung merupakan penjelas kalimat, adverbia ini disebut juga <strong>keterangan kalimat.</strong></p>
<p>2. ADVERBIA DARI SEGI BENTUKNYA</p>
<p>Dari segi bentuknya, perlu dibedakan adverbia tunggal dari adverbia gabungan. <strong>Adverbia tunggal </strong>dapat diperinci lagi menjadi adverbia yang berupa kata dasar, yang berupa kata berafiks, serta yang berupa kata ulang. <strong>Adverbia gabungan </strong>dapat pula diperinci menjadi adverbia gabungan yang berdampingan dan yang tidak berdampingan.</p>
<p><strong>a. Adverbia Tunggal</strong></p>
<p><strong> </strong>Seperti sudah disebutkan di atas, adverbia tunggal dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu adverbia yang berupa kata dasar dan adverbia yang berupa kata berafiks.</p>
<ol>
<li><em>1. </em><em>Adverbia yang Berupa Kata Dasar</em></li>
</ol>
<p>Adverbia yang berupa kata dasar hanya terdiri atas satu kata dasar. Contohnya : baru         hampir                              segera</p>
<ol>
<li><em>2. </em><em>Adverbia yang Berupa Kata Berafiks</em></li>
</ol>
<p>Adverbia yang berupa kata berafiks diperoleh dengan menambahkan gabungan afiks <em>se—nya </em>atau afiks <em>–nya </em>pada kata dasar.</p>
<ol>
<li>Yang berupa penambahan gabungan afiks <em>se—nya </em>pada kata dasar:</li>
</ol>
<p>a. <em>Sebaiknya </em>kita segera membayarkan pajak itu.</p>
<p>b. Mereka <em>sesungguhnya </em>tidak bersalah.</p>
<p>2. Yang berupa penambahan <em>–nya </em>pada kata dasar:</p>
<p>a. <em>Agaknya </em>gurauan itu membuatnya marah.</p>
<p>b. Kamu ini pintar juga <em>rupanya.</em></p>
<p><em>3. Adverbia yang Berupa Kata Ulang</em></p>
<p><em> </em>Menurut bentuknya, adverbial yang berupa kata ulang dapat diperinci lagi menjadi empat macam.</p>
<ol>
<li>Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar:</li>
</ol>
<p>a. <em>Lekas-lekas </em>dia berdiri meninggalkan kami.</p>
<p>b. anak itu <em>pelan-pelan </em>membuka matanya.</p>
<p>2. Adverbia yang berupa penggabungan kata dasar dengan penambahan prefiks <em>se-:</em></p>
<p>a. <em>Setinggi-tinggi </em>bangau terbang, jatuhnya ke kubangan juga.</p>
<p>b. <em>Sesabar-sabar </em>wanita, kalau marah berbahaya.</p>
<p>3. Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahan sufiks <em>–an:</em></p>
<p><em> </em>a. Kami memarahinya <em>habis-habisan </em>kemarin.</p>
<p>b. <em>Gila-gilaan </em>ia memacu motornya.</p>
<p>4. Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahan gabungan afiks <em>se—nya:</em></p>
<p><em> </em>a. Burung itu terbang <em>setinggi-tingginya.</em></p>
<p><em> </em>b. Saya sudah ikhlas <em>seikhlas-ikhlasnya.</em></p>
<p><strong>b. Adverbia Gabungan</strong></p>
<p><strong> </strong>Adverbia gabungan terdiri atas dua adverbia yang berupa kata dasar. Kedua kata dasar yang merupakan adverbia gabungan itu ada yang berdampingan dan ada pula yang tidak berdampingan.</p>
<ol>
<li>Adverbia yang berdampingan:</li>
</ol>
<p><em>Lagi pula </em>rumahnya baru jadi minggu depan.</p>
<ol>
<li>Adverbia yang tidak berdampingan:</li>
</ol>
<p>Kamu hanya membuang-buang waktu <em>saja.</em></p>
<p>3. ADVERBIA DARI SEGI PERILAKU SINTAKTISNYA</p>
<p>Perilaku sintaktis adverbia dapat dilihat berdasarkan posisinya terhadap kata atau bagian kalimat yang dijelaskan oleh adverbia yang bersangkutan. Atas dasar itu, dapat dibedakan empat macam posisi adverbia, yaitu:</p>
<ol>
<li>Adverbia yang mendahului kata yang diterangkan:</li>
</ol>
<p>Ia <em>lebih</em> tinggi daripada adiknya.</p>
<ol>
<li>Adverbia yang mengikuti kata yang diterangkan:</li>
</ol>
<p>Tampan <em>nian </em>kekasih barumu</p>
<ol>
<li>Adverbia yang mendahului atau mengikuti kata yang diterangkan:</li>
</ol>
<p>Mahal <em>amat </em>harga barang-barang itu.</p>
<ol>
<li>Adverbia yang mendahului dan mengikuti kata yang diterangkan:</li>
</ol>
<p>Saya yakin <em>bukan </em>dia <em>saja </em>yang pandai.</p>
<p>Berdasarkan lingkup strukturnya itu, terdapat perbedaan antara bentuk yang mengacu pada tataran frasa dan bentuk yang mengacu pada tataran kalimat. Bentuk yang mengacu pada tataran frasa merupakan <strong>adverbia intraklausal, </strong>sedangkan bentuk yang mengacu pada tataran klausa merupakan <strong>adverbia ekstraklausal.</strong></p>
<p>4. ADVERBIA DARI SEGI PERILAKU SEMANTISNYA</p>
<p>Berdasarkan perilaku semantisnya, dapat dibedakan delapan jenis adverbia, yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>a. </strong><strong>Adverbia Kualitatif</strong></li>
</ol>
<p><strong> Adverbia kualitatif </strong>adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan tingkat, derajat, atau mutu. Yang termasuk adverbia ini adalah kata-kata seperti <em>paling, sangat, lebih, </em>dan <em>kurang.</em></p>
<p><strong>b. Adverbia Kuantitatif</strong><em> </em></p>
<p><em> </em><strong>Adverbia kuantitatif </strong>menggambarkan makna yang berhubungan dengan jumlah. Yang termasuk adverbial  ini, antara lain, kata <em>banyak, sedikit, kira-kira, </em>dan <em>cukup.</em></p>
<p><strong>c. Adverbia Limitatif</strong><em> </em></p>
<p><em> </em><strong>Adverbia limitatif </strong>adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan pembatasan. Kata-kata seperti <em>hanya, saja, </em>dan <em>sekadar.</em></p>
<p><strong>d. Adverbia Frekuentatif</strong><em> </em></p>
<p><em> </em><strong>Adverbia frekuentatif </strong>adalah makna yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan tingkat kekerapan terjadinya sesuatu yang diterangkan adverbia itu. Kata yang tergolong adverbia ini, misalnya, <em>selalu, sering, jarang, </em>dan <em>kadang-kadang.</em></p>
<p><strong>e. Adverbia Kewaktuan</strong></p>
<p><em> </em><strong>Adverbia kewaktuan </strong>adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan saat terjadinya peristiwa yang diterangkan oleh adverbia itu. Yang termasuk adverbia kewaktuan ialah bentuk seperti <em>baru </em>dan <em>segera.</em></p>
<p><strong>f. Adverbia Kecaraan</strong></p>
<p><em> </em><strong>Adverbia kecaraan </strong>adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan bagaimana peristiwa yang diterangkan oleh adverbia itu berlangsung atau terjadi. Yang termasuk adverbia kecaraan ini adalah bentuk-bentuk seperti <em>diam-diam, secepatnya, </em>dan <em>pelan-pelan.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>g. Adverbia Kontrastif</strong></p>
<p><strong>Adverbia kontrastif </strong>adalah adverbia yang menggambarkan pertentangan dengan makna kata atau dinyatakan sebelumnya. Yang termasuk dalam adverbia kontrastif adalah bentuk seperti <em>bahkan, malahan, </em>dan <em>justru.</em></p>
<p><strong>h. Adverbia Keniscayaan</strong></p>
<p><strong>Adverbia keniscayaan </strong>adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan kepastian tentang keberlangsungan atau terjadinya hal atau peristiwa yang dijelaskan adverbia itu. Yang termasuk adverbia keniscayaan adalah bentuk seperti <em>niscaya, pasti</em>, dan <em>tentu</em>.</p>
<p>5. ADVERBIA KONJUNGTIF</p>
<p><strong>Adverbia konjungtif </strong>adalah adverbia yang menghubungkan satu klausa atau klausa atau kalimat yang lain. Posisinya dalam kalimat boleh dikatakan agak bebas. Akan tetapi, biasanya adverbia konjungtif digunakan pada awal kalimat.</p>
<p>Adverbia konjungtif menghubungkan dua kalimat yang utuh. Karena kedua kalimat itu terpisah, subjek pada kalimat kedua tetap dipertahankan meskipun subjeknya sama dengan kalimat sebelumnya.</p>
<p>6. ADVERBIA PEMBUKA WACANA</p>
<p>Jika adverbia konjungtif menghubungkan dua kalimat dan mengawali suatu kalimat baru, <strong>adverbia pembuka wacana </strong>pada umumnya mengawali suatu wacana. Hubungannya dengan paragraph sebelumnya didasarkan pada makna yang terkandung pada pada paragraph sebelumya itu.</p>
<p>7. ADVERBIA DAN KELAS KATA LAIN</p>
<p>Dilihat dari segi bentuknya, salah satu jenis adverbia adalah adverbia tunggal. Selain dasar yang berkategori adverbia (misalnya <em>hampir </em>menjadi <em>hampir-hampir), </em>bentuk dasar adverbia tunggal dapat pula berupa verba, adjektiva, nomina, dan numeralia. Berdasarkan kategori bentuk dasarnya itu, adverbia tunggal masing-masing disebut adverbia deverbal, adverbia deadjektival, adverbia denominal, dan adverbia denumeral.</p>
<p><strong>a. Adverbia Deverbal</strong></p>
<p><strong> Adverbia deverbal </strong>dibentuk dari dasar yang berkategori verba. Adverbia <em>kira-kira, sekiranya, terlalu, </em>dan <em>tahu-tahu </em>masing-masing diturunkan dari verba <em>tiba, kira, lalu,</em>dan <em>tahu.</em></p>
<p><strong>b. Adverbia deadjektival</strong></p>
<p><em> </em><strong>Adverbia deadjektival </strong>diturunkan dari adjektiva, baik melalui reduplikasi maupun afiksasi. Adverbia <em>diam-diam, sebaiknya, sebenarnya, </em>dan <em>setinggi-tingginya </em>masing-masing diturunkan dari dasar <em>diam, baik, benar</em>, dan <em>tinggi </em>yang berkategori adjektiva.</p>
<p><strong>c. Adverbia Denominal</strong></p>
<p><strong>Adverbia denominal </strong>dibentuk dari dasar yang berkategori nomina. Adverbia <em>rupanya, agaknya, </em>dan <em>malam-malam </em>diturunkan dari kata <em>rupa, agak, naga, </em>dan <em>malam </em>yang berkategori nomina.</p>
<p><strong>d. Adverbia Denumeral</strong></p>
<p><strong>Adverbia denumeral </strong>seperti halnya nomina, numeralia juga dapat membentuk adverbia. Adverbia <em>dua-dua, setengah-setengah </em>dan <em>sedikit-sedikit, </em>masing-masing diturunkan dari numeralia <em>dua, setengah, </em>dan <em>sedikit.</em></p>
<p><em>Sumber : Buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia</em></p>
<br />Posted in Bahasa Indonesia  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dynee.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dynee.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dynee.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dynee.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dynee.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dynee.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dynee.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dynee.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dynee.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dynee.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dynee.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dynee.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dynee.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dynee.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=47&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/verba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/269cd53d5a9e2fc8fa43fc1c2c91aae5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dynee</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nomina</title>
		<link>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/nomina/</link>
		<comments>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/nomina/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 13:08:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dynee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dynee.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[NOMINA a.     Batasan dan Ciri Nomina Nomina, yang sering juga disebut kata benda, dapat dilihat dari tiga segi yakni segi semantik, segi sintaktis, dan segi bentuk. Dari segi semantic, kita dapat mengatakan bahwa nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian. Dengan demikian, kata seperti guru, kucing, meja, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=44&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>NOMINA</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong>a.     Batasan dan Ciri Nomina</strong></p>
<p><strong> Nomina, </strong>yang sering juga disebut <strong>kata benda, </strong>dapat dilihat dari tiga segi yakni segi semantik, segi sintaktis, dan segi bentuk. Dari segi semantic, kita dapat mengatakan bahwa nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian. Dengan demikian, kata seperti <em>guru, kucing, meja</em>, dan <em>kebangsaan </em>adalah nomina. Dari segi sintaktisnya nomina mempunyai cirri-ciri tertentu.</p>
<ol>
<li>Dalam kalimat yang predikatnya verba, nomina cenderung menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap.</li>
<li>Nomina tidak dapat diingkarkan dengan kata <em>tidak. </em>Kata pengingkarnya ialah <em>bukan.</em></li>
<li>Nomina umumnya dapat diikuti oleh adjektiva, baik secara langsung maupun dengan diantarai oleh kata <em>yang.</em></li>
<li><strong>b. </strong><strong>Nomina dari segi perilaku semantisnya</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong>Tiap kata mengandung fitur – fitur semantik yang secara universial melekat pada kata tersebut. Misal kata <em>jeruk</em><strong>, </strong>mengandung fitur semantik yang mencakup warna , ukuran, berat, dan bentuk yang bundar.</p>
<ol>
<li><strong>c. </strong><strong>Nomina Dari Segi Perilaku Sintaktisnya</strong></li>
</ol>
<p>Nomina berfungsi sebagai inti atau poros frasa, nomina menduduki bagian utama, bila pewatas frasa nominal itu berada di muka, pewatas ini umumnya berupa numeralia atau kata tugas. Contoh :</p>
<p>lima lembar</p>
<p>seorang guru</p>
<p>beberapa sopir</p>
<p>Nomina juga digunakan dalam frasa preposisional, nomina bertindak sebagai poros yang didahului preposisi tertentu. Contoh :</p>
<p>Di kantor</p>
<p>Ke desa</p>
<p>Dari markas</p>
<p>Nomina tunggal  maupun bentuk frasa, nomina menduduki posisi subyek, obyek, pelengkap, keterangan.</p>
<ol>
<li><strong>d. </strong><strong>Nomina dari Segi Bentuknya</strong></li>
</ol>
<p><strong> </strong>Dilihat dari segi bentuk morfologisnya, nomina terdiri atas dua macam, yakni (1) nomina yang berbentuk kata dasar dan (2) nomina turunan. Penurunan nomina ini dilakukan dengan (a) afiksasi, (b) perulangan, atau (c) pemajemukan. Secara skematis, nomina bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.</p>
<p><em>1. Nomina Dasar</em></p>
<p><em> </em><strong>Nomina dasar </strong>adalah nomina yang hanya terdiri atas satu morfem. Berikut adalah beberapa contoh nomina dasar yang dibagi menjadi nomina dasar umum dan nomina dasar khusus.</p>
<p>a. Nomina Dasar Umum</p>
<p>gambar                                           tahun</p>
<p>meja                                                pisau</p>
<p>b. Nomina Dasar Khusus</p>
<p>adik                                                bawuk</p>
<p>atas                                                 farida</p>
<p>Dalam kelompok nomina dasar khusus dapat kita temukan bermacam-macam subkategori kata dengan beberapa fitur semantiknya.</p>
<p>1. Nomina yang diwakili oleh <em>atas, dalam, bawah</em>, dan <em>muka </em>mengacu pada tempat seperti <em>di atas, di bawah, di dalam.</em></p>
<p>2. Nomina yang diwakili oleh <em>Pekalongan </em>dan <em>Pontianak </em>mengacu pada nama geografis.</p>
<p>3.Nomina yang diwakili oleh <em>butir </em>dan <em>batang </em>menyatakan penggolongan kata berdasarkan bentuk rupa acuannya secara idiomatic.</p>
<p>4. Nomina yang diwakili oleh <em>Farida </em>dan <em>Bawuk </em>mengacu pada nama diri orang.</p>
<p>5. Nomina yang diwakili oleh <em>paman </em>dan <em>adik </em>mengacu pada orang yang masih mempunyai hubungan kekerabatan.</p>
<p>6. Nomina yang diwakili oleh <em>Selasa </em>dan <em>Kamis </em>mengacu pada nama hari.</p>
<p><em>2. Nomina Turunan</em></p>
<p>Nomina dapat diturunkan melalui afiksasi, perulangan, atau pemajemukan. <strong>Afiksasi nomina </strong>adalah suatu proses pembentukan nomina dengan menambahkan afiks tertentu pada kata dasar. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam penurunan nomina dengan afiksasi adalah bahwa nomina tersebut memiliki sumber penurunan dan sumber ini belum tentu berupa kata dasar. Nomina turunan seperti <em>kebesaran </em>memang diturunkan dari kata dasar <em>besar </em>sebagai sumbernya<em>,</em> tetapi <em>pembesaran </em>tidak diturunkan dari kata dasar yang sama, <em>besar</em>, tetapi dari verba <em>membesarkan.</em></p>
<p><em>3. Afiks dalam Penurunan Nomina</em></p>
<p><em> </em>Pada dasarnya ada tiga prefiks dan satu sufiks yang dipakai untuk menurunkan nomina, yaitu prefiks <em>ke-, per-</em>, dan <em>peng- </em>serta sufiks <em>–an</em>. Karena prefiks dan sufiks dapat bergabung, seluruhnya ada tujuh macam afiksasi dalam penurunan nomina:</p>
<p>(1) ke-                  (4) –an</p>
<p>(2) per-               (5) peng&#8211;an</p>
<p>(3) peng-             (6) per—an</p>
<p><em>4. Morfofonemik Afiks Nomina</em></p>
<p><em> </em>Morfofonemik afiks nomina sama dengan morfofonemik afiks verba. Misalnya, bila dalam verba prefiks <em>meng- </em>berubah menjadi <em>men- </em>waktu ditempelkanpada suku yang dimulai dengan fonem /d/ (<em>meng- + dapat → mendapat</em>), maka hal yang sama juga terjadi pada nomina: <em>peng- </em>berubah menjadi <em>pen- </em>bila diikuti /d/ (<em>peng- + datang → pendatang</em>).</p>
<ol>
<li><strong>e. </strong><strong>Morfologi dan Semantik Nomina Turunan</strong></li>
</ol>
<p>Kata dasar tertentu dapat langsung menjadi nomina dengan memakai afiks tertentu, yang menyatakan orang yang atau alat untuk (verba). Berikut adalah penurunan nomina dengan berbagai afiks.</p>
<ol>
<li>Penurunan Nomina dengan ke –</li>
</ol>
<p>Yang dapat disebutkan ialah ketua, kehendak, kekasih, dan kerangka.</p>
<p>Ada banyak nama tumbuhan dan binatang yang dimulai dengan  ke- misalnya kelapa,kemiri,dan kepiting.</p>
<ol>
<li>Penurunan nomina dengan pel-, per-, dan pe-.</li>
</ol>
<p>Nomina yang di turunkan dengan perl- hanya terbatas dengan satu kata dasar. Contoh: ajar yang menurunkan nomina pelajar.</p>
<p>Nomina yang di turunkan dengan fungsi predikat.per- itu banyak, karena nomina dengan per- berkaitan erat dengan verba yang berafiks ber-. Namun, dalam pertumbuhannya banyak nomina per- yang tidak lagi mempertahankan / r /- nya sehingga hanya muncul dengan pe- saja. Yang masih mempertahankan adalah pertapa                  bertapa</p>
<p>Nomina lain yang berkaitan dengan verba ber- tetapi muncul dengan bentuk pe-. Misalnya petani  bertani</p>
<ol>
<li>PenurunanNomina dengan peng-</li>
</ol>
<p>Alomorf pem-, pen-, peny-, pe-, peng- dan penge- sangat produktif dalam bahasa kita. Sumber untuk penurunan ini adalah verba atau adjektiva. contoh penyanyi : orang profesinya menyanyi.</p>
<p>Pengawas : orang yang mengawasi</p>
<p>Penakut : orang yang sifatnya mudah takut</p>
<p>Penggali : alat untuk atau oaring yang menggali</p>
<ol>
<li>Penurunan nomina dengan – an</li>
</ol>
<p>Umumnya di turunkan dari sumber verba walaupun kata dasarnya adalah kelas kata lain. Arti umum yang dinyatakan oleh nomina dengan – an, ialah ‘ hasil tindakan , atau sesuatau yang dinyatakan oleh verba’. Contoh :</p>
<p><strong>anjuran </strong>: hasil menganjurkan atau sesuatu yang di anjurkan</p>
<p><strong>kiriman </strong>: hasil mengirim atau sesuatu yang dikirimkan</p>
<p>Disamping makna di atas ada juga nomina dengan –an yang berkaitan dengan makna lokasi. Contoh :</p>
<p><strong>Tepian</strong> : tempat menepi</p>
<p><strong>Awalan</strong> : yang ditempatkan di awal</p>
<ol>
<li>Penurunan nomina dengan peng-an</li>
</ol>
<p>Pada umumnya <em>peng-an</em> diturunkan dari verba dengan <em>meng- </em>yang berstatus transitif. Apabila ada dua verba dengan kata dasar yang sama dan salah satu verba ini berstatus transitif , sedangkan yang lain berstatus taktransitif maka verba transitiflah yang menjadi sumber penurunan nomina dengan <em>peng-an. </em>Misalnya dalam bahasa Indonesia kita menemukan verba <em>bersatu </em>dan <em>menyatukan.</em> Nomina penyatuan tidak di turunkan dari verba taktransitif bersatu tetapi dari verba transitif menyatukan. Kesimpulan ini di ambil Karen 1. Adanya keterkaitan makna antara peyatuan dan menyatukan, yakni bahwa penyatuan adalah suatu perbuatan menyatukan.</p>
<p>2. Nominaliasai ini mempunyai keselarasan sintaksis</p>
<p>Penurunan nomina dengan <em>peng- an</em> sangat produktif, sehingga boleh di katakan setiap ada verba transitif pasti dapat di turunkan menjadi nomina peng-an. Keproduktifan proses ini bisa juga memunculkan nomina yang belum lazim di pakai, tetapi penutur asli dapat menerka dengan tepat apa makna bentukan ini. Misal kita memiliki adjektiva hitam dan verba menghitamkan. Seperti halnya dengan nomina peng-, nomina dengan peng-an juga mempunyai alomorf  : <em>peng-an, pen-an, pem-an, penge-an, meny-an, pe-an.</em></p>
<ol>
<li>Penurunan Nomina dengan per-an</li>
</ol>
<p>Nomina ini diturunkan dari verba, tetapi umumnya dari verba taktransitif dan berawalan ber-. Contoh :</p>
<p>Perjanjian ← Berjanji</p>
<p>Pergerakan← Bergerak</p>
<p>Melihat keajekan korelasi bentuk nomina <em>per-an</em> dengan verba <em>ber-</em>, nomina <em>perlawanan</em> dan <em>permintaan. </em>Mungkin berkaitan dengan verba masa dahulu <em>berlawanan</em> dan <em>berminta</em>, tetapi kini orang lebih menkaitkannya dengan verba <em>melawan</em> dan <em>meminta. </em></p>
<p>Makna umum nomina dengan <em>per-an </em>adalah</p>
<ol>
<li>hal, keadaan, atau hasil yang dinyatakan oleh verba ( <strong>Contoh : </strong>pergerakan – hal atau keadaan bergerak )</li>
<li>perbuatan yang dinyatakan oleh verba ( <strong>Contoh :</strong> perkelahian – perbuatan berkelahi )</li>
<li>hal yang berkaitan dengan kata dasar ( <strong>Contoh :</strong> perikanan – yang berkaitan dengan ikan )</li>
<li>tempat yang dirujuk oleh verba atau kata dasar (<strong> Contoh :</strong> perkotaan – tempat mendirikan kota / berkota )</li>
</ol>
<p>Disamping kedua cara ini adapula nomina yang diturunkan dengan <em>pe-an </em> seperti <em>pegunungan </em>dan <em>pedesaan. </em>Dalam kasus lain, bentuk <em>peng-an</em> bersaing dengan bentuk <em>per-an</em> tanpa ada perbedaan makna</p>
<p>g.. Penurunan nomina dengan ke-an</p>
<p>Nomina ini diturunkan dari sumber verba, adjektiva, atau nomina. Makna nomina ini bergantung pada nomina yang di pakai. Contoh :</p>
<p><strong>Kepergian – hal yang berhubungan dengan pergi</strong></p>
<p><strong>Kehadiran – hal yang berhubungan dengan hadir</strong></p>
<p>Sama halnya ke-an dengan verba, ke-an dengan adjektiva juga bermakna “hal atau keadaan yang berhubungan dengan yang dinyatakan adjektiva”.</p>
<p>Contoh : <strong>kekosongan – keadaan kosong</strong></p>
<p><strong> Keberanian – keadaan berani</strong></p>
<p>Bila sumbernya adalah nomina, maknanya merujuk pada: (a) keabstrakan atau (b) kantor atau wilayah kekuasaan. Cirri keabstrakan ni sebenarnya terdapat juga pada ke-an dengan adjektiva. Contoh : kebangsaan – hal mengenai bangsa</p>
<p>h.. Kontras antarnomina</p>
<p>Karena kata dasar dapat diberi afiks yang berbeda-beda, banyak nomina perlu benar-benar mempertimbangkan perbedaan bentuk dan maknanya. <strong>Contoh : </strong>Penyerahan – perbuatan menyerahkan</p>
<p>Dari contoh di atas tampak bahwa beberapa nomina dengan dasar yang sama dalam bahasa kita menimbulkan makna yang berbeda-beda. Karena makna sufiks <strong>–an </strong>adalah hasil yang dinyatakan verba (<strong>lukisan</strong>, “hasil lukisan” ) maka hasil menyerahkan harusnya adalah <strong>serahan. </strong> Tidak muncuknya suatu bentuk yang potensial dpat juga karena adanya bentuk lain yang kebetulan telah dipakai di dalam masyarakat.</p>
<ol>
<li> i.      Nomina dengan dasar Polimorfemis</li>
</ol>
<p>Ada dua kelompok kata turunan yang waktu diturunkan menjadi nomina tidak menanggalkan prefiksnya, tetapi menjadi sumber bagi pengimbuhan yang lebih lanjut. Contoh :</p>
<p><strong> berangkat        keberangkatan                        pemberangkatan       -</strong></p>
<ol>
<li>Penurunan nomina dengan –el-, -er-, -em-, dan -in-.</li>
</ol>
<p>Penurunan nomina dengan memakai infiks, yakni imbuhan yang disisipkan, tidaklah produktif lagi. Contoh : tunjuk – telunjuk, sambut – serambut, kuning – kemuning, kerja – kinerja.</p>
<ol>
<li>Penurunan nomina dengan –wan/-wati</li>
</ol>
<p>Nomina dengan afiks –wan/–wait mengacu kepada (a) orang yang ahli dalam bidang tertentu, (b) orang yang mata pencaharian atau pekerjaannya  dalam bidang tertentu. Pada masa lampau alomorf –wan diletakkanpada dasar yang  berakhir dengan fonem /i/, seperti terlihat pada kata <strong>budiman </strong>dan <strong>seniman.</strong></p>
<p>Alomorf –wati dipaki untuk mengacu pada perempuan. Misalnya : <strong>karyawati, karyawan . </strong>kaidah untuk menentukan bentuk mana yang dipakai bersifat idiomatis.</p>
<ol>
<li>Penurunan nomina dengan –at/ -in dan –a/ -i</li>
</ol>
<p>Nomina ini diturunkan sufiks –at/ -in yang maknanya berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin atau jumlah. Contoh :</p>
<p><strong>Muslim         muslimat         muslimin</strong></p>
<ol>
<li>Penurunan nomina dengan –isme, -(is)asi, -logi, dan –tas</li>
</ol>
<p>Nomina ini dipungut dari bahasa asing, ;ambat laun menjadi produktif sehingga dianggap layak. Contoh :</p>
<p><strong>Komunisme             sukuisme </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em> </em></p>
<p align="center"><strong>NUMERALIA</strong></p>
<p><strong>Numeralia </strong>atau <strong>kata bilangan </strong>adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya wujud (orang, binatang, atau barang) dan konsep. Frasa seperti <em>lima hari, setengah abad, orang ketiga, dan beberapa masalah </em>mengandung numeralia, yakni masing-masing, <em>lima, setengah,ketiga,</em> dan <em>beberapa.</em></p>
<p>Ada dua macam numeralia: (1) <strong>numeralia pokok</strong>, yang memberi jawab atas pertanyaan “Berapa?” dan (2) <strong>numeralia tingkat </strong>yang memberi jawab atas pertanyaan “Yang keberapa?”. Numeralia pokok juga disebut <strong>numeralia cardinal</strong>, sedangkan numeralia tingkat disebut pula <strong>numeralia ordinal.</strong></p>
<p><strong> a. Numeralia Pokok</strong></p>
<p><strong><em> </em></strong> Numeralia pokok adalah bilangan dasar yang menjadi sumber dari bilangan-bilangan yang lain. Numeralia pokok terbagi menjadi numeralia:</p>
<ol>
<li><em>1. </em><em>Numeralia Pokok Tentu</em></li>
</ol>
<p><em> </em>Numeralia pokok tentu mengacu pada bilangan pokok, yakni:</p>
<p>0         -         nol                 5          -           lima</p>
<p>1         -         satu                6          -           enam</p>
<p>2         -         dua                7          -           tujuh</p>
<p>3         -         tiga                8          -           delapan</p>
<p>4         -         empat                        9          -           sembilan</p>
<p>Di samping numeralia di atas, ada pula numeralia lain yang merupakan <strong>gugus</strong>. Untuk bilangan di antara <em>sepuluh </em>dan <em>dua puluh </em>dipakai gugus yang berkomponen <em>belas.</em></p>
<ol>
<li><em>2. </em><em>Numeralia Pokok Kolektif</em></li>
</ol>
<p><em> </em>Numeralia pokok kolektif dibentuk dengan prefiks <em>ke- </em>yang ditempatkan di muka nomina yang diterangkan.</p>
<p>Jika tidak diikuti oleh nomina, biasanya bentuk itu diulang dan dilengkapi dengan <em>–nya.</em></p>
<p><em> </em>Numeralia kolektif dapat dibentuk juga dengan cara berikut.</p>
<p>a. Penambahan prefiks <em>ber- </em>atau kadang-kadang <em>se- </em>pada nomina tertentu setelah numeralia.</p>
<p>b. Penambahan prefiks <em>ber- </em>pada numeralia pokok dan hasilnya diletakkan sesudah pronomina persona <em>kamu, kami, kita</em>, atau <em>mereka</em>.</p>
<p>c. Pemakaian numeralia yang berafiks <em>ber- </em>dan yang diulang.</p>
<p>d. Pemakaian gugus numeralia yang bersufiks <em>–an.</em></p>
<p><em>3. Numeralia Pokok Distributif</em></p>
<p><em> </em>Numeralia pokok distributive dapat dibentuk dengan cara mengulang kata bilangan. Artinya ialah (1) ‘…demi…’, (2) ‘masing-masing’.</p>
<p>Kata <em>(se)tiap, tiap-tiap</em>, dan <em>masing-masing </em>termasuk numeralia distributive juga. <em>(se)tiap </em>atau <em>tiap-tiap </em>mempunyai arti yang sangat mirip dengan <em>masing-masing, </em>tetapi kata <em>masing-masing </em>dapat berdiri sendiri tanpa nomina, sedangkan <em>(se)tiap </em>dan <em>tiap-tiap </em>tidak.</p>
<p><em>4. Numeralia Pokok Tertentu</em></p>
<p><em> </em><strong>Numeralia pokok tertentu </strong>mengacu pada jumlah yang tidak pasti dan sebagian besar numeralia ini tidak dapat  menjadi jawaban atas pertanyaan yang memakai kata tanya <em>berapa</em>. Yang termasuk ke dalam numeralia tertentu adalah <em>banyak, berbagai, pelbagai, semua, seluruh, segala</em>, dan <em>segenap</em>. Numeralia pokok tertentu ditempatkan di muka nomina yang diterangkannya.</p>
<p><em>5. Numeralia Pokok Klitika</em></p>
<p><em> </em>Di samping numeralia pokok yang telah disebutkan, ada pula numeralia lain yang dipungut dari bahasa Jawa Kuna, tetapi numeralia itu umumnya berbentuk proklitika. Jadi, numeralia macam itu dilekatkan di muka nomina yang bersangkutan.</p>
<p><em>6. Numeralia Ukuran</em></p>
<p><em> </em>Bahasa Indonesia mengenal pula beberapa nomina yang menyatakan ukuran, baik yang berkaitan dengan berat, panjang-pendek, maupun jumlah. Misalnya, <em>lusin, kode, meter, liter</em>, atau <em>gram</em>. Nomina ini dapat didahului oleh numeralia sehingga terciptalah numeralia gabungan.</p>
<p><strong>b. Numeralia Tingkat</strong></p>
<p><strong> </strong>Numeralia pokok dapat diubah menjadi <strong>numeralia tingkat</strong>. Cara mengubahnya adalah dengan menambahkan <em>ke- </em>di muka bilangan yang bersangkutan. Khusus untuk bilangan satu dipakai pula istilah <em>pertama</em>.</p>
<p><strong>c. Numeralia Pecahan</strong></p>
<p><strong> </strong>Tiap bilangan pokok dapat dipecah menjadi bagian yang lebih kecil yang dinamakan <strong>numeralia pecahan</strong>. Cara membentuk numeralia itu ialah dengan memakai kata <em>per- </em>di antara bilangan pembagi dan penyebut. Dalam bentuk huruf, <em>per- </em>ditempelkan pada bilangan yang mengikutinya. Dalam bentuk angka, dipakai garis yang memisahkan kedua bilangan itu.</p>
<p><strong>d. Frasa Numeralia</strong></p>
<p><strong> </strong>Umumnya, frasa numeralia dibentuk dengan menambahkan kata penggolong. Contoh:</p>
<p>Dua ekor (kerbau)</p>
<p>Lima orang (penjahat)</p>
<p>Tiga buah (rumah)</p>
<p><em>Sumber : Buku Tata Bahasa Baku Indonesia</em></p>
<br />Posted in Bahasa Indonesia  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dynee.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dynee.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dynee.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dynee.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dynee.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dynee.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dynee.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dynee.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dynee.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dynee.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dynee.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dynee.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dynee.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dynee.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=44&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/nomina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/269cd53d5a9e2fc8fa43fc1c2c91aae5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dynee</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kraton Sebagai Cagar Budaya</title>
		<link>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/kraton-sebagai-cagar-budaya/</link>
		<comments>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/kraton-sebagai-cagar-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 12:57:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dynee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/kraton-sebagai-cagar-budaya/</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Masyarakat dan kebudayaan tidak dapat dipisah-pisahkan satu dengan yang lain. Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan. Kebudayaan tidak akan ada jika tidak ada masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya. (Sumaryadi, 1997) Kebudayaan yang dihasilkan manusia akan terus berkembang seiring dengan bertambahnya kebutuhan manusia juga mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan yang terjadi pun tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=42&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Masyarakat dan kebudayaan tidak dapat dipisah-pisahkan satu dengan yang lain. Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan. Kebudayaan tidak akan ada jika tidak ada masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya. (Sumaryadi, 1997)</p>
<p>Kebudayaan yang dihasilkan manusia akan terus berkembang seiring dengan bertambahnya kebutuhan manusia juga mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan yang terjadi pun tidak lepas dari pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan. Pengaruh dari dalam yaitu sikap masyarakat dalam menanggapi perkembangan zaman yang dapat berupa pergeseran nilai dan sistem sosial. Sedangkan pengaruh dari luar dapat berupa kontak dengan budaya lain hingga tebentuklah suatu akulturasi kebudayaan.</p>
<p>Kraton merupakan salah satu bentuk dari akulturasi kebudayaan yang sungguh layak dijadikan sebuah studi kebudayaan. Kraton Mangkunegaran adalah salah satu cagar budaya yang patut dilestarikan, yang menjadi saksi bisu perkembangan kota Solo dan masyarakatnya.</p>
<p>Namun, dengan adanya perkembangan teknologi dan modernisasi yang melanda negeri ini, banyak generasi muda yang kurang mengetahui dan hanya sedikit yang peduli dengan cagar budaya tersebut.</p>
<p><strong>Pelestarian Ketiga Wujud kebudayaan di Kraton Mangkunegaran </strong></p>
<p>Kraton sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang sangat menarik untuk dipelajari terutama segi budayanya. Baik berupa adat istiadat, sistem sosial, maupun kebudayaan fisiknya. Dapat dikatakan dalam sebuah kraton terdapat ketiga wujud kebudayaan yaitu ide/gagasan, tindakan, dan artefak.</p>
<p>Sosok keraton yang menjadi simbol budaya Jawa, sampai saat ini masih eksis baik secara fisik komunitas maupun ritualnya. Salah satu objek wisata budaya yang terkenal di Solo, Jawa tengah adalah Istana atau Pura Mangkunegaran, tempat kediaman resmi Mangkunagoro. Wujud budaya ide/gagasan dalam bentuk adat istiadat di kraton ini masih begitu kuat. Tempat-tempat dan benda-benda yang ada di sana memiliki filosofi dan mitos-mitos tertentu yang sampai sekarang masih bertahan karena masyarakat yang melestarikannya. Misalnya: makna warna lukisan pada langit-langit di tengah pendopo. Kuning (mencegah ngantuk), Biru   (mencegah musibah), Hitam (mencegah lapar), Hijau (mencegah frustasi), Putih (mencegah pikiran seks/birahi), Orange (mencegah ketakutan), Merah (mencegah pengaruh setan), dan Ungu (mencegah pikiran jahat). Juga dalam penempatan tempat tinggal, perempuan dan laki-laki terpisah. Terdapat dua pavilion, pavilion timur ; Bale Peni untuk tempat tinggal pangeran dan anak laki-laki, pavilion barat ; Bale Warni untuk yempat tinggal permaisuri dan anak perempuan.</p>
<p>Wujud sistem social nampak dari penempatan benda-benda pun ada aturannya dan perawatannya pun perlu syarat-syarat khusus, misal; sebuah benda harus diberi sesajen dan orang yang memberi sesajen harus berpuasa terlebih dahulu. Juga beberapa ritual-ritual dan peringatan besar masih sering dilakukan. Misal <em>Krobongan </em>untuk sesaji malam jumat kliwon dan selasa kliwon, serta  peringatan wafatbta Pangeran Mangkunegoro yang dilakukan sebanyak 8x setahun.</p>
<p>Sungguh banyak peninggalan artefak dari mulai gedung, foto-foto, sampai benda-benda prbadi. Dari wujud artefak ini dapat terlihat jelas akulturasi budaya yang ada di sana. Istana Mangkunegaran merupakan model rumah bangunan Jawa tradisional dan didirikan oleh Mangkunagoro II dari tahun 1804-1866. Istana Mangkunegaran memiliki 3 bangunan utama, yaitu :</p>
<ol>
<li>Pendopo; dipakai untuk mengadakan resepsi-resepsi dan pentas tari-tarian jawa. Di sana terdapat gamelan pusaka “Kyai Kanyut Mesem” ( tertarik untuk tersenyum) yang berusia kira-kira 200 tahun. Lukisan-lukisan pada langit-langit di tengah pendopo perlu diperhatikan. Lukisan itu ditulis oleh Liem Tho Hien pada tahun 1937 dan designnya oleh Mr. Karsten dari Belanda.</li>
<li>Dalem Ageng; tempat diadakannya upacara-upacara tradisional dan memiliki bentuk limasan  (dengan 8 buah soko guru). Dalem tidak memiliki plafond sehingga rusuk-rusuk dan reng-reng dapat dilihat yang merupakan simbol dari matahari.</li>
<li>Paringgitan; bentuk bangunan kutuk ngambang, digunakan untuk upacara kaul-kaulan memperingati wafatnya pangeran Mangkunegoro (biasanya 8x setahun.</li>
</ol>
<p>Semua benda-benda koleksi itu dijaga dan dipelihara dengan baik. Adapun tujuan dan maksud koleksi adalah untuk menunjukkan bahwa kebudayaan kita di masa lampau telaj begitu tinggi adat serta peradabannya. Untuk itu dalam koleksi ini dioamerkan sebagian budaya bangsa yang selama ini tenggelam.</p>
<p>Dengan membeli benda-benda dari perak dan emas yang dibuat oleh pandai emas Jawa kuno diperoleh gambaran jelas bagaimana kermampuan mereka saat itu.</p>
<p>Namun niat dari kraton tersebut kurang mulus dalam prakteknya. Lingkungan dan wilayah kraton yang luas membutuhkan pemeliharaan yang biayanya tidak sedikit. Apalagi koleksi-koleksi barang-barang antic yang ada di sana memerlukan perawatan khusus agar tidak termakan usia.</p>
<p>Sementara selama ini income kraton juga diperoleh dari kunjungan-kunjungan. Sedangkan sekarang minat generasi muda terhadap kraton sudah sangat kurang. Mereka lebih senang mengunjungi mall-mall dan tempat-tempat yang berbau modernisasi.</p>
<p>Kita memang harus mengikuti perkembangan zaman, tapi tidak lantas melupakan budaya lokal. Harusnya budaya lokal itu dimodernisasikan, dalam artian diperbaiki yang rusak tanpa merubah wujud aslinya, dan dipromosikan dengan lebih menarik.</p>
<p>Di samping tuntutan pengelolaan dan pemeliharaan yang baik dari pihak pengelola pekerjaan utama adalah menumbuhkan minat dan peduli budaya. Hal itu dapat dimulai dari penanaman apresiasi budaya dalam pendidikan formal mupun nonformal. Diusahakan rasa memilki budaya sendiri itu ditanamkan sejak dini agar kelak dewasa bisa peduli dan ikut melestarikannya.</p>
<p>Macam-macam benda yang dipamerkan di museum Mangkunegaran antara lain :</p>
<ol>
<li>Kereta</li>
<li>Arca logam</li>
<li>Batu</li>
<li>Peralatan dari logam</li>
</ol>
<p>Adapula beberapa kelompok cincin. Yaitu:</p>
<ol>
<li>Cincin tepung gelang</li>
<li>Cincin terbuka dan anting-anting</li>
<li>Gelang tangan dan gelang kaki</li>
<li>Rantai/kalung</li>
</ol>
<p>5. Senjata-senjata</p>
<p>6. Lukisan dan foto</p>
<p>7. Topeng-topeng dari Bali, Cirebon, Solo, Yogya, dan Malang</p>
<p>8. Pakaian tari (tari Srimpi dan tari Langendriya)</p>
<p>9. Tanda Penghargaan</p>
<p>10. Koleksi Kristal</p>
<p>11. Kaligrafi</p>
<p>12. Dan lain-lain</p>
<p>Semua barang-barang tersebut ditempatkan di ndalem ageng (museum) dan sekarang dapat dilihat oleh umum agar bangsa kita mendapatkan rasa harga diri karena barang-barang tersebut adalah karya bangsa kita sendiri.</p>
<p>Tampaklah bahwa Kraton sebagai cagar budaya juga merupakan wisata yang menarik.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Kraton sebagai cagar budaya yang menanpilkan wujud asli budaya lokal Indonesia, harus lebih mendapat perhatian pemerintah dan kepedulian masyarakatnya juga penting. Kraton harus menjadi suatu kebanggaan warganya, sehingga warga tidak hanya membanggakan mall, hotel dan gedung-gedung yang tinggi dan megah. Untuk sebuah kebanggaan itu diperlukan pemahaman budaya yang harus ditanamkan pada generasi muda.</p>
<p>Sosialisasi cagar budaya perlu dilakukan sejak dini, dari mulai anak-anak hingga remaja. Sehingga dapat dilakukan pengenalan budaya sejak dini dengan harapan akan melekat pada diri warga agar kelak dapat ikut melestarikannya.</p>
<p>http://hasheem.wordpress.com/bahan-ajar/materi-ips-kls-vii/</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dynee.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dynee.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dynee.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dynee.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dynee.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dynee.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dynee.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dynee.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dynee.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dynee.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dynee.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dynee.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dynee.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dynee.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=42&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/kraton-sebagai-cagar-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/269cd53d5a9e2fc8fa43fc1c2c91aae5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dynee</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>bebaaaaaas..tp bingung!!</title>
		<link>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/bebaaaaaas-tp-bingung/</link>
		<comments>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/bebaaaaaas-tp-bingung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 12:48:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dynee</dc:creator>
				<category><![CDATA[stOrY!!!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dynee.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[wah..alhamdulilah akhirnya selese juga masa semster 2 ini. gx terasa dulu pertama ke jogja bawaannya nangis mulu pengen pulng. sekarang saatnya pengen pulang,, malah berat ninggalin kampus, kosan, teman2, ma organisasi. pie iki??? dasar manusia&#8230; // Posted in stOrY!!!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=39&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>wah..alhamdulilah akhirnya selese juga masa semster 2 ini. gx terasa dulu pertama ke jogja bawaannya nangis mulu pengen pulng. sekarang saatnya pengen pulang,, malah berat ninggalin kampus, kosan, teman2, ma organisasi. pie iki??? dasar manusia&#8230; //</p>
<br />Posted in stOrY!!!  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dynee.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dynee.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dynee.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dynee.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dynee.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dynee.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dynee.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dynee.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dynee.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dynee.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dynee.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dynee.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dynee.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dynee.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=39&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/bebaaaaaas-tp-bingung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/269cd53d5a9e2fc8fa43fc1c2c91aae5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dynee</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hanya Mendung yang Tersisa</title>
		<link>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/hanya-mendung-yang-tersisa/</link>
		<comments>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/hanya-mendung-yang-tersisa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 12:32:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dynee</dc:creator>
				<category><![CDATA[karya Ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dynee.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Hanya Mendung yang Tersisa Oleh Dini Nurul Huda Di tengah terik matahari yang menyengat serasa memanggang ubun-ubun. Gemerisik dedaunan yang merangas di musim kemarau seakan riuh menyambut. Darah menetes dari pelipis kirinya mengalir ke arah alis, mata, pipi, hingga menetes ke tanah. Hampir aku menjatuhkan diri, kakiku tak kuat lagi melangkah. Hampir aku tersungkur ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=35&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Hanya Mendung yang Tersisa</strong></p>
<p align="center">Oleh Dini Nurul Huda</p>
<p>Di tengah terik matahari yang menyengat serasa memanggang ubun-ubun. Gemerisik dedaunan yang merangas di musim kemarau seakan riuh menyambut. Darah menetes dari pelipis kirinya mengalir ke arah alis, mata, pipi, hingga menetes ke tanah.</p>
<p>Hampir aku menjatuhkan diri, kakiku tak kuat lagi melangkah. Hampir aku tersungkur ke tanah, tapi ada tangan yang memeluk tubuhku. Sebelum tak sadar, sempat kurasa pelukannya semakin erat, kulihat sekilat kecemasan di wajah orang itu, yang wajahnya serasa tak asing lagi.</p>
<p>“Nar, bangun! Gue Agha, bertahan Nar, kita ke rumah sakit!” Ucap Agha sambil sekuat tenaga mengangkat tubuhku yang tak berdaya.</p>
<p>”Allahu..akbar.. Allah,.!” Ingin sekali kuucapkan kata-kata itu tapi mulutku seakan tersumbat cairan panas, hingga hanya perih yang kurasa. Dalam keadaan hampir sekarat semua dosa serasa membayangi disertai kelebat wajah orang-orang yang kukasihi papa, mama, Agha, Irma juga Musketeer itu.</p>
<p align="center">*****</p>
<p>Sekitar jam 9 pagi, aku ikut nongkrong di Pasar Pancasila. Berbagai macam kendaraan hiruk pikuk di sana, orang-orang yang di dominasi kaum hawa berjejal keluar masuk pintu pasar yang sempit. Tukang sayur, tukang daging, penjual beras, pedagang tahu tempe dan kios-kios buah berkompetisi dalam dunia tarik suara, memanggil-manggil para pembeli yang hanya lewat dan dengan rajin menyantroni toko per toko untuk mancari mana harga yang lebih murah.  Bersama beberapa orang preman pasar, aku terpaksa ikut terbahak-bahak mendengar cerita mereka tanpa tahu bagian mana yang lucu. Bang Rojim salah satu preman yang berkuasa di sana, yang awalnya mengajakku bergabung dengan mereka dan mengikuti agenda mereka yang hampir tiap hari menarik upeti dan saling berebut <em>kavling</em>. Terkadang dengan memakai seragam sekolah aku  ikut menggebrak jongko-jongko pedagang. Hal itu pula yang membuatku semakin terasing dengan sekolah. Tepat pagi ini aku dipanggil ke ruang BK lagi.</p>
<p>“Nara, lu dipanggil kepsek tuh di ruang BP!” Ucap Ardi.</p>
<p>“Ngapain? Males gue!”</p>
<p>“Eh Nar gue nggak mau tahu ya, pokokknya lu dipanggil berarti lu harus ke sana! Jangan bikin gara-gara lagi deh. Gue sebagai ketua kelas 3 ipa 1 malu punya anak buah kayak lu. Kerjaannya malu-maluin nama kelas 3 ipa 1 sebagai kelas unggulan. Heran gue kok lu bisa masuk kelas ini ya? Keunggulan lu dimana? Percuma lu sekolah! Bokap lu tau nggak kelakuan lu selama ini. Kalo tau apa nggak kena serangan jantung nantinya? Eh Nara lu tuh mestiny….”</p>
<p>Belum sempat Ardi meluncurkan kata-kata lagi, sudah kutarik duluan kerah  bajunya, Dengan perasaan marah dan kesal ku rapatkan tubuhnya ke tembok dan mencekiknya.</p>
<p>”Heh ketua kelas belagu, lu mau mecat gue dari kelas ini? Silakan, dengan senang hati. Tapi denger lu, jangan pernah ikut campur urusan gue! Mau gue bikin onar, berantem atau ribut-ribut lu diem aja. Jangan banyak cincong, mau mulut lu yang manis ini gue sumpel  hah….?”</p>
<p>Semua anak-anak di kelas hanya terdiam, terpaku melihat yang terjadi. Tidak pernah sebelumnya mereka melihatku semarah itu. Aku memang anak berandal suka bikin onar dan berkelahi, tapi tak pernah sekalipun itu kuIakukan di depan mereka. Tapi kali ini telingaku sudah panas mendengar mulut Ardi berkoar-koar seolah dia tahu semua masalahku. Aku sudah tak sabar melancarkan tinju ke pipinya, tapi tiba-tiba ada orang yang menarik tubuhnya hingga cekikan Ardi terlepas.</p>
<p>”Ra, kamu ngapain? Ardi itu teman kamu bukan musuh-musuh kamu! Dan ini sekolah Ra, bukan pasar!” ucap Irma berapi-api.</p>
<p>Ku kaget, tapi aku kenal pemilik suara itu. Biasanya terdengar lemah lembut menenangkanku, tapi kali ini sungguh ngilu di telinga.</p>
<p>(tersenyum sinis) ”Oh,,sekolah ya? Jadi kamu mau bilang juga aku nggak pantes di sini. Aku cocoknya di pasar?  Ok! (ngeloyor pergi).</p>
<p>Ardi yang sudah terlepas cekikannya masih berkutik meneriaki Nara yang ngeloyor pergi.</p>
<p>” Pergi sana temuin kepala sekolah dan minta supaya lu di pindah ke pasar aja! Hahahaha,,”</p>
<p>Semua anak di kelas memandang sinis ke arah Ardi, lalu sibuk kembali dengan aktivitasnya masing-masing.</p>
<p>” Eh, kenapa kalian? Baguskan kalo dia keluar dari sekolah ini. Kelas kita akan nyaman terbebas dari gulma pengganggu itu. Iya tho??”</p>
<p>Sementara itu Irma terdiam memandang hampa ke jendela, matanya terasa berat menahan beban cair yang mau tumpah. Tiba-tiba ia kembali.</p>
<p>” Ternyata kamu sekalipun tidak mengerti aku. Sudahlah cukup sampai di sini! Jangan cari aku!” Dengan berat hati, hanya itu kata yang bisa terucap dari bibirku. Ku tahu Irma ingin menyahut dan menolak tapi ternyata ia sendiri tidak bisa melihat kenyataan diriku yang sekarang.</p>
<p>Cintaku pada cintanya kucukupkan saja, ada yang lebih membutuhkan aku di luar sana. Kau cukup dengan banyak hal dalam hidupmu, tapi mereka serba tiada. Ada bumi tempat berpijak, tapi pijakan selalu tak tepat. Ada langit untuk bernaung, tapi kesempatan selalu terbawa angin. Menjauh, yang tinggal hanya hujan mengiringi. Aku bersumpah akan membuat mereka dipangku pertiwi, dan dibuai langit.</p>
<p>Hari ini bel berdenting seperti biasa, mengiringi langkah-langkah yang berlomba dengan jarum jam. Dalam sesaat keriuhan rutin di pagi hari itu mulai sunyi, setiap yang berkewajiban mulai menunaikan tugasnya masing-masing. Dan lorong-lorong itu pun sepi, seperti dia yang mencariku dalam sepi.</p>
<p>” Maaf, saya tidak tahu bu.” Jawab Irma.</p>
<p>”Lho kalian kan satu kelas?</p>
<p>”Terakhir katanya dia bicara dengan kamu. Apa kamu tidak mau menolong dia? Kalau dibiarkan dia akan semakin rusak Ir. Ayolah bantu ibu. Ibu sudah berbicara dengan ayahnya, tapi beliau juga tidak tahu harus berbuat apalagi.”</p>
<p>Terdiam sejenak.</p>
<p>” Dia tidak bilang apa-apa. Orangnya memang tidak pernah cerita apapun. Saya tidak pernah tahu tentangnya.”</p>
<p>” Ok. Tapi harap kamu tahu Ir, ibu tahu hubungan kalian selama ini. Tapi itu privasi kamu. Kalau kamu sayang Nara, silakan sekarang kamu renungkan bagaimana nasibnya di luar sana sekarang. Dia sudah satu bulan lebih tidak berada di rumah. Entah bagaimana nasibnya. Terakhir ibu dapat kabar, dia berkelahi dengan para preman daerah Panyesaan.”</p>
<p>Lama terdiam.</p>
<p>”Nara berubah semenjak ibu tirinya meninggal. Tante Sera ibu tiri yang baik. Nara ssungguh bahagia dapat ibu baru, ia selalu melakukan apapun agar ibunya bangga dan semakin sayangg padanya. Tapi ejak itu, ia berubah. Irma tak memahami dia lagi bu. Terakhir dia bilang, mau meninggalkan kehidupan ini. Saya sempat khawatir, tapi mendengar berita ibu dia masih bisa berkelahi, saya agak lega.”  (tersenyum sedih)</p>
<p>Di beranda sempit berdinding bilik, di tengah bau limbah sampah, inilah hidupku sekarang. Gubuk derita ini kujadikan tempat belajar, memang tak layak tapi baru memang baru sampai ini yang kumampu. Dulu tempat ini menampung sekitar 17 anak dengan usia yang berbeda dari mulai 8 sampai 15 tahun, belajar kemampuan dasar CALISTUNG (baca, tulis, hitung) seadanya dengan buku-buku lapuk kapunyaan Mak Omah. Semua yang ada di sini gratis dari mulai buku-buku, alat tulis dan tenaga pengajar, tentu tanpa ketentuan seragam dan sepatu. Semua berlangsung tanpa pamrih, hanya di dasari kepedulian terhadap nasib anak-anak kurang beruntung serta keikhlasan hati. Jadi tempat belajar ini kunamai Al- Ikhlas, meski lebih terdengar seperti sebuah nama mesjid atau pesantren. Tapi tak apa kata Mak, apalah arti sebuah nama yang penting nama itu akan menjadi sebuah cerita.</p>
<p>Perlu sekali kujelaskan tentang seorang Mak tua yang bernama Omah, motivator dan cahaya hidupku ketikaku terjebak di putaran hitam roda kehidupan. Beliau  seorang nenek, <em>Mak</em>nya anak-anak pemulung yatim piatu di TPA Panyesaan. Seorang pensiunan guru SPG (Sekolah Pendidikan Guru) yang peduli pendidikan dan bertindak sebagai kepala sekolah, kalau tempat itu dinamakan sekolah. Mak Omah hidup sebatang kara setelah ditinggal suaminya dan rahimnya pun diangkat karena tumor jadi ia tidak pernah punya anak. Ia mencurahkan semua perhatian dan kasih sayangnya kepada ke 17 anak itu. Mereka semua ditampung di gubuk kecilnya dan mendapat pengajaran darinya. Tak segan-segan uang pensiunnya habis untuk menghidupi anak-anak itu dan memenuhi kebutuhan Al-Ikhlas.</p>
<p>Aku kenal Mak Omah dari Mama Sera. Mama adalah salah satu murid Mak Omah di SPG dulu, dan satu-satunya penyandang dana di Al- Ikhlas. Jadi ia sangat disegani warga bahkan preman sekalipun yang mungkin lebih dikarenakan mereka takut pada ayahku yang pamong pemerintah.</p>
<p>Namun semua berubah semenjak mama Sera meninggal, anak-anak yang belajar mulai berkurang menjadi 9 anak, karena yang lainnya dipaksa lebih banyak bekerja oleh preman-preman kampung itu. Dan dua orang pengajar relawan  Pak Rusli dan Pak Danar sudah tidak bisa mengajar lagi, karena terdesak tuntutan ekonomi keluarga hingga mereka harus mencari pekerjaan yang menghasilkan. Maka, tinggallah di sana Mak Omah seorang diri tetap mengajar dan membimbing anak-anak itu sambil harus mengatasi gangguan-gangguan preman di sana. Aku pun merasa harus mempertahankan apa yang diperjuangkan mama. Aku  cakap berbahasa Inggris dan kuat dalam pengetahuan umum. Walaupun sudah tidak dipakai semenjak jadi berandal, tapi memoriku masih menyimpan ingatan yang menyenangkan tentang belajar saat itu. Sementara Mak Omah mengajarkan matematika dan berbagai keterampilan tangan seperti menjahit, membuat bunga, menggambar, dan menyablon. Sejak itu pula aku tinggal di tempat Mak Omah dan bertekad bertanggung jawab terhadap Al-Ikhlas dan orang-orang di sana.</p>
<p>Sekarang semua semakin berat, satu bulan yang lalu Mak Omah telah berpulang. Menggores kembali luka hatiku akan kehilangan, dan meninggalkan amanah yang sungguh berat yaitu memepertahankan Al Ikhlas. Sekolah kutinggalkan, hubungan dengan ayah yang semakin tak jelas semakin mendorongku merubah jalur hidup. Irmaku juga terpaksa kulepas supaya di masa depannya yang cerah nanti tidak ada gurat suram diriku, itu pun dalam anganku jikalau mau dia jadi istriku.</p>
<p>Keadaannya sekarang jauh lebih buruk dibanding saat Mak Omah masih ada. Sembilan anak-anak itu semakin berkurang, menjadi tiga anak saja yang bertahan. Sementara yang lainnya sudah tergiur dengan janji dapat makan tiga kali sehari dari para preman Panyesaan, asal ikut operasi copet mereka. Apa boleh buat, itu hak hidup mereka yang ingin merasakan bisa makan ayam goreng saus walau seminggu sekali. Jadilah ketiga adik ini Musketeer ku. Jaya, Kholip, dan Jusi. Jaya dan Jusi kakak beradik, sedang Kholip usianya 2 tahun di bawah ku kira-kira sekitar 16 tahunan. Tapi perkembangan otaknya sungguh lamban. Mereka bertiga yang paling gigih ikut bersamaku. Mereka bilang ingin pintar supaya bisa makan enak. Selama hidup denganku serta sebelumnya belum pernah sekalipun mereka tahu yang namanya  <em>fried chicken, donkin donuts, </em>apalagi yang namanya<em> pizza. </em>Saat kuceritakan tentang nama-nama itu, mereka sungguh terkesima mengetahui ada nama makanan sehebat itu.</p>
<p>Dengan upah sebagai preman pasar Pancasila aku menghidupi Musketeer ku itu. Tak ada jalan lain yang lebih halal, karena aku pun terlalu gengsi untuk minta bantuan ayah. Aku merasa sudah tidak pantas menjadi anak seorang Pak Rayhadi, aku bertekad harus mempertahankan hidupku sendiri. Harus!</p>
<p>Hal itu aku putuskan setelah berpikir, bahwa aku tidak akan sanggup melawan preman kampung Panyesaan seorang diri. Mereka selalu datang meminta uang, sering mengacau di Al Ikhlas dan sering berbuat kasar pada Mak Omah semasa hidupnya. Yang tak kan kubiarkan mereka mengganggu atau menghasut Musketeer ku. Biarlah aku saja yang menempuh jalan yang salah ini, jangan sampai mereka. Maka aku mencari <em>backingan</em> dengan bergabung dengan preman pasar Pancasila. Semenjak mengetahui hal itu preman Panyesaan sudah jarang mengacau lagi di Al-Ikhlas.</p>
<p align="center">*****</p>
<p>Sudah satu bulan lebih aku tidak masuk sekolah, tidak pernah pulang ke rumah sekalipun disuruh oleh ayah. Kulihat dari dalam pasar ayah, Bu Erna guru BK dan Irma menghampiriku. Aku tahu tujuan mereka, dan aku tak akan membiarkan hatiku tersentuh. Tanpa menghiraukan kedatangan mereka ku lanjutkan merokok sambil minum-minuman keras di sebuah jongko kosong bersama abang preman yang lain. Akhirnya kuhampiri mereka, kusiapkan mentalku agar tak luluh melihat wajah ayah yang sejujurnya kurindukan, juga Naya yang masih ku sayang.</p>
<p>”Waah,,kayaknya ada pejabat masuk pasar. Jangan-jangan kita mau dibagi duit nih!” ucap salah seorang preman.</p>
<p>”Siapa yang punya urusan dengan bapak itu, gue minta cepet selesein! Jangan sekali-kali nyeret kelompok kita!” Ancam Bang Rojim.</p>
<p>” Ada apa Yah? Kenapa bawa orang lain segala? Aku nggak bisa lama-lama, aku sibuk!” (sambil memandang ke Bu Erna dan Naya)</p>
<p>Bu Erna dan Naya sedikit kaget melihat penampilanku. Rambut acak-acakan, ada bekas memar di pipi kiri. Pakai kaos oblong dengan celana jeans robek-robek berantai. Aku yakin, aku terlihat jauh lebih buruk di banding satu bulan yang lalu.</p>
<p>”Sibuk? Itu yang kamu lakukan (menunjuk ke belakang). Kesibukanmu itu? Memalak orang? Nara, ayah tidak habis pikir kenapa kamu jadi seperti ini. Kamu tuh harusnya sekolah!”</p>
<p>”Ayah rawat kamu dari kecil, menyekolahkan kamu dengan harapan kamu jadi orang hebat, bukan jadi preman pasar!” Bentakan ayah memekakkan telingaku. Dibentak seperti itu aku hanya diam tanpa ekspresi, malah terus kukepulkan asap rokok. Dengan kasar, tiba-tiba ayah merebut rokok itu dan membuangnya.</p>
<p>”Sudahlah, Yah. Ayah  nggak malu apa teriak-teriak di depan umum. Lihat tuh dilihatin ibu-ibu! Eh ntar malah pada naksir lagi, duda kaya!” Jawabku sambil cengengesan.</p>
<p>”Kamu..!” (dengan amarah tertahan)</p>
<p>”Tenang Pak, tahan emosi.” Bujuk Bu Erna.</p>
<p>”Nara kami datang baik-baik ke sini untuk mengajak kamu pulang dan kembali sekolah. Jangan sia-siakan masa depanmu Nar. Ibu kamu pasti sedih kalau melihat keadaan kamu seperti ini!”</p>
<p>”Alah..jangan sok tahu Bu! Mama lebih senang aku yang sekarang. Yah, udah aku bilang aku nggak akan pulang. Nggak usah bujuk dan cari aku lagi. Kalau malu, anggap aja Ayah nggak pernah punya anak kayak aku!”</p>
<p>Plakk&#8230;tamparan melayang ke pipi kananku. Tapi itu tidak membuatku berhenti bicara.</p>
<p>”Ayah tuh udah nggak punya anak lagi. Lihat Agha, kemana dia? Dia juga ninggalin Ayah kan? Kenapa nggak cari saja dia? Nasibku udah jelas Yah, lihatkan? Aku masih hidup! Tapi Agha dimana dia? Tahu nggak dimana dia?  (berhenti sesaat) Papa nggak pernah peduli sama kita! Mungkin Agha sudah mati karena OD!”</p>
<p>”Narrrrrraaa!” Plaakk&#8230;.kali ini pukulan lebih keras terasa menghantam pipi kiriku yang masih lebam karena dikroyok semalam, hingga darah segar menetes lagi dari bibirku yang robek. Aku takmelawan, ku hanya menatap nanar ayah yang marah. Bibir dan mataku panas, terasa tak lama lagi keluar cairan meluncur dari situ. Sebelum itu terjadi aku sudah lebih dulu lari dari tempat itu. Ayah sempat menangkap tanganku, tapi aku berontak dan berhasil kabur dan berlari semakin jauh hingga tak terkejar. Sampai berhenti di depan mama Sera, menumpahkan cairan panas, ku hanya mampu menangis. Tapi sungguh tak kusesali semua ini.</p>
<p align="center">*****</p>
<p>Beberapa hari setelah kejadian itu, Naya menemuiku.</p>
<p>”Kamu kenapa gini Ra? Kamu harus kuat kamu itu laki-laki! Kashian ayah kamu, sekarang kamu satu-satunya harapan dia.”</p>
<p>”Justru karena aku kasihan sama dia, jadi aku pergi. Kamu nggak usah nyoba memahami aku lagi. Masalahku terlalu rumit untuk diungkapkan dan semua itu datang seperti tabrakan beruntun.”</p>
<p>”Ra, kamu anggap aku apa aku selama ini? Kamu tempatku berkeluh kesah, kamu istimewa buatku. Aku juga ingin menjadi istimewa untuk kamu. Tapi ternyata sulit. Aku tidak pernah punya hak.”</p>
<p>”Kamu istimewa di hatiku Nay. Karena itu aku nggak mau kamu ternoda oleh diriku yang rusak.”</p>
<p>”Rusak apa? Badan kamu memang rusak, tak terurus, tapi hati kamu nggak. Aku tahu Ra, aku tahu tentang Al Ikhlas dan tiga Musketeermu itu.”</p>
<p>Aku sontak kaget, Naya mengetahuinya.</p>
<p>”Kamu memang laki-laki dan aku tahu kamu tidak selamanya kuat. Nara, kalau kamu menginginkan mereka tetap sama kamu coba kamu bicarakan baik-baik dengan ayahmu. Dia pasti ngerti, karena dia sayang sama kamu.”</p>
<p>”Nggak! Aku nggak mau merepotkan dia. Aku nggak bisa balik ke rumah karena dosaku pada ayah. Aku nggak berani mengakuinya. Karena aku takut dia akan marah, benar-benar tidak memaafkanku dan bahkan tidak akan pernah mencari dan membujukku pulang seperti sekarang. Aku lebih takut hal itu dari pada dibunuh preman-preman itu sekalipun.”</p>
<p>”Jangan pernah bilang seperti itu di depanku! Kamu sayang ayah kamu, lalu apa masalahnya kamu tinggal pulang, toh kamu tahu dia juga mencari kamu. Kenap kamu merasa bersalah? Kamu mau kan cerita sama aku?”</p>
<p>Ucapannya yang lembut itu yang selalu kurindukan dari Naya, membuat hatiku luluh. Segera kutumpahkan semua beban hatiku, berbagai perasaan marah, kesal, sedih, sampai berurai air mata kuceritakan semuanya pada Naya. Dari mulai keadaan Agha yang sangat terpukul atas kematian ibu kandungku, dan ia tidak bisa menerima mama Sera yang padahal sangat baik. Hingga ia terjerumus suka mabuk-mabukan, berandal hingga di <em>dropout </em>dari sekolah. Karena kelakuannya itu, ia dikurung di rumah. Tapi sayang ia berhasil kabur, setelah itu tidak pernah kembali dan tidak pernah ada kabar. Sementara itu sakit mama semakin parah, Tak lama kami mendapat hasil kalau mama Sera positif AIDS. Di tambah batinnya sakit melihat kelakuan Agha dan itu membuat dia semakin hari semakin lemah. Di samping itu ayahsebagai laki-laki normal yang sudah lama mendapat nafkah bathin dari sang istri yang ternyata mengidap AIDS, berbuat khilaf dengan wanita lain. Parahnya hal itu kulihat sendiri. Kejadian itu berlangsung saat mama sudah di rawat intensif di rumah sakit. Tanpa sepengetahuan ayah, malam itu aku yang biasa menemani di rumah sakit, pulang ke rumah mengambil pekerjaan rumah dan tersajilah pemandangan mengerikan itu yang membekas sampai saat terakhir aku mengantar kepergian mama. Awalnya aku merasa jijik pada ayah, dan menganggap hal  itu sebuah pengkhianatan. Belakangan aku tahu dari catatan mama sendiri bahwa semua yang dilakukan ayah sudah mendapat persetujuan mama, bahkan mama yang menyuruh.</p>
<p>Aku tahu ternyata ayah pun terlalu rapuh untuk kehilangan mama. Dua kali ditinggalkan orang sangat dicintai pasti sakit, ditambah dituduh seperti itu oleh anak sendiri. Akhirnya kupikir tidak mau membebani dengan masalah-masalahnya. Ia sudah cukup merasa bersalah dengan tuduhan terhadap papanya itu, maka ia putuskan akan selalu membuat papa marah supaya ia dibenci papanya. Agar suatu saat nanti, ia tidak akan membuat papanya sedih jika ia pun mati.</p>
<p>Kemudian Nara mendapat alasan yang kuat untuk meninggalkan hidupnya yang dulu yaitu, Al Ikhlas yang juga menyeretnya pada kehidupan jalanan dan premanisme yang sarat dengan kriminalitas. Tapi hal itu ia anggap sebagai tuntutan peran.</p>
<p>”Kamu kan bisa cari cara lain, Ra. Tanpa membahayakan diri seperti ini. Kalau niatmu itu terbongkar dan kedua kelompok preman itu tahu kamu memperalat mereka bagaimana?” Ucap Naya dengan nada cemas.</p>
<p>”Ah, paling aku dibunuh!” Jawab Nara santai.</p>
<p>”Nar kamu&#8230;” Perkataan Naya terputus, tercekat menahan mata yang panas, ia hanya bisa menunduk.</p>
<p>”Sudahlah, tenang saja. Lagi pula aku juga belum mau mati. Aku mau mempertahankan Al Ikhlas. Biar nanti jadi besar dan kalau bisa jadi sebuah sekolah asrama. <em>Boarding House </em>gitu kan keren tuh..!” Senyum Naramengembang.</p>
<p>Sore itu Irma diajak ke Al Ikhlas,namun suasana rumah Mak Omah begitu ramai. Banyak warga berkumpul. Dengan perasaan was-was Ihsan berjalan cepat masuk rumah diikuti Irma. Tiba-tiba ia tersentak, apa yang ia lihat seperti seekor lebah yang menyengat kepala, menimbulkan pening yang luar biasa dan sakit di dada. Saat itu keadaan Mak Omah sudah tak berdaya. Ihsan mendekat dan duduk di sebelahnya. Anak-anak duduk mengelilingi Mak Omah, semuanya bungkam seakan-akan tahu kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang terdengar hanya deru nafas yang sudah berat. Meraskan kehadiran orang yang ditunggu, mata itu terbuka.</p>
<p>Dengan nafas yang tersengal Mak baik hati itu berbisik pada Ihsan. Ia menyampaikan pesan-pesan terakhir agar Ihsan selalu menjaga dan melindungi anak-anak Al Ikhlas itu karena yakin ia sudah tidak bisa menjaga mereka. Pesannya agar Ihsan melanjutkan masa depannya, melanjutkan pendidikannya dan kembali pada keluarganya, dengan begitu ia dapat membantu menyelamatkan masa depan anak-anak itu.</p>
<p>Innalillah Mak Omah telah pergi, ia yang sebatang kara di dunia ini, justru meninggal dengan limpahan kasih sayang orang-orang sekelilingnya.</p>
<p align="center">*****</p>
<p>Sepeninggal Mak Omah Ihsan melanjutkan pendidikannya tapi dengan kejar paket C karena ia belum berani pulang ke rumah setelah selama ini menyakiti hati ayahnya. Di samping itu ia tetap menghidupi ke sembilan anak itu dengan bekerja di sebuah bengkel las. Untuk sementara kegiatan belajar terhenti, sampai mereka punya cukup uang untuk bertahan hidup. Tak pernah terpikir sebelumnya, Nara bisa hidup bersama orang yang tidak ada hubungan darah tapi begitu dekat di hatinya. Merekalah motivasi hidupnya sekarang, ia berjuang untuk memprjuangkan masa depan mereka.</p>
<p>Namun karena kesibukannya itu, ia tidak memperhatikan lagi pergaulannya dengan preman-preman itu. Sampai pada suatu hari mereka menyantroni Nara ke bengkel hingga ia babak belur tanpa alasan yang jelas. Ketika ia pulang ternyata rumahnya sudah diobrak-abrik, dan terlihat anak-anak ketakutan.</p>
<p>Setelah di selidiki ternyata mereka sengaja mencari Nara, ingin menyelesaikan urusan katanya. Tepat saat itu, Jusi mengatakan sesuatu yang benar-benar membuat Nara naik darah. Jusi mengatakan kematian Mak Omah adalah disebabkan oleh preman-preman itu. Hari itu mereka datang mengacau dan sempat memukul Mak Omah, yang kemudian berakibat fatal baginya yang sedang sakit.</p>
<p>Dengan hati panas, siang itu juga Nara berjalan cepat menuju markas para preman itu. Sesampainya di sana, Nara mendengar percakapan mereka yang sedang mabuk dan berjudi. Hari itu terjawab sudah semua ganjalan di hatinya. Kenapa ibunya bisa terkena AIDS, sementara ayahnya sehat-sehat saja. Selama ini ia tersiksa dengan bisikan, dan pikiran-pikiran yang buruk tentang ibunya, hal buruk yang selalu berusaha ia hapus dari benaknya. Ternyata mereka&#8230; brengsek!!</p>
<p>Dengan membabi buta tanpa peduli mereka bergerombol, Nara menerabas masuk langsung melayangkan pukulan pada para preman itu. Namun sayang ia kalah tenaga. Akhirnya dia malah dikeroyok. Ketika itu, Bang Rojim menendang Ihsan yang sudah tersungkur. Ternyata ia sudah tahu muslihat Nara.</p>
<p>”Dasar ingusan! Berani lo mainin gue. Diam-diam selama ini lo hubungan sama intel kan? Ngelaporin semua aktivitas kelompok gue. Lu mesti bayar perbuatan lo, yang udah bikin orang-orang terbaik gue ditangkap.”</p>
<p>”Ayo puas-puasin kalian semua! Basmi penghianat. Hajar dia sampai mampus!”</p>
<p>Mereka memukul dan menendang Nara tanpa ampun, Nara hanya bisa meringis menahan sakit. Kemudian tiba-tiba datang gerombolan preman Panyesaan menyerang. Mereka membawa berbagai senjata tajam, pisau, linggis, golok, batu bahkan balok kayu. Dengan cepat mereka saling serang dan suasana berubah sangat kacau tanpa ada yang melerai.</p>
<p>Nara tidak tahu apa masalahnya, yang jelas ia harus segera meninggalkan tempat itu. Namun ketika ia mencoba bangun ada orang yang menghalau, tanpa ancang-ancang ia langsung menghantamkan balok kayu ke kepala Nara, darah segar pun mengalir. Naluri bertahan hidup masih dimiliki Nara, maka dengan sisa-sisa kekuatan yang ada ia melawan orang itu. Tapi hanya mampu mendorongnya hingga tumbang dan tertimpa tumpukan kaleng-kaleng bekas. Sekuat tenaga ia berusaha lari dan terus lari dengan harapan tak ada yang mengejarnya, karena kalau ada ia tidak akan sanggup melawan lagi. Tapi lambat laun suara ricuh di belakang itu terasa samr-samar, Nara sudah berada jauh dari tempat itu.</p>
<p>Lari, lari dan lari hanya itu yang ada di benak Nara. Tapi ia berlari ke tempat yang sepi, jauh dari pertolongan. Luka dengan darah yang terus menetes tak dihiraukannya, dengan terhuyung-huyung ia terus berjalan. Hingga terasa sesak dadanya, dan kepala panas, kaki sudah tak mampu dilangkahkan lagi dan semua gelap.</p>
<p align="center">*****</p>
<p>”Akhirnya, Nara sadar yah. Tapi keadaannya&#8230;”</p>
<p>Sang ayah hanya menunduk terdiam. Semua bungkam di depan kamar ICU. Sudah satu jam lebih setelah operasi, Agha terus berdiri memperhatikan adiknya yang terbaring antara hidup dan mati. Di depan kamar itu, Naya ikut menunduk, menangis dan berdoa keselamatan pujaan hatinya. Di tengah kebisuan itu, iba-tiba datang 2 orang polisi dengan 3 orang anak. Naya langsung menghampiri ketiga anak itu, sementara polisi memberi penjelasan kepada ayah Nara.</p>
<p>Semua tersentak dengan teriakan Agha.</p>
<p>” Nggaaakkk&#8230; Ra..!!”</p>
<p>Dari dalam ruang ICU terdengar suara tit yang panjang, kemudian terlihat para dokter dan perawat mulai menggunakan berbagai peralatan. Salah satunya adalah alat pacu jantung, yang berarti sudah tidak ada harapan. Memang benar tampak para dokter memasang tampang mohon maaf. Dari balik kaca tampak mendung menaungi mereka, kehilangan dia yang tak mau dipedulikan.</p>
<p>Dua tahun setelahnya, diresmikan sebuah <em>boarding house</em> untuk yatim piatu dengan nama SENARA life’s (Sera dan Nara). Namun mendung di hati mereka tetap menaungi.</p>
<br />Posted in karya Ku  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dynee.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dynee.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dynee.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dynee.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dynee.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dynee.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dynee.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dynee.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dynee.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dynee.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dynee.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dynee.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dynee.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dynee.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=35&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/hanya-mendung-yang-tersisa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/269cd53d5a9e2fc8fa43fc1c2c91aae5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dynee</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Analisis Lagu Laskar Pelangi- Nidji</title>
		<link>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/analisis-lagu-laskar-pelangi-nidji/</link>
		<comments>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/analisis-lagu-laskar-pelangi-nidji/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 12:20:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dynee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[my mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dynee.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Dilihat dari segi penafsiran semiotik, pembacaan Heuristik lagu ini adalah sebagai berikut. Mimpi (angan-angan yang dicita-citakan) adalah kunci (alat untuk membuka) untuk (membuka harapan) menaklukan dunia. (demi mencapai mimpi itu) berlarilah (terus) tanpa (menghiraukan rasa) lelah, (dan jangan berhenti) sampai engkau (mampu) meraihnya (mimpi). Laskar (kelompok pejuang) pelangi (yanh kuat) tak kan (pernah) terikat (terkalahkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=30&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dilihat dari segi penafsiran semiotik, pembacaan Heuristik lagu ini adalah sebagai berikut.</p>
<p>Mimpi (angan-angan yang dicita-citakan) adalah kunci (alat untuk membuka) untuk (membuka harapan) menaklukan dunia. (demi mencapai mimpi itu) berlarilah (terus) tanpa (menghiraukan rasa) lelah, (dan jangan berhenti) sampai engkau (mampu) meraihnya (mimpi). Laskar (kelompok pejuang) pelangi (yanh kuat) tak kan (pernah) terikat (terkalahkan oleh ) waktu. Bebaskan mimpimu di angkasa (yang luas, maka kau akan dapat) <em>me-</em>warnai bintang di jiwa.</p>
<p>Menarilah dan terus tertawa (agar hidup selalu bahagia) walau (keadaan) dunia (tempat kita menjalani hidup) tak seindah surga. (tapi kita telah diberi kesempatan hidup di dunia ini, maka) bersyukurlah pada (Tuhan Yang Maha) Kuasa (atas kasih saying dan cinta yang diberikan kepada) kita di dunia (hingga) selamanya. Cinta kepada hidup (dan kehidupan), (akan) memberikan senyuman abadi. Walau hidup (yang kita jalani) kadang tak adil. Tapi (perasaan) cinta (dapat) <em>me-</em>lengkapi kita. Jangan (pernah) berhenti mewarnai (membuat) jutaan mimpi di bumi.</p>
<p>Jika teks tersebut dibuat secara wajar dengan dihilangkan tanda kurung nya, maka pembacaan lagu tersebut adalah sebagai berikut :</p>
<p>Mimpi, angan-angan yang dicita-citakan adalah kunci, alat untuk membuka harapan menaklukan dunia. Demi mencapai mimpi itu  berlarilah terus tanpa menghiraukan rasa lelah, dan jangan berhenti sampai engkau mampu meraihnya. Laskar, kelompok pejuang pelangi yang kuat tak kan pernah terikat, terkalahkan oleh waktu. Bebaskan mimpimu di angkasa yang luas, maka kau akan dapat <em>me-</em>warnai bintang di jiwa.</p>
<p>Menarilah dan terus tertawa agar hidup selalu bahagia walau keadaan dunia tempat kita menjalani hidup tak seindah surga. Tapi kita telah diberi kesempatan hidup di dunia ini, maka bersyukurlah pada Tuhan Yang Maha Kuasa atas kasih sayang dan cinta yang diberikan kepada kita di dunia hingga selamanya. Cinta kepada hidup dan kehidupan, akan memberikan senyuman abadi. Walau hidup yang kita jalani kadang tak adil. Tapi perasaan cinta dapat <em>me-</em>lengkapi kita. Jangan pernah berhenti mewarnai dan membuat jutaan mimpi di bumi.</p>
<p>Sedangkan dari segi penafsiran Hermeneutik dapat diperoleh parafrasa sebagai berikut :</p>
<p>Lagu ini memotivasi dan memberi semangat. Melalui lagu ini pengarang berusaha menginspirasi dan menunjukkan bahwa ”mimpi” bisa menjadi ”kunci” yang bisa digunakan untuk membuka harapan-harapan kita untuk ”menaklukan dunia” yang kemudian menjadi penyemangat untuk meraih cita-cita  yang diinginkan. Maka, di sini pengarang memberi inspirasi agar setiap kita harus punya mimpi. Gantungkan mimpi dan cita-citamu setinggi langit. Mimpi itu dapat memberi semangat dan harapan unttuk dapat hidup lebih baik (bebaskan mimpimu di angkasa, warnai bintang di jiwa). Betapa pun sulitnya hidup yang dijalani, dengan punya mimpi kita akan selalu merasa bahagia dan dengan penuh tawa menikmati hidup ini, walau dunia tak seindah surga. Dengan tidak lupa selalu bersyukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas apa yang telah Ia beri. Cintailah hidup walaupun hidup itu tidak sesuai dengan yang diharapkan. Jangan pernah berputus asa untuk meraih mimpi itu.</p>
<p>Dari keseluruhan lagu dapat diambil kata kunci/matriksnya yaitu ”mimpi”. Karena kata ”mimpi” ini berhubungan dengan kata/kalimat-kalimat yang lain dan menjadi pusatnya. Kata ”mimpi” menjadi ”kunci” (alat yang digunakan untuk membuka sesuatu) selanjutnya menjadi patokan untuk kita ”berlari tanpa lelah” serta ”menari dan tertawa.</p>
<p>Rasa ”syukur” terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa atas anugrah, cinta dan kekuatan yang diberikan sehingga ”dunia” yang tak seindah ”surga” ini akan terasa indah dan menyenangkan jika kita punya semangat hidup untuk mengejar mimpi itu. Akhirnya ”mimpi” itu pula yang menjadi ”tujuan utama” karena mimpi memberi kekuatan dan harapan hingga kita kita tidak akan berputus asa untuk mencapai mimpi itu. Di tengah ”hidup” yang kadang ”tak adil” kita harus tetap punya mimpi bahkan ”jutaan mimpi”.</p>
<p>Dilihat dari makna yang terkandung lagu ”laskar pelangi” ini memiliki hubungan intertekstual dengan lagu ”Aku dan Bintang” Peterpan. Berikut lirik lagu tersebut :</p>
<p align="center"><em>Aku dan Bintang</em></p>
<p><em>Lihat ke langit luas</em></p>
<p><em>Bersama musim terus berganti</em></p>
<p><em>Tetap bermain awan merangkai mimpi dengan khayalku</em></p>
<p><em>Selalu bermimpi dengan hariku</em></p>
<p><em>Pernah kau lihat bintang</em></p>
<p><em>Bersinar putih penuh harapan </em></p>
<p><em>Tangan halusnya terbuka</em></p>
<p><em>Coba temani dekati aku</em></p>
<p><em>Selalu terangi gelap malamku</em></p>
<p><em>Dan rasakan semua bintang</em></p>
<p><em>Memanggil tawamu</em></p>
<p><em>Terbang ke atas</em></p>
<p><em>Tinggalkan semua hanya aku dan bintang</em></p>
<p><em>Yang terindah mesti terlupa </em></p>
<p><em>Dan yang selalu terangi dunia</em></p>
<p><em>Mereka-reka</em></p>
<p><em>Hanya aku dan bintang</em></p>
<p><em>By: Peterpan</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Makna pada bait pertama lagu ini senada dengan bait pertama lagu laskar pelangi. Dalam laskar pelangi disampaikan bahwa kekuatan mimpi itu dapat menaklukan dunia dan dengan semangat kita harus meraihnya. Sedangkan dalam lagu ini desampaikan bahwa apapu yang terjadi dan bagaimana pun keadaanya kita harus tetap punya mimpi. Keduanya menyatakan pentingnya mempunyai mimpi.</p>
<p>Namun ada sedikit perbedaan, karena dalam lagu ”Aku dan Bintang” peterpan dengan jelas mengungkapkan bahwa mimpi itu memberikan harapan (pernah kau lihat bintang, bersinar putih penuh harapan) dan harapan itu selalu menemani dan menyemangati hidup kita (tangan halusnya terbuka, coba temani dekati aku, selalu terangi gelap malamku) di sini mimpi diibaratkan dengan ”bintang”.</p>
<p>Pada dasarnya makna kedua lagu ini sama. Kalau laskar pelangi temanya lebih menekankan pada perjuangan, kerja keras, dan semangat yang harus ditunjukkan untuk mencapai mimpi. Sedangkan ”Aku dan Bintang” peterpan temanya lebihi pada keharusan seseorang (aku) memiliki mimpi, karena mimpi itu akan memberi harapan dan menerangi dunia kita. Bahkan dengan bermimpi sejenak kita bisa melupakan beban hidup yang berat.</p>
<p>Namun tema keduanya tidak terlepas dari kata ”mimpi” yang dalam lagu peterpan dikiaskan dengan bintang. Kedua lagu tersebut memiliki gagasan yang sama yaitu bahwa mimpi adalah harapan yang membuat hidup kita bersemangat dan tak berputus asa.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Lagu Laskar Pelangi  merupakan salah satu original soundtrack film berjudul sama “Laskar Pelangi” yang diangkat dari sebuah novel <em>best seller</em> karya Andrea Hirata. Lagu ini diciptakan oleh Giring Nidji.</p>
<p>Secara struktural pemilihan kata/diksi pada lagu ini cukup tepat dan sesuai. Ditambah dengan penggunaan sarana-sarana kepuitisan seperti citraan dan majas.</p>
<p>Dalam lagu ini pengarang menggunakan citraan gerak ”berlarilah tanpa lelah”, ”menarilah dan terus tertawa” membuat maknanya lebih ekspresif dan melalui citraan tersebut pengarang ingin agar pendengar merasakan semangat/spirit lagu ini. Lalu beberapa majas perbandingan juga digunakan pengarang, seperti: majas metafora dalam kalimat <em>mimpi adalah kunci</em> untuk menaklukan dunia. Kata mimpi disini diibaratkan sebuah benda yang bisa dijadikan kunci untuk membuka sesuatu, dan ”sesuatu” di sini dapat diartikan harapan. Selain itu juga terdapat majas personifikasi dalam kalimat ”laskar pelangi <em>tak kan terikat waktu”</em>, ”<em>warnai bintang </em>di jiwa”. Kemudian majas hiperbola ditunjukkan melalui kata <em>menaklukan dunia </em>(hanya dengan sebuah mimpip), juga dalam frasa <em>bebaskan mimpimu di angkasa</em>. Lalu kalimat <em>walau dunia tak seindah surga </em>merupakan majas perbandingan simile, dimana pengarang membandingkan keadaan dunia dengan keadaan surga yang tidak ada yang pernah mengetahuinya.</p>
<p>Sarana retorika berupa penggunaan rima juga terdapat dalam lagu ini, sehingga memperkuat dan mempertegas kelirisan lagu karena iramanya mengalun oleh pengulangan bunyi yang teratur, rima tersebut terdapat dalam bait:</p>
<p><em>Menarilah dan terus tertawa</em></p>
<p><em>Walau dunia tak seindah surga </em></p>
<p><em>Bersyukurlah pada yang Kuasa</em></p>
<p><em>Cinta kita di dunia</em></p>
<p><em>Selamanya&#8230;.</em></p>
<p>Gaya bahasa pengarang lebih bersifat mengajak, menasehati, dan mengintruksi. Misal penggunaan <em>–lah </em>dalam kata ”menari<em>lah” </em>dan ”bersyukur<em>lah</em>” yang jugs berarti mengingatkan kita. Sedangkan bahasa yang digunakan cukup sederhana dengan penggunaan kata-kata konkret yang tidak terlalu sulit dipahami maknanya sehingga cukup memudahkan pendengar menangkap pesan dari lagu ini. Beberapa kata konkret dalam lagu ini anatara lain:</p>
<p>- Kunci            &#8211; Engkau          &#8211; Waktu           &#8211; Bintang         &#8211; Bumi</p>
<p>- Dunia            &#8211; Pelangi          &#8211; Angkasa        &#8211; Surga</p>
<p>Dengan demikian dapat diungkapkan tema dari lagu Laskar Pelangi ini adalah perjuangan hidup dan semangat untuk meraih mimpi dan cita-cita. Melalui tema dan lirik yang mudah dimaknai amanat positif pun dapat tersampaikan dan mudah ditangkap pendengar.</p>
<p>Nada lagu/musik yang mudah dihafal dan diikuti tercipta dengan harmonis hingga suasana yang terbangun pun sangat mempengaruhi psikologi pendengar, terutama menimbulkan semangat (seperti yang disampaikan dalam kutipan komentar). Ditambah lagi musiknya dipadukan dengan suara mandolin semakin membuat lagu ini unik.</p>
<p>Keberhasilan lagu tidak terlepas dari penciptanya yang memang telah berpengalaman dan memiiki nama di blantika musik tanah air. Lagu-lagunya yang lain pun berkualitas, membuatnya (Nidji) menjadi band papan atas dan mempunyai banyak penggemar. Selain dari segi tema, isi, dan musik yang berkualitas, popularitas band/penyanyinya juga turut mempengaruhi naiknya lagu ini di pasaran.</p>
<br />Posted in Bahasa Indonesia, my mind  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dynee.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dynee.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dynee.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dynee.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dynee.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dynee.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dynee.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dynee.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dynee.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dynee.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dynee.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dynee.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dynee.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dynee.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=30&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dynee.wordpress.com/2009/06/29/analisis-lagu-laskar-pelangi-nidji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/269cd53d5a9e2fc8fa43fc1c2c91aae5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dynee</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ragam kalimat</title>
		<link>http://dynee.wordpress.com/2009/06/10/ragam-kalimat/</link>
		<comments>http://dynee.wordpress.com/2009/06/10/ragam-kalimat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 05:49:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dynee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dynee.wordpress.com/2009/06/10/ragam-kalimat/</guid>
		<description><![CDATA[RAGAM KALIMAT o Kalimat aktif transitif Adalah kalimat yang membutuhkan objek. Contoh : 1) Kakak menulis surat cinta untuk kekasih barunya. 2) Kami membaca berita kerusuhan itu di koran pagi ini. o Kalimat aktif intransitif Adalah kalimat yang tidak berobjek. Contoh : 1) Kakak menari-nari dengan lemah gemulai. 2) Adik menangis tersedu-sedu. o Kalimat pasif [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=28&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>RAGAM KALIMAT</p>
<p>o	Kalimat aktif transitif<br />
	Adalah kalimat yang membutuhkan objek. Contoh :<br />
1)	Kakak menulis surat cinta untuk kekasih barunya.<br />
2)	Kami membaca berita kerusuhan itu di koran pagi ini.<br />
o	Kalimat aktif intransitif<br />
	Adalah kalimat yang tidak berobjek. Contoh :<br />
1)	Kakak menari-nari dengan lemah gemulai.<br />
2)	Adik menangis tersedu-sedu.<br />
o	Kalimat pasif dengan memakai di-<br />
	Contoh kalimat :<br />
1)	Rumah tua itu harus segera diperbaiki oleh Pak Didi.<br />
2)	Perampok itu ditangkap oleh polisi di sebuah gubuk tua ditengah sawah.<br />
o	Kalimat pasif dengan persona<br />
1)	Sepucuk surat saya kirim kepadanya tadi pagi.<br />
2)	Pertandingan itu kami tonton minggu lalu.</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dynee.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dynee.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dynee.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dynee.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dynee.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dynee.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dynee.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dynee.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dynee.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dynee.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dynee.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dynee.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dynee.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dynee.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=28&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dynee.wordpress.com/2009/06/10/ragam-kalimat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/269cd53d5a9e2fc8fa43fc1c2c91aae5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dynee</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://dynee.wordpress.com/2009/03/24/27/</link>
		<comments>http://dynee.wordpress.com/2009/03/24/27/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 03:51:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dynee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dynee.wordpress.com/2009/03/24/27/</guid>
		<description><![CDATA[aduh ternyata kehidupan di kampus itu menyenangkan juga. walau terkadang ribettt en riweuhhh&#8230;yugasnya boooo nteu tanggung2.. tapi enak lho kalo ikut kegiatan2 nya kaya organisaa ato aktifitas lain di kampus.. kayanya tu bikin aku ncape tapi nambah semangat&#8230;kita tu jadi terpacu bwt jaga komitmen ma ngetes diri sendiri bs ga ngadepin masalah aneh2 yg mulai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=27&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>aduh ternyata kehidupan di kampus itu menyenangkan juga.<br />
walau terkadang ribettt en riweuhhh&#8230;yugasnya boooo nteu tanggung2..<br />
tapi enak lho kalo ikut kegiatan2 nya kaya organisaa ato aktifitas lain di kampus..<br />
kayanya tu bikin aku ncape tapi nambah semangat&#8230;kita tu jadi terpacu bwt jaga komitmen ma ngetes diri sendiri bs ga ngadepin masalah aneh2 yg mulai brdatangan,,,,huh,,,,sooo Wonderfulll Life&#8230;.I want to be a wonderfulll People&#8230;to made our parents prod of me&#8230;&#8230;..</p>
<br />Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dynee.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dynee.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dynee.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dynee.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dynee.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dynee.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dynee.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dynee.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dynee.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dynee.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dynee.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dynee.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dynee.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dynee.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=27&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dynee.wordpress.com/2009/03/24/27/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/269cd53d5a9e2fc8fa43fc1c2c91aae5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dynee</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>made in Jadul</title>
		<link>http://dynee.wordpress.com/2008/12/23/sakabisa/</link>
		<comments>http://dynee.wordpress.com/2008/12/23/sakabisa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 02:51:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dynee</dc:creator>
				<category><![CDATA[PoEm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dynee.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[ini adlah puisi-puisiku jaman SMA yg mungkin ga berbobot..tp yg penting skrg Q mw nyoba nunjukin AKU BISA! HATI.-.HATI ada gelap ada terang.begitu lah hidup ada terang yang terkadang samar.begitu lah hidup kala terang putih cahaya, nikmat lantunannya.merajam sejukkan penopang  ragaku.jiwa kala gelap berkelebat pegangan mengabur.ngambang risaukan nurani di lain jiwa.bimbang sisi-sisi dalam raga samar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=23&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ini adlah puisi-puisiku jaman SMA yg mungkin ga berbobot..tp yg penting skrg Q mw nyoba nunjukin AKU BISA!</p>
<p><strong>HATI.-.HATI</strong></p>
<p><strong>ada gelap ada terang.begitu lah hidup</strong></p>
<p><strong>ada terang yang terkadang samar.begitu lah hidup</strong></p>
<p><strong>kala terang</strong></p>
<p><strong>putih cahaya, nikmat lantunannya.merajam</strong></p>
<p><strong>sejukkan penopang  ragaku.jiwa</strong></p>
<p><strong> kala gelap berkelebat</strong></p>
<p><strong> pegangan mengabur.ngambang</strong></p>
<p><strong> risaukan nurani di lain jiwa.bimbang</strong></p>
<p><strong>sisi-sisi dalam raga</strong></p>
<p><strong>samar terang samar gelap.kabur</strong></p>
<p><strong>lalu sehingga akan membuat semua&#8230;samar!</strong></p>
<p><strong>Hati-hati!</strong></p>
<p><strong>Apakah itu hati,</strong></p>
<p><strong> Nurani? atau..</strong></p>
<p><strong> Aku Bingung.</strong></p>
<p><strong> &lt;by: Dini n_h&gt;<br />
</strong></p>
<br />Posted in PoEm  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dynee.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dynee.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dynee.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dynee.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dynee.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dynee.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dynee.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dynee.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dynee.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dynee.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dynee.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dynee.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dynee.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dynee.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dynee.wordpress.com&amp;blog=2851076&amp;post=23&amp;subd=dynee&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dynee.wordpress.com/2008/12/23/sakabisa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/269cd53d5a9e2fc8fa43fc1c2c91aae5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dynee</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
