Kraton Sebagai Cagar Budaya

Pendahuluan

Masyarakat dan kebudayaan tidak dapat dipisah-pisahkan satu dengan yang lain. Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan. Kebudayaan tidak akan ada jika tidak ada masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya. (Sumaryadi, 1997)

Kebudayaan yang dihasilkan manusia akan terus berkembang seiring dengan bertambahnya kebutuhan manusia juga mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan yang terjadi pun tidak lepas dari pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan. Pengaruh dari dalam yaitu sikap masyarakat dalam menanggapi perkembangan zaman yang dapat berupa pergeseran nilai dan sistem sosial. Sedangkan pengaruh dari luar dapat berupa kontak dengan budaya lain hingga tebentuklah suatu akulturasi kebudayaan.

Kraton merupakan salah satu bentuk dari akulturasi kebudayaan yang sungguh layak dijadikan sebuah studi kebudayaan. Kraton Mangkunegaran adalah salah satu cagar budaya yang patut dilestarikan, yang menjadi saksi bisu perkembangan kota Solo dan masyarakatnya.

Namun, dengan adanya perkembangan teknologi dan modernisasi yang melanda negeri ini, banyak generasi muda yang kurang mengetahui dan hanya sedikit yang peduli dengan cagar budaya tersebut.

Pelestarian Ketiga Wujud kebudayaan di Kraton Mangkunegaran

Kraton sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang sangat menarik untuk dipelajari terutama segi budayanya. Baik berupa adat istiadat, sistem sosial, maupun kebudayaan fisiknya. Dapat dikatakan dalam sebuah kraton terdapat ketiga wujud kebudayaan yaitu ide/gagasan, tindakan, dan artefak.

Sosok keraton yang menjadi simbol budaya Jawa, sampai saat ini masih eksis baik secara fisik komunitas maupun ritualnya. Salah satu objek wisata budaya yang terkenal di Solo, Jawa tengah adalah Istana atau Pura Mangkunegaran, tempat kediaman resmi Mangkunagoro. Wujud budaya ide/gagasan dalam bentuk adat istiadat di kraton ini masih begitu kuat. Tempat-tempat dan benda-benda yang ada di sana memiliki filosofi dan mitos-mitos tertentu yang sampai sekarang masih bertahan karena masyarakat yang melestarikannya. Misalnya: makna warna lukisan pada langit-langit di tengah pendopo. Kuning (mencegah ngantuk), Biru   (mencegah musibah), Hitam (mencegah lapar), Hijau (mencegah frustasi), Putih (mencegah pikiran seks/birahi), Orange (mencegah ketakutan), Merah (mencegah pengaruh setan), dan Ungu (mencegah pikiran jahat). Juga dalam penempatan tempat tinggal, perempuan dan laki-laki terpisah. Terdapat dua pavilion, pavilion timur ; Bale Peni untuk tempat tinggal pangeran dan anak laki-laki, pavilion barat ; Bale Warni untuk yempat tinggal permaisuri dan anak perempuan.

Wujud sistem social nampak dari penempatan benda-benda pun ada aturannya dan perawatannya pun perlu syarat-syarat khusus, misal; sebuah benda harus diberi sesajen dan orang yang memberi sesajen harus berpuasa terlebih dahulu. Juga beberapa ritual-ritual dan peringatan besar masih sering dilakukan. Misal Krobongan untuk sesaji malam jumat kliwon dan selasa kliwon, serta  peringatan wafatbta Pangeran Mangkunegoro yang dilakukan sebanyak 8x setahun.

Sungguh banyak peninggalan artefak dari mulai gedung, foto-foto, sampai benda-benda prbadi. Dari wujud artefak ini dapat terlihat jelas akulturasi budaya yang ada di sana. Istana Mangkunegaran merupakan model rumah bangunan Jawa tradisional dan didirikan oleh Mangkunagoro II dari tahun 1804-1866. Istana Mangkunegaran memiliki 3 bangunan utama, yaitu :

  1. Pendopo; dipakai untuk mengadakan resepsi-resepsi dan pentas tari-tarian jawa. Di sana terdapat gamelan pusaka “Kyai Kanyut Mesem” ( tertarik untuk tersenyum) yang berusia kira-kira 200 tahun. Lukisan-lukisan pada langit-langit di tengah pendopo perlu diperhatikan. Lukisan itu ditulis oleh Liem Tho Hien pada tahun 1937 dan designnya oleh Mr. Karsten dari Belanda.
  2. Dalem Ageng; tempat diadakannya upacara-upacara tradisional dan memiliki bentuk limasan  (dengan 8 buah soko guru). Dalem tidak memiliki plafond sehingga rusuk-rusuk dan reng-reng dapat dilihat yang merupakan simbol dari matahari.
  3. Paringgitan; bentuk bangunan kutuk ngambang, digunakan untuk upacara kaul-kaulan memperingati wafatnya pangeran Mangkunegoro (biasanya 8x setahun.

Semua benda-benda koleksi itu dijaga dan dipelihara dengan baik. Adapun tujuan dan maksud koleksi adalah untuk menunjukkan bahwa kebudayaan kita di masa lampau telaj begitu tinggi adat serta peradabannya. Untuk itu dalam koleksi ini dioamerkan sebagian budaya bangsa yang selama ini tenggelam.

Dengan membeli benda-benda dari perak dan emas yang dibuat oleh pandai emas Jawa kuno diperoleh gambaran jelas bagaimana kermampuan mereka saat itu.

Namun niat dari kraton tersebut kurang mulus dalam prakteknya. Lingkungan dan wilayah kraton yang luas membutuhkan pemeliharaan yang biayanya tidak sedikit. Apalagi koleksi-koleksi barang-barang antic yang ada di sana memerlukan perawatan khusus agar tidak termakan usia.

Sementara selama ini income kraton juga diperoleh dari kunjungan-kunjungan. Sedangkan sekarang minat generasi muda terhadap kraton sudah sangat kurang. Mereka lebih senang mengunjungi mall-mall dan tempat-tempat yang berbau modernisasi.

Kita memang harus mengikuti perkembangan zaman, tapi tidak lantas melupakan budaya lokal. Harusnya budaya lokal itu dimodernisasikan, dalam artian diperbaiki yang rusak tanpa merubah wujud aslinya, dan dipromosikan dengan lebih menarik.

Di samping tuntutan pengelolaan dan pemeliharaan yang baik dari pihak pengelola pekerjaan utama adalah menumbuhkan minat dan peduli budaya. Hal itu dapat dimulai dari penanaman apresiasi budaya dalam pendidikan formal mupun nonformal. Diusahakan rasa memilki budaya sendiri itu ditanamkan sejak dini agar kelak dewasa bisa peduli dan ikut melestarikannya.

Macam-macam benda yang dipamerkan di museum Mangkunegaran antara lain :

  1. Kereta
  2. Arca logam
  3. Batu
  4. Peralatan dari logam

Adapula beberapa kelompok cincin. Yaitu:

  1. Cincin tepung gelang
  2. Cincin terbuka dan anting-anting
  3. Gelang tangan dan gelang kaki
  4. Rantai/kalung

5. Senjata-senjata

6. Lukisan dan foto

7. Topeng-topeng dari Bali, Cirebon, Solo, Yogya, dan Malang

8. Pakaian tari (tari Srimpi dan tari Langendriya)

9. Tanda Penghargaan

10. Koleksi Kristal

11. Kaligrafi

12. Dan lain-lain

Semua barang-barang tersebut ditempatkan di ndalem ageng (museum) dan sekarang dapat dilihat oleh umum agar bangsa kita mendapatkan rasa harga diri karena barang-barang tersebut adalah karya bangsa kita sendiri.

Tampaklah bahwa Kraton sebagai cagar budaya juga merupakan wisata yang menarik.

Penutup

Kraton sebagai cagar budaya yang menanpilkan wujud asli budaya lokal Indonesia, harus lebih mendapat perhatian pemerintah dan kepedulian masyarakatnya juga penting. Kraton harus menjadi suatu kebanggaan warganya, sehingga warga tidak hanya membanggakan mall, hotel dan gedung-gedung yang tinggi dan megah. Untuk sebuah kebanggaan itu diperlukan pemahaman budaya yang harus ditanamkan pada generasi muda.

Sosialisasi cagar budaya perlu dilakukan sejak dini, dari mulai anak-anak hingga remaja. Sehingga dapat dilakukan pengenalan budaya sejak dini dengan harapan akan melekat pada diri warga agar kelak dapat ikut melestarikannya.

http://hasheem.wordpress.com/bahan-ajar/materi-ips-kls-vii/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: