Nomina

NOMINA

a.     Batasan dan Ciri Nomina

Nomina, yang sering juga disebut kata benda, dapat dilihat dari tiga segi yakni segi semantik, segi sintaktis, dan segi bentuk. Dari segi semantic, kita dapat mengatakan bahwa nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian. Dengan demikian, kata seperti guru, kucing, meja, dan kebangsaan adalah nomina. Dari segi sintaktisnya nomina mempunyai cirri-ciri tertentu.

  1. Dalam kalimat yang predikatnya verba, nomina cenderung menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap.
  2. Nomina tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak. Kata pengingkarnya ialah bukan.
  3. Nomina umumnya dapat diikuti oleh adjektiva, baik secara langsung maupun dengan diantarai oleh kata yang.
  4. b. Nomina dari segi perilaku semantisnya

Tiap kata mengandung fitur – fitur semantik yang secara universial melekat pada kata tersebut. Misal kata jeruk, mengandung fitur semantik yang mencakup warna , ukuran, berat, dan bentuk yang bundar.

  1. c. Nomina Dari Segi Perilaku Sintaktisnya

Nomina berfungsi sebagai inti atau poros frasa, nomina menduduki bagian utama, bila pewatas frasa nominal itu berada di muka, pewatas ini umumnya berupa numeralia atau kata tugas. Contoh :

lima lembar

seorang guru

beberapa sopir

Nomina juga digunakan dalam frasa preposisional, nomina bertindak sebagai poros yang didahului preposisi tertentu. Contoh :

Di kantor

Ke desa

Dari markas

Nomina tunggal  maupun bentuk frasa, nomina menduduki posisi subyek, obyek, pelengkap, keterangan.

  1. d. Nomina dari Segi Bentuknya

Dilihat dari segi bentuk morfologisnya, nomina terdiri atas dua macam, yakni (1) nomina yang berbentuk kata dasar dan (2) nomina turunan. Penurunan nomina ini dilakukan dengan (a) afiksasi, (b) perulangan, atau (c) pemajemukan. Secara skematis, nomina bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.

1. Nomina Dasar

Nomina dasar adalah nomina yang hanya terdiri atas satu morfem. Berikut adalah beberapa contoh nomina dasar yang dibagi menjadi nomina dasar umum dan nomina dasar khusus.

a. Nomina Dasar Umum

gambar                                           tahun

meja                                                pisau

b. Nomina Dasar Khusus

adik                                                bawuk

atas                                                 farida

Dalam kelompok nomina dasar khusus dapat kita temukan bermacam-macam subkategori kata dengan beberapa fitur semantiknya.

1. Nomina yang diwakili oleh atas, dalam, bawah, dan muka mengacu pada tempat seperti di atas, di bawah, di dalam.

2. Nomina yang diwakili oleh Pekalongan dan Pontianak mengacu pada nama geografis.

3.Nomina yang diwakili oleh butir dan batang menyatakan penggolongan kata berdasarkan bentuk rupa acuannya secara idiomatic.

4. Nomina yang diwakili oleh Farida dan Bawuk mengacu pada nama diri orang.

5. Nomina yang diwakili oleh paman dan adik mengacu pada orang yang masih mempunyai hubungan kekerabatan.

6. Nomina yang diwakili oleh Selasa dan Kamis mengacu pada nama hari.

2. Nomina Turunan

Nomina dapat diturunkan melalui afiksasi, perulangan, atau pemajemukan. Afiksasi nomina adalah suatu proses pembentukan nomina dengan menambahkan afiks tertentu pada kata dasar. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam penurunan nomina dengan afiksasi adalah bahwa nomina tersebut memiliki sumber penurunan dan sumber ini belum tentu berupa kata dasar. Nomina turunan seperti kebesaran memang diturunkan dari kata dasar besar sebagai sumbernya, tetapi pembesaran tidak diturunkan dari kata dasar yang sama, besar, tetapi dari verba membesarkan.

3. Afiks dalam Penurunan Nomina

Pada dasarnya ada tiga prefiks dan satu sufiks yang dipakai untuk menurunkan nomina, yaitu prefiks ke-, per-, dan peng- serta sufiks –an. Karena prefiks dan sufiks dapat bergabung, seluruhnya ada tujuh macam afiksasi dalam penurunan nomina:

(1) ke-                  (4) –an

(2) per-               (5) peng–an

(3) peng-             (6) per—an

4. Morfofonemik Afiks Nomina

Morfofonemik afiks nomina sama dengan morfofonemik afiks verba. Misalnya, bila dalam verba prefiks meng- berubah menjadi men- waktu ditempelkanpada suku yang dimulai dengan fonem /d/ (meng- + dapat → mendapat), maka hal yang sama juga terjadi pada nomina: peng- berubah menjadi pen- bila diikuti /d/ (peng- + datang → pendatang).

  1. e. Morfologi dan Semantik Nomina Turunan

Kata dasar tertentu dapat langsung menjadi nomina dengan memakai afiks tertentu, yang menyatakan orang yang atau alat untuk (verba). Berikut adalah penurunan nomina dengan berbagai afiks.

  1. Penurunan Nomina dengan ke –

Yang dapat disebutkan ialah ketua, kehendak, kekasih, dan kerangka.

Ada banyak nama tumbuhan dan binatang yang dimulai dengan  ke- misalnya kelapa,kemiri,dan kepiting.

  1. Penurunan nomina dengan pel-, per-, dan pe-.

Nomina yang di turunkan dengan perl- hanya terbatas dengan satu kata dasar. Contoh: ajar yang menurunkan nomina pelajar.

Nomina yang di turunkan dengan fungsi predikat.per- itu banyak, karena nomina dengan per- berkaitan erat dengan verba yang berafiks ber-. Namun, dalam pertumbuhannya banyak nomina per- yang tidak lagi mempertahankan / r /- nya sehingga hanya muncul dengan pe- saja. Yang masih mempertahankan adalah pertapa                  bertapa

Nomina lain yang berkaitan dengan verba ber- tetapi muncul dengan bentuk pe-. Misalnya petani bertani

  1. PenurunanNomina dengan peng-

Alomorf pem-, pen-, peny-, pe-, peng- dan penge- sangat produktif dalam bahasa kita. Sumber untuk penurunan ini adalah verba atau adjektiva. contoh penyanyi : orang profesinya menyanyi.

Pengawas : orang yang mengawasi

Penakut : orang yang sifatnya mudah takut

Penggali : alat untuk atau oaring yang menggali

  1. Penurunan nomina dengan – an

Umumnya di turunkan dari sumber verba walaupun kata dasarnya adalah kelas kata lain. Arti umum yang dinyatakan oleh nomina dengan – an, ialah ‘ hasil tindakan , atau sesuatau yang dinyatakan oleh verba’. Contoh :

anjuran : hasil menganjurkan atau sesuatu yang di anjurkan

kiriman : hasil mengirim atau sesuatu yang dikirimkan

Disamping makna di atas ada juga nomina dengan –an yang berkaitan dengan makna lokasi. Contoh :

Tepian : tempat menepi

Awalan : yang ditempatkan di awal

  1. Penurunan nomina dengan peng-an

Pada umumnya peng-an diturunkan dari verba dengan meng- yang berstatus transitif. Apabila ada dua verba dengan kata dasar yang sama dan salah satu verba ini berstatus transitif , sedangkan yang lain berstatus taktransitif maka verba transitiflah yang menjadi sumber penurunan nomina dengan peng-an. Misalnya dalam bahasa Indonesia kita menemukan verba bersatu dan menyatukan. Nomina penyatuan tidak di turunkan dari verba taktransitif bersatu tetapi dari verba transitif menyatukan. Kesimpulan ini di ambil Karen 1. Adanya keterkaitan makna antara peyatuan dan menyatukan, yakni bahwa penyatuan adalah suatu perbuatan menyatukan.

2. Nominaliasai ini mempunyai keselarasan sintaksis

Penurunan nomina dengan peng- an sangat produktif, sehingga boleh di katakan setiap ada verba transitif pasti dapat di turunkan menjadi nomina peng-an. Keproduktifan proses ini bisa juga memunculkan nomina yang belum lazim di pakai, tetapi penutur asli dapat menerka dengan tepat apa makna bentukan ini. Misal kita memiliki adjektiva hitam dan verba menghitamkan. Seperti halnya dengan nomina peng-, nomina dengan peng-an juga mempunyai alomorf  : peng-an, pen-an, pem-an, penge-an, meny-an, pe-an.

  1. Penurunan Nomina dengan per-an

Nomina ini diturunkan dari verba, tetapi umumnya dari verba taktransitif dan berawalan ber-. Contoh :

Perjanjian ← Berjanji

Pergerakan← Bergerak

Melihat keajekan korelasi bentuk nomina per-an dengan verba ber-, nomina perlawanan dan permintaan. Mungkin berkaitan dengan verba masa dahulu berlawanan dan berminta, tetapi kini orang lebih menkaitkannya dengan verba melawan dan meminta.

Makna umum nomina dengan per-an adalah

  1. hal, keadaan, atau hasil yang dinyatakan oleh verba ( Contoh : pergerakan – hal atau keadaan bergerak )
  2. perbuatan yang dinyatakan oleh verba ( Contoh : perkelahian – perbuatan berkelahi )
  3. hal yang berkaitan dengan kata dasar ( Contoh : perikanan – yang berkaitan dengan ikan )
  4. tempat yang dirujuk oleh verba atau kata dasar ( Contoh : perkotaan – tempat mendirikan kota / berkota )

Disamping kedua cara ini adapula nomina yang diturunkan dengan pe-an seperti pegunungan dan pedesaan. Dalam kasus lain, bentuk peng-an bersaing dengan bentuk per-an tanpa ada perbedaan makna

g.. Penurunan nomina dengan ke-an

Nomina ini diturunkan dari sumber verba, adjektiva, atau nomina. Makna nomina ini bergantung pada nomina yang di pakai. Contoh :

Kepergian – hal yang berhubungan dengan pergi

Kehadiran – hal yang berhubungan dengan hadir

Sama halnya ke-an dengan verba, ke-an dengan adjektiva juga bermakna “hal atau keadaan yang berhubungan dengan yang dinyatakan adjektiva”.

Contoh : kekosongan – keadaan kosong

Keberanian – keadaan berani

Bila sumbernya adalah nomina, maknanya merujuk pada: (a) keabstrakan atau (b) kantor atau wilayah kekuasaan. Cirri keabstrakan ni sebenarnya terdapat juga pada ke-an dengan adjektiva. Contoh : kebangsaan – hal mengenai bangsa

h.. Kontras antarnomina

Karena kata dasar dapat diberi afiks yang berbeda-beda, banyak nomina perlu benar-benar mempertimbangkan perbedaan bentuk dan maknanya. Contoh : Penyerahan – perbuatan menyerahkan

Dari contoh di atas tampak bahwa beberapa nomina dengan dasar yang sama dalam bahasa kita menimbulkan makna yang berbeda-beda. Karena makna sufiks –an adalah hasil yang dinyatakan verba (lukisan, “hasil lukisan” ) maka hasil menyerahkan harusnya adalah serahan. Tidak muncuknya suatu bentuk yang potensial dpat juga karena adanya bentuk lain yang kebetulan telah dipakai di dalam masyarakat.

  1. i.      Nomina dengan dasar Polimorfemis

Ada dua kelompok kata turunan yang waktu diturunkan menjadi nomina tidak menanggalkan prefiksnya, tetapi menjadi sumber bagi pengimbuhan yang lebih lanjut. Contoh :

berangkat        keberangkatan                        pemberangkatan       –

  1. Penurunan nomina dengan –el-, -er-, -em-, dan -in-.

Penurunan nomina dengan memakai infiks, yakni imbuhan yang disisipkan, tidaklah produktif lagi. Contoh : tunjuk – telunjuk, sambut – serambut, kuning – kemuning, kerja – kinerja.

  1. Penurunan nomina dengan –wan/-wati

Nomina dengan afiks –wan/–wait mengacu kepada (a) orang yang ahli dalam bidang tertentu, (b) orang yang mata pencaharian atau pekerjaannya  dalam bidang tertentu. Pada masa lampau alomorf –wan diletakkanpada dasar yang  berakhir dengan fonem /i/, seperti terlihat pada kata budiman dan seniman.

Alomorf –wati dipaki untuk mengacu pada perempuan. Misalnya : karyawati, karyawan . kaidah untuk menentukan bentuk mana yang dipakai bersifat idiomatis.

  1. Penurunan nomina dengan –at/ -in dan –a/ -i

Nomina ini diturunkan sufiks –at/ -in yang maknanya berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin atau jumlah. Contoh :

Muslim         muslimat         muslimin

  1. Penurunan nomina dengan –isme, -(is)asi, -logi, dan –tas

Nomina ini dipungut dari bahasa asing, ;ambat laun menjadi produktif sehingga dianggap layak. Contoh :

Komunisme             sukuisme

NUMERALIA

Numeralia atau kata bilangan adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya wujud (orang, binatang, atau barang) dan konsep. Frasa seperti lima hari, setengah abad, orang ketiga, dan beberapa masalah mengandung numeralia, yakni masing-masing, lima, setengah,ketiga, dan beberapa.

Ada dua macam numeralia: (1) numeralia pokok, yang memberi jawab atas pertanyaan “Berapa?” dan (2) numeralia tingkat yang memberi jawab atas pertanyaan “Yang keberapa?”. Numeralia pokok juga disebut numeralia cardinal, sedangkan numeralia tingkat disebut pula numeralia ordinal.

a. Numeralia Pokok

Numeralia pokok adalah bilangan dasar yang menjadi sumber dari bilangan-bilangan yang lain. Numeralia pokok terbagi menjadi numeralia:

  1. 1. Numeralia Pokok Tentu

Numeralia pokok tentu mengacu pada bilangan pokok, yakni:

0         –         nol                 5          –           lima

1         –         satu                6          –           enam

2         –         dua                7          –           tujuh

3         –         tiga                8          –           delapan

4         –         empat                        9          –           sembilan

Di samping numeralia di atas, ada pula numeralia lain yang merupakan gugus. Untuk bilangan di antara sepuluh dan dua puluh dipakai gugus yang berkomponen belas.

  1. 2. Numeralia Pokok Kolektif

Numeralia pokok kolektif dibentuk dengan prefiks ke- yang ditempatkan di muka nomina yang diterangkan.

Jika tidak diikuti oleh nomina, biasanya bentuk itu diulang dan dilengkapi dengan –nya.

Numeralia kolektif dapat dibentuk juga dengan cara berikut.

a. Penambahan prefiks ber- atau kadang-kadang se- pada nomina tertentu setelah numeralia.

b. Penambahan prefiks ber- pada numeralia pokok dan hasilnya diletakkan sesudah pronomina persona kamu, kami, kita, atau mereka.

c. Pemakaian numeralia yang berafiks ber- dan yang diulang.

d. Pemakaian gugus numeralia yang bersufiks –an.

3. Numeralia Pokok Distributif

Numeralia pokok distributive dapat dibentuk dengan cara mengulang kata bilangan. Artinya ialah (1) ‘…demi…’, (2) ‘masing-masing’.

Kata (se)tiap, tiap-tiap, dan masing-masing termasuk numeralia distributive juga. (se)tiap atau tiap-tiap mempunyai arti yang sangat mirip dengan masing-masing, tetapi kata masing-masing dapat berdiri sendiri tanpa nomina, sedangkan (se)tiap dan tiap-tiap tidak.

4. Numeralia Pokok Tertentu

Numeralia pokok tertentu mengacu pada jumlah yang tidak pasti dan sebagian besar numeralia ini tidak dapat  menjadi jawaban atas pertanyaan yang memakai kata tanya berapa. Yang termasuk ke dalam numeralia tertentu adalah banyak, berbagai, pelbagai, semua, seluruh, segala, dan segenap. Numeralia pokok tertentu ditempatkan di muka nomina yang diterangkannya.

5. Numeralia Pokok Klitika

Di samping numeralia pokok yang telah disebutkan, ada pula numeralia lain yang dipungut dari bahasa Jawa Kuna, tetapi numeralia itu umumnya berbentuk proklitika. Jadi, numeralia macam itu dilekatkan di muka nomina yang bersangkutan.

6. Numeralia Ukuran

Bahasa Indonesia mengenal pula beberapa nomina yang menyatakan ukuran, baik yang berkaitan dengan berat, panjang-pendek, maupun jumlah. Misalnya, lusin, kode, meter, liter, atau gram. Nomina ini dapat didahului oleh numeralia sehingga terciptalah numeralia gabungan.

b. Numeralia Tingkat

Numeralia pokok dapat diubah menjadi numeralia tingkat. Cara mengubahnya adalah dengan menambahkan ke- di muka bilangan yang bersangkutan. Khusus untuk bilangan satu dipakai pula istilah pertama.

c. Numeralia Pecahan

Tiap bilangan pokok dapat dipecah menjadi bagian yang lebih kecil yang dinamakan numeralia pecahan. Cara membentuk numeralia itu ialah dengan memakai kata per- di antara bilangan pembagi dan penyebut. Dalam bentuk huruf, per- ditempelkan pada bilangan yang mengikutinya. Dalam bentuk angka, dipakai garis yang memisahkan kedua bilangan itu.

d. Frasa Numeralia

Umumnya, frasa numeralia dibentuk dengan menambahkan kata penggolong. Contoh:

Dua ekor (kerbau)

Lima orang (penjahat)

Tiga buah (rumah)

Sumber : Buku Tata Bahasa Baku Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: