Hanya Mendung yang Tersisa

Hanya Mendung yang Tersisa

Oleh Dini Nurul Huda

Di tengah terik matahari yang menyengat serasa memanggang ubun-ubun. Gemerisik dedaunan yang merangas di musim kemarau seakan riuh menyambut. Darah menetes dari pelipis kirinya mengalir ke arah alis, mata, pipi, hingga menetes ke tanah.

Hampir aku menjatuhkan diri, kakiku tak kuat lagi melangkah. Hampir aku tersungkur ke tanah, tapi ada tangan yang memeluk tubuhku. Sebelum tak sadar, sempat kurasa pelukannya semakin erat, kulihat sekilat kecemasan di wajah orang itu, yang wajahnya serasa tak asing lagi.

“Nar, bangun! Gue Agha, bertahan Nar, kita ke rumah sakit!” Ucap Agha sambil sekuat tenaga mengangkat tubuhku yang tak berdaya.

”Allahu..akbar.. Allah,.!” Ingin sekali kuucapkan kata-kata itu tapi mulutku seakan tersumbat cairan panas, hingga hanya perih yang kurasa. Dalam keadaan hampir sekarat semua dosa serasa membayangi disertai kelebat wajah orang-orang yang kukasihi papa, mama, Agha, Irma juga Musketeer itu.

*****

Sekitar jam 9 pagi, aku ikut nongkrong di Pasar Pancasila. Berbagai macam kendaraan hiruk pikuk di sana, orang-orang yang di dominasi kaum hawa berjejal keluar masuk pintu pasar yang sempit. Tukang sayur, tukang daging, penjual beras, pedagang tahu tempe dan kios-kios buah berkompetisi dalam dunia tarik suara, memanggil-manggil para pembeli yang hanya lewat dan dengan rajin menyantroni toko per toko untuk mancari mana harga yang lebih murah.  Bersama beberapa orang preman pasar, aku terpaksa ikut terbahak-bahak mendengar cerita mereka tanpa tahu bagian mana yang lucu. Bang Rojim salah satu preman yang berkuasa di sana, yang awalnya mengajakku bergabung dengan mereka dan mengikuti agenda mereka yang hampir tiap hari menarik upeti dan saling berebut kavling. Terkadang dengan memakai seragam sekolah aku  ikut menggebrak jongko-jongko pedagang. Hal itu pula yang membuatku semakin terasing dengan sekolah. Tepat pagi ini aku dipanggil ke ruang BK lagi.

“Nara, lu dipanggil kepsek tuh di ruang BP!” Ucap Ardi.

“Ngapain? Males gue!”

“Eh Nar gue nggak mau tahu ya, pokokknya lu dipanggil berarti lu harus ke sana! Jangan bikin gara-gara lagi deh. Gue sebagai ketua kelas 3 ipa 1 malu punya anak buah kayak lu. Kerjaannya malu-maluin nama kelas 3 ipa 1 sebagai kelas unggulan. Heran gue kok lu bisa masuk kelas ini ya? Keunggulan lu dimana? Percuma lu sekolah! Bokap lu tau nggak kelakuan lu selama ini. Kalo tau apa nggak kena serangan jantung nantinya? Eh Nara lu tuh mestiny….”

Belum sempat Ardi meluncurkan kata-kata lagi, sudah kutarik duluan kerah  bajunya, Dengan perasaan marah dan kesal ku rapatkan tubuhnya ke tembok dan mencekiknya.

”Heh ketua kelas belagu, lu mau mecat gue dari kelas ini? Silakan, dengan senang hati. Tapi denger lu, jangan pernah ikut campur urusan gue! Mau gue bikin onar, berantem atau ribut-ribut lu diem aja. Jangan banyak cincong, mau mulut lu yang manis ini gue sumpel  hah….?”

Semua anak-anak di kelas hanya terdiam, terpaku melihat yang terjadi. Tidak pernah sebelumnya mereka melihatku semarah itu. Aku memang anak berandal suka bikin onar dan berkelahi, tapi tak pernah sekalipun itu kuIakukan di depan mereka. Tapi kali ini telingaku sudah panas mendengar mulut Ardi berkoar-koar seolah dia tahu semua masalahku. Aku sudah tak sabar melancarkan tinju ke pipinya, tapi tiba-tiba ada orang yang menarik tubuhnya hingga cekikan Ardi terlepas.

”Ra, kamu ngapain? Ardi itu teman kamu bukan musuh-musuh kamu! Dan ini sekolah Ra, bukan pasar!” ucap Irma berapi-api.

Ku kaget, tapi aku kenal pemilik suara itu. Biasanya terdengar lemah lembut menenangkanku, tapi kali ini sungguh ngilu di telinga.

(tersenyum sinis) ”Oh,,sekolah ya? Jadi kamu mau bilang juga aku nggak pantes di sini. Aku cocoknya di pasar?  Ok! (ngeloyor pergi).

Ardi yang sudah terlepas cekikannya masih berkutik meneriaki Nara yang ngeloyor pergi.

” Pergi sana temuin kepala sekolah dan minta supaya lu di pindah ke pasar aja! Hahahaha,,”

Semua anak di kelas memandang sinis ke arah Ardi, lalu sibuk kembali dengan aktivitasnya masing-masing.

” Eh, kenapa kalian? Baguskan kalo dia keluar dari sekolah ini. Kelas kita akan nyaman terbebas dari gulma pengganggu itu. Iya tho??”

Sementara itu Irma terdiam memandang hampa ke jendela, matanya terasa berat menahan beban cair yang mau tumpah. Tiba-tiba ia kembali.

” Ternyata kamu sekalipun tidak mengerti aku. Sudahlah cukup sampai di sini! Jangan cari aku!” Dengan berat hati, hanya itu kata yang bisa terucap dari bibirku. Ku tahu Irma ingin menyahut dan menolak tapi ternyata ia sendiri tidak bisa melihat kenyataan diriku yang sekarang.

Cintaku pada cintanya kucukupkan saja, ada yang lebih membutuhkan aku di luar sana. Kau cukup dengan banyak hal dalam hidupmu, tapi mereka serba tiada. Ada bumi tempat berpijak, tapi pijakan selalu tak tepat. Ada langit untuk bernaung, tapi kesempatan selalu terbawa angin. Menjauh, yang tinggal hanya hujan mengiringi. Aku bersumpah akan membuat mereka dipangku pertiwi, dan dibuai langit.

Hari ini bel berdenting seperti biasa, mengiringi langkah-langkah yang berlomba dengan jarum jam. Dalam sesaat keriuhan rutin di pagi hari itu mulai sunyi, setiap yang berkewajiban mulai menunaikan tugasnya masing-masing. Dan lorong-lorong itu pun sepi, seperti dia yang mencariku dalam sepi.

” Maaf, saya tidak tahu bu.” Jawab Irma.

”Lho kalian kan satu kelas?

”Terakhir katanya dia bicara dengan kamu. Apa kamu tidak mau menolong dia? Kalau dibiarkan dia akan semakin rusak Ir. Ayolah bantu ibu. Ibu sudah berbicara dengan ayahnya, tapi beliau juga tidak tahu harus berbuat apalagi.”

Terdiam sejenak.

” Dia tidak bilang apa-apa. Orangnya memang tidak pernah cerita apapun. Saya tidak pernah tahu tentangnya.”

” Ok. Tapi harap kamu tahu Ir, ibu tahu hubungan kalian selama ini. Tapi itu privasi kamu. Kalau kamu sayang Nara, silakan sekarang kamu renungkan bagaimana nasibnya di luar sana sekarang. Dia sudah satu bulan lebih tidak berada di rumah. Entah bagaimana nasibnya. Terakhir ibu dapat kabar, dia berkelahi dengan para preman daerah Panyesaan.”

Lama terdiam.

”Nara berubah semenjak ibu tirinya meninggal. Tante Sera ibu tiri yang baik. Nara ssungguh bahagia dapat ibu baru, ia selalu melakukan apapun agar ibunya bangga dan semakin sayangg padanya. Tapi ejak itu, ia berubah. Irma tak memahami dia lagi bu. Terakhir dia bilang, mau meninggalkan kehidupan ini. Saya sempat khawatir, tapi mendengar berita ibu dia masih bisa berkelahi, saya agak lega.”  (tersenyum sedih)

Di beranda sempit berdinding bilik, di tengah bau limbah sampah, inilah hidupku sekarang. Gubuk derita ini kujadikan tempat belajar, memang tak layak tapi baru memang baru sampai ini yang kumampu. Dulu tempat ini menampung sekitar 17 anak dengan usia yang berbeda dari mulai 8 sampai 15 tahun, belajar kemampuan dasar CALISTUNG (baca, tulis, hitung) seadanya dengan buku-buku lapuk kapunyaan Mak Omah. Semua yang ada di sini gratis dari mulai buku-buku, alat tulis dan tenaga pengajar, tentu tanpa ketentuan seragam dan sepatu. Semua berlangsung tanpa pamrih, hanya di dasari kepedulian terhadap nasib anak-anak kurang beruntung serta keikhlasan hati. Jadi tempat belajar ini kunamai Al- Ikhlas, meski lebih terdengar seperti sebuah nama mesjid atau pesantren. Tapi tak apa kata Mak, apalah arti sebuah nama yang penting nama itu akan menjadi sebuah cerita.

Perlu sekali kujelaskan tentang seorang Mak tua yang bernama Omah, motivator dan cahaya hidupku ketikaku terjebak di putaran hitam roda kehidupan. Beliau  seorang nenek, Maknya anak-anak pemulung yatim piatu di TPA Panyesaan. Seorang pensiunan guru SPG (Sekolah Pendidikan Guru) yang peduli pendidikan dan bertindak sebagai kepala sekolah, kalau tempat itu dinamakan sekolah. Mak Omah hidup sebatang kara setelah ditinggal suaminya dan rahimnya pun diangkat karena tumor jadi ia tidak pernah punya anak. Ia mencurahkan semua perhatian dan kasih sayangnya kepada ke 17 anak itu. Mereka semua ditampung di gubuk kecilnya dan mendapat pengajaran darinya. Tak segan-segan uang pensiunnya habis untuk menghidupi anak-anak itu dan memenuhi kebutuhan Al-Ikhlas.

Aku kenal Mak Omah dari Mama Sera. Mama adalah salah satu murid Mak Omah di SPG dulu, dan satu-satunya penyandang dana di Al- Ikhlas. Jadi ia sangat disegani warga bahkan preman sekalipun yang mungkin lebih dikarenakan mereka takut pada ayahku yang pamong pemerintah.

Namun semua berubah semenjak mama Sera meninggal, anak-anak yang belajar mulai berkurang menjadi 9 anak, karena yang lainnya dipaksa lebih banyak bekerja oleh preman-preman kampung itu. Dan dua orang pengajar relawan  Pak Rusli dan Pak Danar sudah tidak bisa mengajar lagi, karena terdesak tuntutan ekonomi keluarga hingga mereka harus mencari pekerjaan yang menghasilkan. Maka, tinggallah di sana Mak Omah seorang diri tetap mengajar dan membimbing anak-anak itu sambil harus mengatasi gangguan-gangguan preman di sana. Aku pun merasa harus mempertahankan apa yang diperjuangkan mama. Aku  cakap berbahasa Inggris dan kuat dalam pengetahuan umum. Walaupun sudah tidak dipakai semenjak jadi berandal, tapi memoriku masih menyimpan ingatan yang menyenangkan tentang belajar saat itu. Sementara Mak Omah mengajarkan matematika dan berbagai keterampilan tangan seperti menjahit, membuat bunga, menggambar, dan menyablon. Sejak itu pula aku tinggal di tempat Mak Omah dan bertekad bertanggung jawab terhadap Al-Ikhlas dan orang-orang di sana.

Sekarang semua semakin berat, satu bulan yang lalu Mak Omah telah berpulang. Menggores kembali luka hatiku akan kehilangan, dan meninggalkan amanah yang sungguh berat yaitu memepertahankan Al Ikhlas. Sekolah kutinggalkan, hubungan dengan ayah yang semakin tak jelas semakin mendorongku merubah jalur hidup. Irmaku juga terpaksa kulepas supaya di masa depannya yang cerah nanti tidak ada gurat suram diriku, itu pun dalam anganku jikalau mau dia jadi istriku.

Keadaannya sekarang jauh lebih buruk dibanding saat Mak Omah masih ada. Sembilan anak-anak itu semakin berkurang, menjadi tiga anak saja yang bertahan. Sementara yang lainnya sudah tergiur dengan janji dapat makan tiga kali sehari dari para preman Panyesaan, asal ikut operasi copet mereka. Apa boleh buat, itu hak hidup mereka yang ingin merasakan bisa makan ayam goreng saus walau seminggu sekali. Jadilah ketiga adik ini Musketeer ku. Jaya, Kholip, dan Jusi. Jaya dan Jusi kakak beradik, sedang Kholip usianya 2 tahun di bawah ku kira-kira sekitar 16 tahunan. Tapi perkembangan otaknya sungguh lamban. Mereka bertiga yang paling gigih ikut bersamaku. Mereka bilang ingin pintar supaya bisa makan enak. Selama hidup denganku serta sebelumnya belum pernah sekalipun mereka tahu yang namanya  fried chicken, donkin donuts, apalagi yang namanya pizza. Saat kuceritakan tentang nama-nama itu, mereka sungguh terkesima mengetahui ada nama makanan sehebat itu.

Dengan upah sebagai preman pasar Pancasila aku menghidupi Musketeer ku itu. Tak ada jalan lain yang lebih halal, karena aku pun terlalu gengsi untuk minta bantuan ayah. Aku merasa sudah tidak pantas menjadi anak seorang Pak Rayhadi, aku bertekad harus mempertahankan hidupku sendiri. Harus!

Hal itu aku putuskan setelah berpikir, bahwa aku tidak akan sanggup melawan preman kampung Panyesaan seorang diri. Mereka selalu datang meminta uang, sering mengacau di Al Ikhlas dan sering berbuat kasar pada Mak Omah semasa hidupnya. Yang tak kan kubiarkan mereka mengganggu atau menghasut Musketeer ku. Biarlah aku saja yang menempuh jalan yang salah ini, jangan sampai mereka. Maka aku mencari backingan dengan bergabung dengan preman pasar Pancasila. Semenjak mengetahui hal itu preman Panyesaan sudah jarang mengacau lagi di Al-Ikhlas.

*****

Sudah satu bulan lebih aku tidak masuk sekolah, tidak pernah pulang ke rumah sekalipun disuruh oleh ayah. Kulihat dari dalam pasar ayah, Bu Erna guru BK dan Irma menghampiriku. Aku tahu tujuan mereka, dan aku tak akan membiarkan hatiku tersentuh. Tanpa menghiraukan kedatangan mereka ku lanjutkan merokok sambil minum-minuman keras di sebuah jongko kosong bersama abang preman yang lain. Akhirnya kuhampiri mereka, kusiapkan mentalku agar tak luluh melihat wajah ayah yang sejujurnya kurindukan, juga Naya yang masih ku sayang.

”Waah,,kayaknya ada pejabat masuk pasar. Jangan-jangan kita mau dibagi duit nih!” ucap salah seorang preman.

”Siapa yang punya urusan dengan bapak itu, gue minta cepet selesein! Jangan sekali-kali nyeret kelompok kita!” Ancam Bang Rojim.

” Ada apa Yah? Kenapa bawa orang lain segala? Aku nggak bisa lama-lama, aku sibuk!” (sambil memandang ke Bu Erna dan Naya)

Bu Erna dan Naya sedikit kaget melihat penampilanku. Rambut acak-acakan, ada bekas memar di pipi kiri. Pakai kaos oblong dengan celana jeans robek-robek berantai. Aku yakin, aku terlihat jauh lebih buruk di banding satu bulan yang lalu.

”Sibuk? Itu yang kamu lakukan (menunjuk ke belakang). Kesibukanmu itu? Memalak orang? Nara, ayah tidak habis pikir kenapa kamu jadi seperti ini. Kamu tuh harusnya sekolah!”

”Ayah rawat kamu dari kecil, menyekolahkan kamu dengan harapan kamu jadi orang hebat, bukan jadi preman pasar!” Bentakan ayah memekakkan telingaku. Dibentak seperti itu aku hanya diam tanpa ekspresi, malah terus kukepulkan asap rokok. Dengan kasar, tiba-tiba ayah merebut rokok itu dan membuangnya.

”Sudahlah, Yah. Ayah  nggak malu apa teriak-teriak di depan umum. Lihat tuh dilihatin ibu-ibu! Eh ntar malah pada naksir lagi, duda kaya!” Jawabku sambil cengengesan.

”Kamu..!” (dengan amarah tertahan)

”Tenang Pak, tahan emosi.” Bujuk Bu Erna.

”Nara kami datang baik-baik ke sini untuk mengajak kamu pulang dan kembali sekolah. Jangan sia-siakan masa depanmu Nar. Ibu kamu pasti sedih kalau melihat keadaan kamu seperti ini!”

”Alah..jangan sok tahu Bu! Mama lebih senang aku yang sekarang. Yah, udah aku bilang aku nggak akan pulang. Nggak usah bujuk dan cari aku lagi. Kalau malu, anggap aja Ayah nggak pernah punya anak kayak aku!”

Plakk…tamparan melayang ke pipi kananku. Tapi itu tidak membuatku berhenti bicara.

”Ayah tuh udah nggak punya anak lagi. Lihat Agha, kemana dia? Dia juga ninggalin Ayah kan? Kenapa nggak cari saja dia? Nasibku udah jelas Yah, lihatkan? Aku masih hidup! Tapi Agha dimana dia? Tahu nggak dimana dia?  (berhenti sesaat) Papa nggak pernah peduli sama kita! Mungkin Agha sudah mati karena OD!”

”Narrrrrraaa!” Plaakk….kali ini pukulan lebih keras terasa menghantam pipi kiriku yang masih lebam karena dikroyok semalam, hingga darah segar menetes lagi dari bibirku yang robek. Aku takmelawan, ku hanya menatap nanar ayah yang marah. Bibir dan mataku panas, terasa tak lama lagi keluar cairan meluncur dari situ. Sebelum itu terjadi aku sudah lebih dulu lari dari tempat itu. Ayah sempat menangkap tanganku, tapi aku berontak dan berhasil kabur dan berlari semakin jauh hingga tak terkejar. Sampai berhenti di depan mama Sera, menumpahkan cairan panas, ku hanya mampu menangis. Tapi sungguh tak kusesali semua ini.

*****

Beberapa hari setelah kejadian itu, Naya menemuiku.

”Kamu kenapa gini Ra? Kamu harus kuat kamu itu laki-laki! Kashian ayah kamu, sekarang kamu satu-satunya harapan dia.”

”Justru karena aku kasihan sama dia, jadi aku pergi. Kamu nggak usah nyoba memahami aku lagi. Masalahku terlalu rumit untuk diungkapkan dan semua itu datang seperti tabrakan beruntun.”

”Ra, kamu anggap aku apa aku selama ini? Kamu tempatku berkeluh kesah, kamu istimewa buatku. Aku juga ingin menjadi istimewa untuk kamu. Tapi ternyata sulit. Aku tidak pernah punya hak.”

”Kamu istimewa di hatiku Nay. Karena itu aku nggak mau kamu ternoda oleh diriku yang rusak.”

”Rusak apa? Badan kamu memang rusak, tak terurus, tapi hati kamu nggak. Aku tahu Ra, aku tahu tentang Al Ikhlas dan tiga Musketeermu itu.”

Aku sontak kaget, Naya mengetahuinya.

”Kamu memang laki-laki dan aku tahu kamu tidak selamanya kuat. Nara, kalau kamu menginginkan mereka tetap sama kamu coba kamu bicarakan baik-baik dengan ayahmu. Dia pasti ngerti, karena dia sayang sama kamu.”

”Nggak! Aku nggak mau merepotkan dia. Aku nggak bisa balik ke rumah karena dosaku pada ayah. Aku nggak berani mengakuinya. Karena aku takut dia akan marah, benar-benar tidak memaafkanku dan bahkan tidak akan pernah mencari dan membujukku pulang seperti sekarang. Aku lebih takut hal itu dari pada dibunuh preman-preman itu sekalipun.”

”Jangan pernah bilang seperti itu di depanku! Kamu sayang ayah kamu, lalu apa masalahnya kamu tinggal pulang, toh kamu tahu dia juga mencari kamu. Kenap kamu merasa bersalah? Kamu mau kan cerita sama aku?”

Ucapannya yang lembut itu yang selalu kurindukan dari Naya, membuat hatiku luluh. Segera kutumpahkan semua beban hatiku, berbagai perasaan marah, kesal, sedih, sampai berurai air mata kuceritakan semuanya pada Naya. Dari mulai keadaan Agha yang sangat terpukul atas kematian ibu kandungku, dan ia tidak bisa menerima mama Sera yang padahal sangat baik. Hingga ia terjerumus suka mabuk-mabukan, berandal hingga di dropout dari sekolah. Karena kelakuannya itu, ia dikurung di rumah. Tapi sayang ia berhasil kabur, setelah itu tidak pernah kembali dan tidak pernah ada kabar. Sementara itu sakit mama semakin parah, Tak lama kami mendapat hasil kalau mama Sera positif AIDS. Di tambah batinnya sakit melihat kelakuan Agha dan itu membuat dia semakin hari semakin lemah. Di samping itu ayahsebagai laki-laki normal yang sudah lama mendapat nafkah bathin dari sang istri yang ternyata mengidap AIDS, berbuat khilaf dengan wanita lain. Parahnya hal itu kulihat sendiri. Kejadian itu berlangsung saat mama sudah di rawat intensif di rumah sakit. Tanpa sepengetahuan ayah, malam itu aku yang biasa menemani di rumah sakit, pulang ke rumah mengambil pekerjaan rumah dan tersajilah pemandangan mengerikan itu yang membekas sampai saat terakhir aku mengantar kepergian mama. Awalnya aku merasa jijik pada ayah, dan menganggap hal  itu sebuah pengkhianatan. Belakangan aku tahu dari catatan mama sendiri bahwa semua yang dilakukan ayah sudah mendapat persetujuan mama, bahkan mama yang menyuruh.

Aku tahu ternyata ayah pun terlalu rapuh untuk kehilangan mama. Dua kali ditinggalkan orang sangat dicintai pasti sakit, ditambah dituduh seperti itu oleh anak sendiri. Akhirnya kupikir tidak mau membebani dengan masalah-masalahnya. Ia sudah cukup merasa bersalah dengan tuduhan terhadap papanya itu, maka ia putuskan akan selalu membuat papa marah supaya ia dibenci papanya. Agar suatu saat nanti, ia tidak akan membuat papanya sedih jika ia pun mati.

Kemudian Nara mendapat alasan yang kuat untuk meninggalkan hidupnya yang dulu yaitu, Al Ikhlas yang juga menyeretnya pada kehidupan jalanan dan premanisme yang sarat dengan kriminalitas. Tapi hal itu ia anggap sebagai tuntutan peran.

”Kamu kan bisa cari cara lain, Ra. Tanpa membahayakan diri seperti ini. Kalau niatmu itu terbongkar dan kedua kelompok preman itu tahu kamu memperalat mereka bagaimana?” Ucap Naya dengan nada cemas.

”Ah, paling aku dibunuh!” Jawab Nara santai.

”Nar kamu…” Perkataan Naya terputus, tercekat menahan mata yang panas, ia hanya bisa menunduk.

”Sudahlah, tenang saja. Lagi pula aku juga belum mau mati. Aku mau mempertahankan Al Ikhlas. Biar nanti jadi besar dan kalau bisa jadi sebuah sekolah asrama. Boarding House gitu kan keren tuh..!” Senyum Naramengembang.

Sore itu Irma diajak ke Al Ikhlas,namun suasana rumah Mak Omah begitu ramai. Banyak warga berkumpul. Dengan perasaan was-was Ihsan berjalan cepat masuk rumah diikuti Irma. Tiba-tiba ia tersentak, apa yang ia lihat seperti seekor lebah yang menyengat kepala, menimbulkan pening yang luar biasa dan sakit di dada. Saat itu keadaan Mak Omah sudah tak berdaya. Ihsan mendekat dan duduk di sebelahnya. Anak-anak duduk mengelilingi Mak Omah, semuanya bungkam seakan-akan tahu kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang terdengar hanya deru nafas yang sudah berat. Meraskan kehadiran orang yang ditunggu, mata itu terbuka.

Dengan nafas yang tersengal Mak baik hati itu berbisik pada Ihsan. Ia menyampaikan pesan-pesan terakhir agar Ihsan selalu menjaga dan melindungi anak-anak Al Ikhlas itu karena yakin ia sudah tidak bisa menjaga mereka. Pesannya agar Ihsan melanjutkan masa depannya, melanjutkan pendidikannya dan kembali pada keluarganya, dengan begitu ia dapat membantu menyelamatkan masa depan anak-anak itu.

Innalillah Mak Omah telah pergi, ia yang sebatang kara di dunia ini, justru meninggal dengan limpahan kasih sayang orang-orang sekelilingnya.

*****

Sepeninggal Mak Omah Ihsan melanjutkan pendidikannya tapi dengan kejar paket C karena ia belum berani pulang ke rumah setelah selama ini menyakiti hati ayahnya. Di samping itu ia tetap menghidupi ke sembilan anak itu dengan bekerja di sebuah bengkel las. Untuk sementara kegiatan belajar terhenti, sampai mereka punya cukup uang untuk bertahan hidup. Tak pernah terpikir sebelumnya, Nara bisa hidup bersama orang yang tidak ada hubungan darah tapi begitu dekat di hatinya. Merekalah motivasi hidupnya sekarang, ia berjuang untuk memprjuangkan masa depan mereka.

Namun karena kesibukannya itu, ia tidak memperhatikan lagi pergaulannya dengan preman-preman itu. Sampai pada suatu hari mereka menyantroni Nara ke bengkel hingga ia babak belur tanpa alasan yang jelas. Ketika ia pulang ternyata rumahnya sudah diobrak-abrik, dan terlihat anak-anak ketakutan.

Setelah di selidiki ternyata mereka sengaja mencari Nara, ingin menyelesaikan urusan katanya. Tepat saat itu, Jusi mengatakan sesuatu yang benar-benar membuat Nara naik darah. Jusi mengatakan kematian Mak Omah adalah disebabkan oleh preman-preman itu. Hari itu mereka datang mengacau dan sempat memukul Mak Omah, yang kemudian berakibat fatal baginya yang sedang sakit.

Dengan hati panas, siang itu juga Nara berjalan cepat menuju markas para preman itu. Sesampainya di sana, Nara mendengar percakapan mereka yang sedang mabuk dan berjudi. Hari itu terjawab sudah semua ganjalan di hatinya. Kenapa ibunya bisa terkena AIDS, sementara ayahnya sehat-sehat saja. Selama ini ia tersiksa dengan bisikan, dan pikiran-pikiran yang buruk tentang ibunya, hal buruk yang selalu berusaha ia hapus dari benaknya. Ternyata mereka… brengsek!!

Dengan membabi buta tanpa peduli mereka bergerombol, Nara menerabas masuk langsung melayangkan pukulan pada para preman itu. Namun sayang ia kalah tenaga. Akhirnya dia malah dikeroyok. Ketika itu, Bang Rojim menendang Ihsan yang sudah tersungkur. Ternyata ia sudah tahu muslihat Nara.

”Dasar ingusan! Berani lo mainin gue. Diam-diam selama ini lo hubungan sama intel kan? Ngelaporin semua aktivitas kelompok gue. Lu mesti bayar perbuatan lo, yang udah bikin orang-orang terbaik gue ditangkap.”

”Ayo puas-puasin kalian semua! Basmi penghianat. Hajar dia sampai mampus!”

Mereka memukul dan menendang Nara tanpa ampun, Nara hanya bisa meringis menahan sakit. Kemudian tiba-tiba datang gerombolan preman Panyesaan menyerang. Mereka membawa berbagai senjata tajam, pisau, linggis, golok, batu bahkan balok kayu. Dengan cepat mereka saling serang dan suasana berubah sangat kacau tanpa ada yang melerai.

Nara tidak tahu apa masalahnya, yang jelas ia harus segera meninggalkan tempat itu. Namun ketika ia mencoba bangun ada orang yang menghalau, tanpa ancang-ancang ia langsung menghantamkan balok kayu ke kepala Nara, darah segar pun mengalir. Naluri bertahan hidup masih dimiliki Nara, maka dengan sisa-sisa kekuatan yang ada ia melawan orang itu. Tapi hanya mampu mendorongnya hingga tumbang dan tertimpa tumpukan kaleng-kaleng bekas. Sekuat tenaga ia berusaha lari dan terus lari dengan harapan tak ada yang mengejarnya, karena kalau ada ia tidak akan sanggup melawan lagi. Tapi lambat laun suara ricuh di belakang itu terasa samr-samar, Nara sudah berada jauh dari tempat itu.

Lari, lari dan lari hanya itu yang ada di benak Nara. Tapi ia berlari ke tempat yang sepi, jauh dari pertolongan. Luka dengan darah yang terus menetes tak dihiraukannya, dengan terhuyung-huyung ia terus berjalan. Hingga terasa sesak dadanya, dan kepala panas, kaki sudah tak mampu dilangkahkan lagi dan semua gelap.

*****

”Akhirnya, Nara sadar yah. Tapi keadaannya…”

Sang ayah hanya menunduk terdiam. Semua bungkam di depan kamar ICU. Sudah satu jam lebih setelah operasi, Agha terus berdiri memperhatikan adiknya yang terbaring antara hidup dan mati. Di depan kamar itu, Naya ikut menunduk, menangis dan berdoa keselamatan pujaan hatinya. Di tengah kebisuan itu, iba-tiba datang 2 orang polisi dengan 3 orang anak. Naya langsung menghampiri ketiga anak itu, sementara polisi memberi penjelasan kepada ayah Nara.

Semua tersentak dengan teriakan Agha.

” Nggaaakkk… Ra..!!”

Dari dalam ruang ICU terdengar suara tit yang panjang, kemudian terlihat para dokter dan perawat mulai menggunakan berbagai peralatan. Salah satunya adalah alat pacu jantung, yang berarti sudah tidak ada harapan. Memang benar tampak para dokter memasang tampang mohon maaf. Dari balik kaca tampak mendung menaungi mereka, kehilangan dia yang tak mau dipedulikan.

Dua tahun setelahnya, diresmikan sebuah boarding house untuk yatim piatu dengan nama SENARA life’s (Sera dan Nara). Namun mendung di hati mereka tetap menaungi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: