Laskar Pelangi…on commented!

Laskar Pelangi

Laskar pelangi menceritakan kisah hidup Ikal, seorang anak asli Belitong, serta teman-teman juga kehidupan masa kecilnya. Ikal anak asli Belitong yang sudah besar kembali ke kampung halamannya, dalam perjalanan ia mengenang kembali kehidupan masa kecilnya.

Belitong adalah pulau yang indah dan merupakan salah satu pulau terkaya berkat timah yang melimpah di sana. Namun meskipun negeri ini telah merdeka warga Belitong sendiri belum dapat menikmati kekayaan tanahnya. Saat itu di sana berdiri sebuah perusahaan tambang terbesar yaitu PN Timah yang karenanya terdapat sekat-sekat yang mengkotak-kotakkan dan harapan dan semangat, tapi tidak bagi kami, terutama semangat seorang anak pesisir yang berusaha memperoleh pendidikan.

Angka 10 menjadi angka keramat bagi kami semua, pagi itu. Karena SD Muhamadiyah Gantong membutuhkan 10 orang murid untuk membuka kelas baru. Murid nomor satu yang datang menghampiri bu Muslimah bernama Lintang anak pesisir dari Tanjung Pelumpang yang datang sendiri karena ayahnya pergi melaut.

Di sekolah itu terdapat 2 guru luar biasa yaitu Pak Harfan dan Bu Muslimah yang juga menaruh harapan murid-muridnya genap 10 orang. Tidak hanya bagi mereka, hari ini merupakan penentuan bagi kami anak-anak miskin yang bisa sekolah dengan murah apakah akan mendapat pendidikan atau menjadi buruh timah dan kuli kopra. Sedangkan di bagian lain di balik tembok pemisah itu SD PN Timah banyak menerima murid baru.

Kami harus menunggu sampai pukul 11. kalau tidak ada 10 orang murid maka kami tidak jadi sekolah begitulah isi surat keputusan penilik sekolah pusat. Ketika tepat pukul 11 murid ke-10 tak kunjung datang, Pak Harfan sebagai kepala sekolah SD Muhammadiyah Gantong dengan berat hati mulai memberikan sambutan duka. Namun ia tetap berterima kasih kepada para orang tua yang telah mengantar anaknya untuk sekolah di SD tersebut, karena dengan begitu mereka telah membantu menyelamatkan pendidikan di SD Islam tertua dan satu-satunya itu. Sekolah yang tidak hanya menjadikan pelajaran budi pekerti sebagai tuntutan kurikulum tetapi menjadi pedoman hidup yang nantinya akan menjadi ahlakul karimah. Namun karena mengetahui murid tak memenuhi syarat dengan berat hati kelas baru tidak jadi dibuka.

Walau begitu bu Muslimah bersikeras menunggu dan mengatakan akan mencari satu murid lagi, karena ini adalah hari pertama ia jadi guru. Lalu akhirnya murid ke sepuluh datang, anak itu adalah Harun seorang anak istimewa yang menjadi penyelamat kami dan memberi senyuman bahagia bagi bu Mus dan terus menemani hari-hari kami tahun-tahun berikutnya.

(5 tahun kemudian) Siang itu ketika anak-anak lain sedang asyik bermain perosotan dengan pelepah pisang, Ikal berada di tempat lain bersama Borek. Borek memberi tahu Ikal cara untuk membesarkan otot badannya dengan bola tenis, supaya menjadi laki-laki idaman kaum hawa dan ia juga minta dipanggil Samson. Akhirnya Ikal dipaksa Samson dengan menekankan bola tenis itu ke dada Ikal, tapi karena kesakitan Ikal pun berontak dan kabur, lari menghampiri teman-temannya yang pada saat itu sedang berebut giliran bermain. Ketika mengetahui murid-muridnya tidak ada di kelas Bu Mus pun memanggil mereka. Tapi karena panggilannya tidak dihiraukan ia pun meminta pertanggungjawaban Kucai sebagai ketua kelas. Ketika ditegur Kucai mengeluhkan kelakuan teman-temannya yang ia anggap seperti anak setan karena susah diatur. Ia pun mengatakan ingin mengundurkan diri jadi ketua kelas. Namun dengan nasehat bu Mus yang mengatakan menjadi pemimpin merupakan tugas yang mulia, serta peringatan dari Sahara yang mengatakan kepemimpinannya akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat, kekesalan Kucai pun mereda. Akhirnya anak-anak itu pun masuk kelas dengan iming-iming cerita nabi Nuh dari pak Harfan. Saat cerita berlangsung Ikal mendapat kesempatan untuk membalas Samson dengan ejekan ”nda de gunanya otot gede kau Son, kalau kau tak pandai berenang!”

Semalam hujan, karena bocor kelas jadi becek dan dijadikan kandang kambing, anak-anak sibuk membersihkan kelas mereka. Tapi kemudian pak Harfan menyruh bu Mus untuk mengajak mereka belajar di luar, biar yang membersihkan kelas pak Harfan dan pak Bakri. Tapi akhirnya pak Harfan membersihkan kelas itu seorang diri, ia menutupi dinding yang bolong dengan poster Rhoma Irama, menjemur kapur yang basah, menopang sekolah yang sudah mulai doyong dengan 2 batang pohon besar, serta membetulakan kursi/meja yang rusak. Sampai akhirnya datang pak Zulkarnaen, orang yang ikut peduli dengan sekolah itu. Beliau khawatir sekolah yang selama 5 tahun bertahan dengan 10 orang murid itu akan ditutup, karena tidak ada legi murid. Tapi pak Harfan mengatakan tidak usah khawatir, ia akan mempertahankan sekolah ini. Karena di sekolah ini diajarkan agama dan budi pekerti, dan penilaian bukan semata-mata kecerdasan akademik tapi dari kepedulian (hati). Pak Zul pun memiliki rasa kepedulian itu, yang ia dapat dari sekolah sejenis di Yogya. Masalah biaya dan gaji tidak perlu dikhawatirkan, karena itu pak Zul mengatakan akan berusaha membantu dengan memberikan beras untuk guru di sana.

Sementara itu burid-nurid bersama bu Mus bermain di sebuah danau, lalu mereka melihat pelangi yang indah. Lintang dengan kepintarannya menjelaskan pada teman-temannya bagaimana terjadinya pelangi itu hingga menghasilkan cahaya mejikuhibiniu. Ketika itulah bu Mus memanggil kesepuluh murid itu ”Laskar Pelangi”.

Bu Mus menyambung hidupnya dari hasil menjahit, karena tidak ada gaji. Tapi ia tetap mempertahankan sekolah itu. Begitu pula dengan Lintang, ia begitu semangat pergi ke sekolah walaupun setiap hari ia harus mengurus ketiga adik perempuannya ketika sang ayah melaut. Sering pula perjalanannya ke sekolah termbat oleh buaya.

Dalam kelas berhitung hari ini bu Mus mengajari muridnya menghitung menggunakan lidi, sedangkan di SD PN, pak Mahmud mengajari murid-muridnya menghitung dengan kalkulator. Saat itu pula bu Mus menyadari kecerdasan Lintang. Ketika bu Mus mengajukan pertanyaan Lintang menjawab pertanyaan itu dengan cepat dan benar tanpa menggunakan lidi. Dalam hal pergaulan anak-anak itu tidak membeda-bedakan, semuanya sama. Karena itu mereka pun memaklumi keadaan Harun, bahkan Sahara dengan setia selalu mendengarkan cerita Harun tentang kucing belang tiganya. Lain lagi dengan Mahar, anak yang memiliki bakat di bidang seni, ia tidak pernah lepas dari radionya, yang baterainya di carger dengan dijemur di bawah terik matahari.

Kali ini lain dengan tahun-tahun sebelumnya, ulangan SD Muhamadiyah diatukan dengan SD PN sesuai keputusan dati pusat, itulah yang disampaikan pak Harfan. Bu Mus yang mendengarnya kurang setuju, tapi tidak ada yang bisa dilakukan. Pada saat itu pak Hrfan juga berkata agar bu Mus jangan terbebani tanggung jawab terhadap sekolah Muhamadiyah itu karena ayahnya terlihat di foto bersma pak Harfan. Tapi bu Mus sama sekali tidak merasa terbebani, ia mengatakan mimpinya adalah jadi guru bukan menjadi istri saudagar. Tak hanya bu Mus murid-muridnya pun protes, mereak mempersoalkan sendal dan pakaian mereka yang jelek jika dibandingkan dengan anak-anak SD PN yang berseragam. Namun mereka hanya sebatas bisa mengeluh.

Saat ulangan pun tba di sana mereka terasa terasing. Tapi semua berjalan lancar, hanya saja ada guru yan mengejek Harus karena ia hanya menggambar kucing di kertas ulangannya. Bu Mus pun khawatir dengan ulangan Harun, jadi dia akan membuatkan Harun rapot khusus.

Pada suatu siang, seorang murid bernama Flo tanpa ragu menceritakan kisah suku asmat pada beberapa orang anak SD Muhamadiyah. Salah satunya Mahar, karena mereka tertarik akhirnya Flo memberikan majalah tersebut.

Hari ini pak Harfan memberikan pelajaran sejarah islam tentang 313 tentara islam yang mengalahkan ribuan tentara Quraisy bersenjata lengkap. Tentara islam menang karena kekuatan iman, keyakinan serta keberanian. Karena itu kita harus punya keyakinan dan keberanian untuk bercita-cita. Ingat hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya. Begitulah yang disampaikan pak Harfan. Hari ini juga Ikal mendapat tugas membeli kapur ke manggar bersama Lintang. Di sana di toko Sinar Harapan Ikal melihat kuku yang menurutnya paling indah sedunia. Kuku itu milik seorang gadis yang oleh Koko penjual kapur dipanggil Aling. Perjalanan jauh ke manggar tak terasa melelahkan lagi, karena kuku-kuku indah itu. Hingga selanjutnya Ikal akan senang hati jika disuruh membeli kapur.

Sementara itu di ruang kepala sekolah SD Muhamadiyah, pak Bakri menyatakan pengunduran dirinya karena a mendapat tawaran mengajar dari SD N 1 Bangka. Bu Mus kesal pada keputusan pak Bakri, hingga ada sedikit perdebatan di sana. ”Bakri, tuga kite memanglah berat, walaupun dengan muri siki tapi kite punya kewajiban memberi pendidikan pada anak-anak tak mampu ini.” Namun pak Bakri tidak mengubah keputusannya malah mengatakan SD Muhamadiyah sudah tidak dipedulikan orang lagi dan tidak ada yang dapat dibanggakan dari SD yang tidak punya prestasi apa-apa. Orang –orang lebih senang anaknya menjadi kuli mencari nafkah untuk keluarganya ketimbang sekolah. Setelah mendengar perkataan pak Bakri bu Mus langsung pergi tapi kemudian dikejar oleh pak Harfan. Pak Harfan meyakinkan bu Mus, walaupun mereka hanya berdua mereka bisa mempertahankan sekolah itu. Justru mereka harus lebih kerja keras jangan putus asa untuk membuktikan bahwa sekolah islam ini ada dan menunjukkan bahwa anak-anak miskin pun berhak untuk belajar.

Ikal baru tahu kalau ternyata Akiong adalah sepupu Aling. Lalu dia meminta bantuan Akiong untuk bertemu dengan Aling. Mahar bilang Ikal sedang jatuh cinta, dan ia pun menyanyikan sebuah lagu berjudul bunga seroja untuk Ikal. Namun percuma Lintang yang tahu perasaan Ikal mengatakan lagu Mahar tak mempan karena Ikal sedang keracunan kuku. Akhirnya malam minggu Ikal bertemu Aling, ia memberikan puisi-puisi untuk Aling. Alinh menyukai pisinya dan menyalinnya di buku hariannya, maka tambah berbunga-bungalah hati Ikal.

Karnaval 17-an hampir tiba, kali ini SD Muhamadiyah Gantong memutuskan untuk mengikuti karnaval tersebut. Bu Muslimah dan pak Harfan menunjuk Mahar sebagai ketua kelompok, tapi mengingatkan kalau mereka tidak punya dana. Dengan kepercayaan diri yang tinggi Mahar berkata kepada gurunya itu. ”Tenang saja Pak. Serahkan semua pada Mahar dan alam!”

Berhari-hari Mahar mencari ide untuk karnaval itu, ia menabuh gendang dan kadang menari-nari sendiri, berteriak bahkan sering bertengger di pohon. Sampai anak-anak yang lain mengatakan ia sudah gila dan Mus telah salah pilih orang. Sedangkan SD PN sebagai juara bertahan tengah melakukan persiapan dan latihan drumband. Akhirnya siang itu Mahar masuk ke kelas dengan memakai hiasan kepala dari daun dan membawa gendang, lalu menyuruh Ikal buka baju. Tiba hari karnaval murid-murid SD Muhamadiyah berkostum suku Asmat san menampilkan tarian khas sana. Tanpa sepengetahuan yang lain diam-diam Mahar telah menyiapkan senjata rahasia berupa kalung buah aren yang membuat gatal. Sehingga anak-anak yang lain akan menari dengan hebat karena kegatalan. Di luar dugaan penampilan mereka disukai, sampai akhirnya mereka menjadi juara karnaval tahun ini.

Tiba-tiba muncul sekelompok orang yang mencari-cari dan memanggil-manggl Flo. Esoknya Flo pindah ke SD Muhamadiyah. Pembawaannya yang mistis mulai mempengaruhi anak yang lain. Karena itu pula bu Mus merasa khawatir Flo membawa perubahan pada murid-muridnya. Kekhawatirannya terbukti dengan menurunnya nilai mereka terutama Mahar dan Flo, padahal sebentar lagi mereka ujian. Sementara itu Ikal tengah patah hati karena Aling pergi ke Jakarta dengan hanya meninggalkan sebuah kotak untuknya. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut Flo dan Mahar mengajak teman-temannya mengunjungi dukun Tuk Bayan Tula di Pulau Lanun. Tapi hasil yang mereka dapat hanya berupa nasihat, kalau ingin sukses harus berusaha sendri dan rajin belajar.

Hari ini Belitung dan SD Muhamadiyah berduka karena Pak Harfan meninggal dunia. Bunga-bunga berjatuhan dan cuaca mendung hingga akhirnya hujan turun seakan ikut mengantar kepergian kepala sekolah SD Muhamadiyah itu. Setelah Pak Harfan pergi bu Mus tidak mengajar lagi. Namun, laskar pelangi tetap bersekolah dan mereka belajar sendiri. Setelah beberapa hari berkat nasihat pak Zul, bu Mus akhgirnya kembali mengajar dengan semangat baru mereka bangkit kembali.

SD Muhamadiyah akan mengikuti lomba cerdas cermat yang akan menjadi wakil adalah Ikal, Lintang dan Mahar. Mereka berhasil menjadi juara walaupun awalnya Lintang yang datang terlambat telah membuat semua tegang.

Namun setelah peristiwa bersejarah itu Lintang tidak kunjung muncul di sekolah. Setelah berhari-hari tidak ada kabar, akhirnya ada surat dari Lintang yang isinya mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal dan ia akan datang ke sekolah untuk berpamitan dengan teman-teman. Dan hari ini Lintang datang ke sekolah untuk berpamitan Bu Mus dan laskar pelangi yang lain merasa sedih dan kehilangan. Anak secerdas Lintang terpaksa harus berhenti sekolah karena mengemban tanggung jawab terhadap adik-adiknya yang telah yatim piatu.

Beberapa tahun kemudian (Belitung 1999), suasana Belitung sudah berubah, pabrik-pabrik dan penambangan milik PN Timah nampak sudah tidak terawat karena perusahaan tersebut telah bangkrut. Lalu nampaklah Ikal dewasa yang kemudian bertemu kembali dengan Lintang. Mereka bercerita dan mengenang masa kecil, Lintang pun memperlihatkan putrinya kepada Ikal, dan Ikal pun memberi tahu kalau ia mendapat beasiswa ke Prancis. Tak lama setelah itu kartu pos Ikal bergambar menara Eifel sampai ke Lintang dan ia pajang bersama piagam cerdas cermatnya.

Sutradara, tim pendukung produksi yang dipilih cukup kompak dan kompeten di bidangnya. Karena sebelumnya mereka juga pernah bekerja sama dalam film tentang anak-anak seperti ”Petualangan Sherina” dan ”Untuk Rena” dan terlepas dari berbagai kekurangannya film ini cukup sukses di pasaran. Namun pengungkapan ide/gagasan masih terasa ragu-ragu, walaupun mungkin inti cerita tersampaikan tapi gagasan-gagasan pendukung inti cerita tersebut terasa dipaksakan seperti adegan kepergian Aling, Samson yang memberitahu Ikal untuk membesarkan badannya dengan menggunakan bola tenis, atau adegan mereka ketika berkunjung ke Tuk Bayan Tula terasa dipaksakan masuk dalam cerita tapi seperti dikejar durasi untuk meringkasnya. Lalu gambaran bu Mus yang seorang guru SD kurang kuat karena dalam film Bu Mus tidak mengenalkan pelajaran yang rasional, tidak ada tulisan di papan tulis layaknya guru SD hanya ada gambar kapal nabi Nuh ketika Pak Harfan bercerita. Namun sutradara cukup kreatif dalam mengemas ide-ide barat bersamaan dengan dangdutan serta nuansa India ketika Ikal jatuh cinta yang disertai dengan tarian aneh anak-anak laskar pelangi telah membuat tawa penonton terurai. Perbedaan budaya modern dan tradisional juga disisipkan melalui penggunaan kalkulator di SD PN timah sementara di Muhamadiyah hanya menggunakan lidi. Bagaimana pun itu, penyutradaraan telah menghasilkan sesuatu yang segar dengan tema keprihatinan pendidikan di Indonesia. Cerita dan adegan dibuat serelistis mungkin walaupun ada yang terkesan berlebihan dalam bagian Ikal yang masih SD mengalami patah hati yang begitu dan adegan Lintang yang di halau buaya sampai 4x cukup membosankan.

Penulis sekenario, film ini mengusung tema semangat dan keprihatinan pendidikan di Indonesia yang tidak jauh berbeda dengan novelnya. Cerita dimulai dari alur mundur (Ikal dewasa tengah mengenang masa kecilnya di atas sebuah bus). Alurnya lemah dan terlihat tidak fokus, jika temanya ironi pendidikan seharusnya tokoh Lintang lebih disorot. Alur yang lemah ini terlihat dari keragu-raguan sutradara dalam usahanya meringkas cerita tapi malah membuat penonton bingung (adegan Flo hilang di hutan). Karena keraguan itu alhasil adalah cerita yang penuh kebahagiaan setengahnya dan setengahnya lagi (bag akhir) menjadi dramatis. Namun di samping itu sutradar cukup cerdas dalam membeberkan data dalam novel dalam alur yang tidak runut. Kronologis peristiwa di acak tapi tetap menampilkan data dalam novel. Contoh adegan ketika Pak Harfan menempelkan poster Rhoma Irama sebagai tambahan dinding sekolah yang jebol, adegan yang menunjukkan Kucai sebagai ketua kelas, dan permainan perosotan dengan pelepah pisang, tidak runut memang tapi tetap meramaikan cerita.

Dari segi penokohan hanya beberapa tokoh yang kebagian peran yang lainnya figuran sepanjang film. Tentunya Ikal mendapat porsi paling besar lalu disusul porsi Lintang dan Mahar. Akiong, Samson, Kucai, Sahara dan Syahdan hanya pelengkap. Bahkan nama Trapani tidak terdengar sama sekali. Karakterisasi tokoh awalnya kurang meyakinkan terutama 10 anak Belitung ketika masuk SD akting mereka datar, dialognya wajar tapi agak aneh di dengar karena menggunakan dialek dan intonasi melayu. Tapi hal itu justru menjadi ketelitian sutradara untuk membuat cerita seautentik mungkin. Namun laskar pelangi yang sudah besar sudah lumayan. Karena tema yang diambil semangan dan ironi pendidikan konflik utama cerita sebenarnya adalah Lintang.

Penata fotografi, gambar yang dhasilkan benilai artistik dan berteknik seperti bahasa cinta Ikal yang divisualisasikan dengan gaya india modern melalui bunga-bunga yang berjatuhan dan nyanyian Mahar, menjadi sebuah ornamentik. pencahayaan gambar Belitung yang mendung saat Pak Harfan meninggal merupakan salah satu gambar yang sesuai dengan tuntutan cerita, sama juga ketika laskar pelangi hujan-hujanan yang menunjukkan keceriaan mereka. Namun sumbangan tata cahaya belum mampu membangun emosi film secara keseluruhan contohnya saat adegan laskar pelangi mengunjungi Tuk Bayan Tula suasan seram dan angkernya kurang terasa.

Penyuntingan, kelancaran penuturan cerita cukup terjaga dengan tanpa mengurangi esensi cerita. Tapi beberapa bagian tidak tersaji dengan baik misalnya kegigihan Lintang (jauh rumah dan perjuangannya tidak sehebat di novel) dan kayanya pulau Belitung serta kondisi SD Muhamadiyah. Lalu bagian adegan saat Lintang bertemu dengan buaya terlalu berkepanjangan sampai 4x denganadegan dan suasana gambar yang sama sehingga terasa membosankan, karena itu lambat laun  ketegangannya berkurang. Tetpai dinamika adegan melalui susunan gambar dan suara sudah baik, terutama di situasi dramatis ketika meninggalnya Pka Harfan dan suara genderang yang mengiringi semangat Lintang untuk tetap pergi ke sekolah walau tanpa bu Mus ikut menghanyutkan emosi penonton. Transisi adegan secara keseluruhan terasa mulus seperti keterpotongan adegan melalui Harun (laskar pelangi tiba-tiba dewasa melalui Harun.

Penata Artstik, setting yang dihasilkan cukup meyakinkan dan memegang peranan penting dalam membangun emosi dan cerita film. Setting film terasa lebih simbolis, walau keadaan alamnya realistis. Tapi keberadaan SD yang mengkhawatirkan itu terkesan simbolik karena secara gambar hanya ditampilkn satu SD itu saja di tengah lahan yang luas. Lalu keberadaan klenteng dan toko sinar harapan secara tidak langsung menyimbolkan akulturasi kebudayaan melayu-tioghoan yang ada di sana. Setting yang ditampilkan terlihat sederhana (murah malah) tapi setting tersebut dibuat khusus untuk mendukung cerita tentu dengan biaya tambahan. Dalam hal tata artistik seperti kostum dan make up tidak ada yang terlalu menonjol semua sesuai dengan tuntutan cerita dimana mereka hidup dalam kemiskinan.

Penata suara, kualitas suara dak jelas karena menggunakan dialek dan intonasi melayu. Banyak suara yang terpendam sehingga mengurangi pemahaman penonton. Namun tata suara telah ikut memperkuat emosi cerita. Misal suara-suara di luar bingkai gambar seperti suara gagak ikut memeprkuat suasana. Jadi tata suara yang dihasilkan mempengaruhi ritme film secara keseluruhan.

Penata musik, peran dari musik sangat baik. Musiknya tidak terlalu kuat sehingga konsentrasi penonton tidak berpindah kepada musik. Musiknya telah berhasil memperkuat suasan adegan, maupun tokoh. Contoh suara tabuhan genderang selalu mengiringi ketika Lintang berangkat sekolah untuk mencerminkan semangatnya. Hal tersebut juga dilakukan untuk menutupi kelemahan adegan karena penceritaan kegigihan Lintang kurang terangkat dalam cerita. Musik dalam film terasa menyatu terutama dalam suasana dramatis saat meninggalnya Pak Harfan dan saat Lintang harus putus sekolah.

Pemeran, flm ini berisikan aktor-aktris kawakan seperti Slamet Raharo, Ikranegara, Cut Mini, Mathias Muchus, Tora Sudiro, Alex Komang dll yang disandingkan dengan 12 anak asli Belitung. Sutradar cukup pintar dqalam memilih pemeran yang profesional dan anak asli Belitung supaya lebih autentik. Walaupun aktor berpengalaman ada yang berakting kurang meyakinkan seperti Robi Tumewu yang berperan sebagai orang keturunan China tapi pernah terlontar dialek betawinya, lalu Mathias mauchus kurang cocok berperan sebagai ayah Ikal yang bersahaja. Namun ada pemeran yang cukup menjiwai seperti Cut Mini dengan dialek dan intonasi melayunya yang meyakinkan, serta Mahar dengan gaya seniman serta suara nyanyiannya. Pemeran Akiong juga kurang menjiwai, ekspresinya datar sekali (ketika dialog dengan Ikal). Tidak biasanya di sini Tora Sudiro berperan berbeda dari film-film sebelumnya.

Terlepas dari itu semua film ini dpat dikatakan berhasil, karena telah menarik jutaan pnonton dalam waktu yang singkat dan banyak di terima masyarakat luas. Laskar pelangi dapat disebut film pendidikan berjenis melodrama setengah senang (bagian awal) dan setengah sedih (bagian tengah-akhir). Dengan latar asli Belitong serta pemeran asli anak-anak Belitung merupakan salah satu upaya sutradara untuk membuat film yang seautentik munkin. Laskar pelangi adalah film yang jujur tentang kondisi sosial, terutama nasib pendidikan dasar di daerah terpencil. Film ini menyampaikan pada kita bahwa setelah berpuluh-puluh tahun Indonesia merdeka, negeri ini masih menderita.

R4 (REFLECT)

Riri Riza adalah sutradara Indonesia yang menaruh minat pada pembuatan film anak-anak seperti Petualangan Sherina (2000) Untuk Rena (2005) dan Laskar Pelangi yang menampilkan keriangan dan kepolosan jiwa anak denga latar belakang dunia pendidikan dalam lingkungan yang sederhana. Tema film ini mengenai ironi pendidikan, persahabatan dan semangat hidup. Film ini di dukung artis-artis papan atas dan 12 anak asli Belitung. Namun sepertinya walaupun mereka artis-artis besar tapi ada beberapa peran yang kurang meyakinkan seperti Mathias Muchus dengan perangai wajah yang seperti itu rasanya kurang cocok berperan sebagai ayah Ikal yang bersahaja dan pendiam. Robi Tumewu sebagai kokoh malah terasa berdialek kebetawi-betawian. Alex Komang berhasil denga perannya sebagai ayah Lintang yang seorang nelayan dengan karakter tidak banyak bicara. Dan sebagai pemain amatir anak-anak Belitung cukup berhasil Ikal sebagai representasi Andrea, Lintang yang jenius dan Mahar yang seniman. Tapi Flo yang dalam novel berkarakter tomboy dalam film tidak ditemukan sama sekali malah dia menjadi anak yang feminin, mistisnya seh dapet.

Film ini juga mengungkapkan gagasan toleransi dan menghargai perbedaab dimana dalam ke 10 laskar pelangi itu ada Harun yang keterbelakang mentak dan Akiong yang anak keturunan tionghoa tapi mereka tetap rukun. Selain tiu  diperlihatkan juga akulturasi budaya melayu- china dengan adanya klenteng dan ilustrasi musik yang menguatkan budaya china. Terdapat juga perbedaan budaya modern dan tradisional dalam cara belajar melalui penggunaan Kalkulator dan lidi untuk menghitung.

Banyak hal yang tidak terungkap dalam film ini, walau pun sebenarnya tidak apa-apa dihilangkan seperti mengenai ketakutan Ikal menjadi pegawai kantor pos atau mengenai kelompok mistis Societet de Limpai. Hal lain yang patut di puji dalam film ini adalah ketelitiannya terhadap hal-hal yang detail seperti dialek melayu, properti yang sesuai dengan waktu terjadinya cerita (mobil kuno, sepedemotor kuno, plang di PN Timah dengan ejaan lama), kostum, latar, dan pemilihan lokasi syuting sudah mendekati apa yang ada di novel.

Bagaimana pun novel sebagai media tulis dan film sebagai media visual memiliki perbedaan dalam penuangan ekspresi, maka tidak semua bagian film harus dan bisa diterjemahkan ke dalam film. Dalam film ini kita juga diperlihatkan kembali tentang tujuan pendidikan dasar yang tanpa pamrih, tidak seperti sekarang yang semua banyak dinilai oleh materi. Kritim pedas terhapap pemerintah juga disampaikan melalui cerita dimana terlihat pendidikan yang kurang diperhatikan sehingga patut dipertanyakan bagaimana pemerintah membangunrakyatnya?

Film ini bagus ditonton semua kalangan, terutama anak-anak karena mereka akan lebih termotivasi dan memicu gairah belajar mereka dalam menggapai cita-cita. Ini adalah film yang mengingatkan kita akan pentingnya ketulusan hati dan kepedulian terhadap sesama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: